Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 03 JULI 2025 • 11:59 WIB

True Crime Bukan Sekedar Voyeurisme dan Glorifikasi Si Kriminal, Tapi Juga Restorasi Keadilan

True Crime Bukan Sekedar Voyeurisme dan Glorifikasi Si Kriminal, Tapi Juga Restorasi KeadilanIlustrasi True Crime. (Freepik)

INDOZONE.ID - Rubrik X-Filez di kanal Fakta dan Mitos (Fadami) Indozone ini banyak mengisahkan kasus-kasus pembunuhan nyata atau yang biasa disebut sebagai true crime. Sebuah genre yang ditujukan buat mereka yang mencari tahu tentang kisah sejarah para pelaku kejahatan dan kejahatan tak terungkap dan lainnya.

Banyak yang membacanya karena memang suka dengan hal tersebut, penasaran dengan misterinya, atau buat yang ingin mempelajari kasusnya. Beberapa dari mereka mungkin yang menjadikannya sebagai kenikmatan dan entertaining, bahkan tak jarang meromantisasi pelaku kejahatan, seolah mereka mengagumi Ted Bundy atau Zodiac Killer itu jenius.

Hal itulah yang dikritisi oleh penulis Caroline Fraser, penulis pemenang Pulitzer Prize asal Amerika yang baru merilis buku true crime terbaru berjudul "Murderland: Crime and Bloodlust in the Time of Serial Killers."

Baca juga: Jane Toppan: Kisah Nyata Perawat yang Menjadi Pembunuh Berantai

Dalam buku tersebut, Caroline Fraser menyajikan sebuah pandangan yang kompleks dan mendalam tentang genre true crime dan fenomena pembunuh berantai, khususnya di Amerika Serikat.

Fraser memulai dengan menyoroti bagaimana genre true crime awalnya mendapat cap sebagai "guilty pleasure", atau hiburan murahan yang bersifat voyeuristik. Ia mengkritik bagaimana genre ini dulunya sering menampilkan narasi kekerasan dengan cara yang sensasional dan misoginis: menggambarkan perempuan sebagai "pelacur, perayu, atau korban naif" dalam dunia penuh kekerasan laki-laki. 

True Crime Bukan Sekedar Voyeurisme dan Glorifikasi Si Kriminal, Tapi Juga Restorasi KeadilanCaroline Fraser dan bukunya Murderland: Crime and Bloodlust in the Time of Serial Killers. (Youtube)

Karya-karya seperti ini, menurut Fraser, tidak hanya merendahkan korban tetapi juga memperkuat budaya kekerasan seksual.

Namun, ia melihat adanya pergeseran besar dalam dekade terakhir. Banyak penulis dan kreator konten—terutama perempuan—telah mengambil alih narasi true crime dan menggunakannya untuk mengeksplorasi keadilan yang tertunda, pelanggaran sistemik, dan hak-hak korban. 

Buku seperti I’ll Be Gone in the Dark oleh Michelle McNamara dan Highway of Tears oleh Jessica McDiarmid menurutnya adalah contoh nyata genre ini yang kini digunakan untuk memperbaiki catatan sejarah kekerasan seksual dan memberi suara kepada korban, bukan sekadar eksploitasi ketakutan publik.

Dalam Murderland, Fraser memperluas wacananya ke penyebab sosial dan lingkungan dari epidemi pembunuh berantai, terutama di Pacific Northwest (Wilayah Barat Laut Amerika). Ia mempertanyakan: Mengapa begitu banyak pembunuh berantai berasal dari sekitar Seattle dan Tacoma? 

Baca juga: Kisah Pembunuh Berantai 'Twitter Killer' di Jepang yang Akhirnya Dieksekusi Mati

Jawaban yang ia tawarkan bukan hanya soal psikologi individu, tetapi kerusakan lingkungan akibat industrialisasi.

Ia menyebut bahwa kota-kota seperti Tacoma menjadi pusat industri peleburan logam (smelter) yang mencemari udara dan air dengan logam berat seperti timbal dan arsenik. Fraser menyebut bahwa anak-anak yang tumbuh dalam "plume" pencemaran ini mengalami paparan racun dalam kadar tinggi, yang berkontribusi terhadap gangguan perkembangan otak, agresivitas, dan kecenderungan kriminal. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: The New Yorker

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

True Crime Bukan Sekedar Voyeurisme dan Glorifikasi Si Kriminal, Tapi Juga Restorasi Keadilan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!