INDOZONE.ID - Indonesia merupakan sebuah negara yang kaya akan warisan dan juga budaya dari nenek moyang yang tersebar di seluruh penjuru daerah yang ada di Indonesia.
Salah satunya yaitu, tradisi Jembul yang ada di desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Awal mula adanya tradisi ini, yaitu pada suatu malam ada warga desa yang berjumlah delapan orang ini bermimpi secara bersamaan, pada malam Jumat Wage.
Mereka bermimpi bahwa Ratu kalinyamat meminta kepada mereka untuk mencari tempat pertapaannya, dan disuruh untuk merawat sebaik-baiknya.
Baca Juga: Alami Teror Mistis di Tol Cipularang, Sopir Truk Distop Sosok Perempuan di KM 97
Pemimpin desa saat itu yang bernama Ki Demang Barata ini menganjurkan para warga desa ini untuk meminta petunjuk kepada Kyai Kasbullah dari Kademangan Kajen, pati.
Atas arahan beliau, warga desa ini melakukan tirakat untuk mencari petunjuk di mana tempat pertapaan Ratu Kalinyamat tersebut.
Tempat pertapaannya ini ditemukan di Dukuh Sonder yang dimana tempat ini terdapat dua buah bumbung yang berisikan tentang kisah pertapaan Ratu Kalinyamat dan juga Bondholan rambut yang sangat panjang.
Mulai saat itu setiap hari Senin Pahing bulan Apit (Dzulqadah) dilaksanakan acara syukuran yang kemudian saat ini dikenal dengan sedekah bumi.
Baca Juga: 5 Arti Mimpi Melihat Uang Banyak Menurut Primbon Jawa, Pertanda Rezeki atau Petaka?
Tradisi Jembul Tulakan ini dilakukan oleh warga masyarakat sebagai rasa syukur terhadap Tuhan dan untuk mengenang para jasa leluhur pada zaman dahulu, dan juga sebagai sarana sosialisasi untuk pengukuhan nilai-nilai yang sudah ada di kehidupan sehari-hari.
Tradisi Jembul Tulakan ini memiliki banyak makna simbolik yang diantaranya yaitu, yang pertama ada Simbol persaudaraan dan kebersamaan serta keikhlasan yang terdapat dalam persiapan pada saat akan terlaksananya ritual.
Simbol kebersamaan juga terkandung di dalam tradisi Jembul Tulakan ini berlangsung pada saat warga masyarakat dengan bersama memikul bangunan bangunan Jembul Tulakan dan mengaraknya secara bersama-sama.
Yang kedua ada simbol Penghormatan dan Kedudukan yang terdapat pada saat prosesi mencuci kaki kepala desa atau petinggi.
Pada saat tradisi ini berlangsung prosesi yang pertama dilakukan yaitu, mencuci kaki petinggi atau kepala desa yang dilakukan oleh warga masyarakat. Hal ini menyimbolkan rasa Hormat kepada ketua mereka.
Yang ketiga yaitu, simbol Keyakinan dan Kepercayaan yang terkandung pada saat prosesi pembacaan doa-doa yang ada pada saat tradisi Jembul berlangsung.
Yang keempat ada simbol permohonan izin yang di mana masyarakat memberi sesaji pada saat acara manganan yang ada di punden (tempat pertapaan ratu kalinyamat).
Tradisi Jembul tulakan (sedekah bumi) sampai saat ini masih dilakukan oleh warga masyarakat Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara.
Tradisi yang dilaksanakan pada Senin Pahing bulan Apit (Dzulqadah) ini dijadikan sebagai rasa ungkapan syukur terhadap Tuhan yang Maha Esa atas rezeki yang telah diberikan kepada warga Desa Tulakan, dan dijadikan sebagai sarana tolak bala.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, Dan Informasi