Simbol Freemason di Museum Taman Prasasti di Jakarta (INDOZONE/M Fadli)
INDOZONE.ID - Simbol jangka dan penggaris segitiga yang identik dengan Freemason dan Kaballah terlihat jelas di salah satu relief makam tua di Museum Taman Prasasti, Jakarta Pusat.
Pantauan Indozone yang mengunjungi lokasi, lambang itu terukir di bagian bawah prasasti batu peninggalan era kolonial Belanda dan beberapa makam khusus lainnya.
Bagi sebagian orang, simbol tersebut hanyalah ornamen klasik Eropa. Namun bagi peneliti sejarah dan pemburu misteri, lambang itu dianggap sebagai jejak keberadaan organisasi rahasia Freemasonry di Hindia Belanda pada masa lampau.
Museum Taman Prasasti sendiri merupakan bekas kompleks pemakaman Kebon Jahe Kober yang dibangun sejak tahun 1795. Tempat ini menjadi lokasi pemakaman para pejabat, tentara, bangsawan, dan tokoh penting Belanda pada masa kolonial.
Baca juga: Misteri Kematian Kartini, Diduga Dibunuh karena Berhubungan dengan Freemason
Hingga kini, area museum masih dipenuhi batu nisan besar dengan ukiran khas Eropa yang menyimpan banyak simbol unik dan penuh teka-teki.
Di antara puluhan makam kuno tersebut, ada dua prasasti yang paling sering dikaitkan dengan simbol-simbol misterius dan teori tentang pengaruh Freemasonry di Batavia tempo dulu.
Simbol Freemason 'Jangka dan Mistar' di Museum Taman Prasasti di Jakarta (INDOZONE/M Fadli)
Salah satu makam yang paling menyita perhatian adalah milik Lodewyk Schneider, seorang mayor kavaleri Belanda dari Resimen Hussar No. 7. Ia lahir di Nijmegen, Belanda, pada 17 Oktober 1788 dan meninggal di Rijswijk pada 21 Agustus 1820.
Prasasti makam Schneider terlihat menjulang di antara relief batu lainnya. Sekilas bentuknya tampak sama seperti makam kolonial lain di area museum. Namun jika diperhatikan lebih dekat, terdapat simbol jangka dan penggaris segitiga dalam posisi terbalik pada bagian bawah relief.
Simbol itu identik dengan lambang Freemasonry, organisasi persaudaraan tertua di dunia yang sering dikaitkan dengan berbagai teori konspirasi dan kelompok elite global. Freemasonry sendiri diketahui berkembang pesat di Eropa sejak abad ke-18 dan memiliki anggota dari kalangan pejabat, militer, ilmuwan, hingga bangsawan.
Keberadaan simbol tersebut di makam seorang perwira Belanda memunculkan dugaan bahwa organisasi itu pernah memiliki pengaruh di Hindia Belanda. Beberapa peneliti sejarah menyebut Freemasonry memang pernah berkembang di Batavia pada masa kolonial melalui kelompok elite Eropa yang tinggal di wilayah tersebut.
Selain makam Schneider, perhatian pengunjung juga tertuju pada makam Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler, perwira Belanda penganut Yahudi-Kaballah yang tewas saat memimpin serangan militer ke Aceh pada tahun 1873.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan, Facebook