Jane Toppan: Kisah Nyata Perawat yang Menjadi Pembunuh Berantai (medium.com)
INDOZONE.ID - Begitu mendengar kata "perawat", yang terbayang biasanya sosok lembut, penuh empati, dan selalu siap merawat orang dengan tulus.
Tapi kisah nyata Jane Toppan justru berbanding terbalik dengan semua bayangan itu. Ia dikenal sebagai salah satu pembunuh berantai paling mengerikan dalam sejarah Amerika.
Bukan hanya membunuh secara diam-diam, Jane juga menikmati proses kematian korbannya. Ia pernah mengaku senang melihat seorang pasien di bawah perawatannya sekarat.
Siapa sebenarnya Jane Toppan? Bagaimana seorang perawat bisa berubah jadi pembunuh berantai yang dingin dan sadis?
Jane Toppan sebenarnya lahir dengan nama Honora Kelley pada tahun 1857, di Boston. Hidupnya sejak kecil sudah berat. Ibunya meninggal karena sakit, dan ayahnya dikenal sebagai orang yang kasar.
Karena nggak sanggup mengurus anak-anaknya, ayah Jane akhirnya menitipkan Jane dan saudara-saudaranya ke panti asuhan. Di sana, Jane kemudian diadopsi oleh keluarga Toppan dan namanya pun diganti jadi Jane Toppan.
Dari luar, hidupnya mungkin terlihat membaik. Tapi luka masa kecil itu nggak pernah benar-benar sembuh. Dan itu jadi salah satu latar belakang kenapa dia bisa berubah seperti nanti.
Baca juga: Kisah Pembunuh Berantai 'Twitter Killer' di Jepang yang Akhirnya Dieksekusi Mati
ilustrasi rumah sakit dimana Jane pembunuh korbannya (medium.com)
Jane memulai pelatihan sebagai perawat di Cambridge Hospital pada tahun 1885. Di mata banyak orang, ia terlihat cerdas, rajin, dan ramah kepada pasien. Tapi di balik semua itu, dia mulai bereksperimen diam-diam pada pasiennya.
Jane suka mencampurkan obat-obatan seperti morfin dan atropin, lalu menyuntikkannya ke pasien. Ia akan memperhatikan bagaimana tubuh pasien bereaksi, kadang memperlambat detak jantung, lalu mati secara perlahan.
Lebih mengerikannya lagi, Jane tidak membunuh karena marah atau sakit hati. Ia membunuh karena senang melihat orang meninggal. Ia bahkan suka duduk di samping pasien, memeluk mereka, sambil melihat mereka pelan-pelan kehilangan nyawa.
Setelah menyelesaikan pelatihan, Jane bekerja di berbagai rumah sakit dan sebagai perawat pribadi. Di sinilah korban-korbannya bertambah banyak. Ia membunuh:
Yang bikin makin sedih, semua orang itu mempercayainya. Mereka nggak pernah menyangka kalau orang yang mereka anggap bisa merawat mereka, justru jadi alasan mereka kehilangan nyawa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medium.com