INDOZONE.ID - Masyarakat Jepang memiliki kepercayaan kepada dewa-dewa, salah satunya adalah kepercayaan kepada Shichi Fukujin yang disebut juga sebagai tujuh dewa keberuntungan.
Alkisah pada zaman dahulu kala seorang pendeta Tenkai, yang mendirikan kuil Buddha Toeizan Kan’eiji dan penasihat Tokugawa Ieyasu, menyatakan tujuh keutamaan untuk seorang pemimpin negara adalah umur panjang, kemakmuran, popularitas, integritas, martabat, kebaikan, dan kemurahan hati.
Tujuh kebajikan ini menjadi berkembang luas dalam masyarakat Jepang dan akhirnya menciptakan suatu kepercayaan yang menganggap bahawa tujuh kebajikan ini adalah pemberian berkah dari tujuh dewa keberuntungan.
Tujuh dewa keberuntungan menjadi sebuah kepercayaan, identitas, budaya, dan pedoman hidup bagi masyarakat Jepang.
Baca juga: Mengenal Asal-Usul Tradisi Iriban Lerep: Warisan Leluhur untuk Menjaga Sumber Mata Air
Cerita tentang ketujuh dewa itu selalu diceritakan dari masa ke masa. Hingga sekarang pemujaan kepada ketujuh dewa itu masih dilakukan.
Orang-orang membuat dan mengunjungi kuil untuk melakukan permohonan. Setiap dewa memiliki kuil masing-masing.
Oleh karena itu pada saat tahun baru orang-orang akan mengunjungi tujuh kuil yang berbeda untuk memohon pemberian kemakmuran dan keberuntungan.
Dapat dikatakan bahwa Kepercayaan kepada ketujuh dewa tidak pernah memudar dalam benak masyarakat Jepang. Simak uraian mengenai tujuh dewa tersebut.
Baca juga: Kesalahan Besar Yudhistira yang Jadi Titik Balik Epos Mahabharata
1. Ebisu
Bagi masyarakat Jepang Ebisu adalah dewa keberuntungan untuk para pedagang, nelayan, dan pengusaha.
Dewa ini dikisahkan sebagai anak dari Izanami dan Izanagi yang dikenal sebagai pencipta pulau dan bangsa Jepang. Pada awalnya nama Ebisu adalah Hiruko no Mikoto. Dia terlahir dengan cacat pada kedua belah kakinya.
Ebisu dihanyutkan oleh orang tuanya ke laut dengan menggunakan perahu yang terbuat dari alang-alang. Perahu yang membawa Ebisu terhanyut mengikuti arus laut dan membawanya berlabuh di Nishinomiya, Hyogo.
Baca juga: Ajian Lebur Saketi: Ilmu Pukulan Jarak Jauh yang Bikin Makhluk Gaib Gak Berkutik
Ebisu memiliki arti “orang datang dari laut seberang”. Karena itulah Ebisu dan lautan menjadi sebuah kaitan yang erat hingga membuatnya diabadikan sebagai dewa keberuntungan untuk nelayan.
Dalam penampilannya, Ebisu membawa sebuah tali dan alat pancing di tangan kanannya, menggandeng seekor ikan dalam dekapan lengan kirinya, memiliki bentuk kaki yang tak sempurna, serta tonjolan ke depan di bagian perut membuatnya menjadi pria dengan perawakan yang gemuk.
Salah satu kuil Ebisu terletak di Tokyo yang dinamakan sebagai kuil Asakusa, dan salah satu patungnya berada di Kyoto.
Perayaan untuk dewa Ebisu dilaksanakan pada tanggal 9 Januari yang dinamakan Yoi Ebisu yang artinya malam Ebisu, pada tanggal 10 Januari yang dinamakan Toka Ebisu yang artinya Ebisu tanggal 10, dan berakhir pada 11 Januari yang dinamakan Nokori Fuku yang memiliki arti keberuntungan yang ada.
Baca juga: Ajian Sirep: Ilmu Sakti yang Bisa Bikin Satu Rumah Tertidur Pulas
2. Daikokuten
Daikokuten dianggap sebagai dewa kekayaan dan kemakmuran. Selain itu dewa ini juga dianggap sebagai pengatur hasil panen.
Dikatakan bahwa Daikokuten adalah hasil pembaruan atau adaptasi dari dewa kehancuran dalam kepercayaan Hindu yaitu dewa Siwa.
Nama Daikokuten diambil dari nama lain dewa Siwa yaitu Mahakala. “Maha” memiliki arti besar dan “kala” gelap.
Lalu “dai” artinya besar, “koku” hitam, serta “ten” yang artinya dewa. Karena itu nama Daikokuten adalah nama Mahakala yang diubah ke bahasa Jepang. Daikokuten merupakan dewa dengan tubuh yang pendek, memiliki janggut dan berkaki kecil.
Selain itu diceritakan juga bahwa Daikokuten membawa sebuah palu emas yang dinamakan Uchide no Kozuchi yang jika palu itu diayunkan maka semua keinginan akan terwujudkan. Kuil dewa ini dinamakan kuil Sensoji yang terletak di Tokyo distrik Asakusa.
Baca juga: Ajian Sirep: Ilmu Sakti yang Bisa Bikin Satu Rumah Tertidur Pulas
3. Benzaiten
Dalam kepercayaan Hindu ada dewi yang bernama dewi Saraswati. Dewi Saraswati adalah dewi yang melambangkan sungai dan air dan namanya memiliki arti mengalir.
Benzaiten adalah nama Saraswati yang diubah ke dalam bahasa Jepang. Namanya terdiri dari tiga kata “ben” artinya kelopak, “zai” kekayaan, dan “ten” yang artinya dewa dan terkadang nama Benzaiten dibaca Benten.
Benzaiten adalah seorang wanita satu-satunya diantar tujuh dewa keberuntungan.
Benzaiten ialah dewi yang melambangkan seni, musik, dan pengetahuan. Masyarakat Jepang meminta permohonan kepada Benzaiten untuk melimpahkan kemudahan finansial.
Benzaiten digambarkan sebagai seorang wanita yang membawa sebuah kecapi. Kuilnya terletak di teluk Sagami di pulau Enogashima, di danau Biwa yang terletak di pulau Chikubu, serta di pulau Itsukushima.
Baca juga: Ajian Condro Sumo: Ilmu Kebal Ksatria Jawa Kuno yang Mirip dengan Ilmu Bhisma di Mahabharata
4. Bishamonten
Bishamonten diyakini masyarakat Jepang sebagai dewa perang. Bishamonten memiliki nama lainnya yaitu Vaisvrana yang berasal dari dewa kekayaan Hindu yaitu kubera.
Masyarakat Jepang menyakini Bishamonten sebagai dewa perang lantaran mereka melakukan permohonan kepada Bishamonten saat akan turun pergi ke medan perang untuk mendapatkan perlindungan dan kemenangan.
Salah satu Daimyo terkenal di Jepang yaitu Uesugi Kenshin, yang menguasai wilayah Echigo, merupakan pengikut setia Bishamonten.
Ketika hendak menuju medan tempur Kenshin akan selalu melakukan ritual pemujaan kepada dewa perang.
Baca juga: Ajian Dasendria: Ilmu Langka Prabu Angling Dharma yang Konon Gabungan 10 Indra Sakti
Selain dianggap dewa perang Bishamonten juga dianggap sebagai dewa pelindung yang memberantas roh-roh jahat, setan dan iblis.
Di Tiongkok dia dianggap sebagai empat raja surgawi yang melindungi empat arah dunia. Dari empat arah dunia Bishamonten melindungi dan menjaga bagian Utara dan digelari sebagai Raja Utara yang menjaga bagian Tiongkok Utara.
Perawakan Bishamonten sebagai dewa perang dan pelindung memiliki wajah yang gahar, memegang sebuah tombak untuk menumpas kejahatan di tangan kanannya, memakai zirah, dan memegang sebuah stupa yang melambangkan kekayaan dan keagungan Buddha di tangan kirinya.
Baca juga: Ajian Kulhu Geni: Ilmu Serbaguna yang Bisa Pecahkan Batu dan Melebur Santet!
5. Fukurokuju
Fukurokuju digambarkan memiliki kepala yang besar, memegang sebuah tongkat, berjanggut putih dan selalu ada burung bangau di dekatnya.
Ia membawa keberuntungan untuk mereka yang ingin memiliki anak, kekayaan, kemakmuran dan umur panjang. Fukurojuku dianggap sebagai Nankyousei atau Bintang Kutub Selatan dalam ajaran Taoisme.
6. Jurojin
Dalam kepercayaan Taoisme, Jurojin ialah dewa yang dapat memberikan umur panjang kepada seseorang. Penampilannya seperti biksu tua berjanggut putih dan membawa sebuah tongkat dan selalu membawa seekor rusa bersamanya.
Selain dapat memberikan umur panjang Jurojin juga dapat menyembuhkan penyakit dan juga dianggap sebagai dewa pelindung kaum intelektual.
Baca juga: Ajian Kulhu Sungsang: Ilmu Sakti untuk Menangkal Santet dan Gangguan Gaib!
7. Hotei
Hotei yang disebut juga Budai adalah satu-satunya Shichi Fukujin yang diangkat dari seorang manusia.
Diceritakan pada abad ke 10 di Tiongkok hidup seorang Buddha yang berkeliling di kota-kota untuk meramalkan nasib seseorang.
Hotei berpenampilan dengan pakaian yang compang camping, kepala yang gundul, bertubuh gemuk, dan membawa tas besar yang berisikan keberuntungan.
Dia akan membagikan isi tas itu dalam bentuk beras dan permen kepada anak-anak dan fakir miskin. Lalu ditangan kanannya dia memegang sebuah kipas yang dapat mengabulkan permintaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Nippon.com, Avareurgente.com