Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 12 AGUSTUS 2025 • 19:30 WIB

Mengenal Asal-Usul Tradisi Iriban Lerep: Warisan Leluhur untuk Menjaga Sumber Mata Air

Mengenal Asal-Usul Tradisi Iriban Lerep: Warisan Leluhur untuk Menjaga Sumber Mata AirTradisi Iriban Di kaki perbukitan Ungaran, Desa Lerep (Nada/Z Creators)

INDOZONE.ID - Di kaki Perbukitan Ungaran, tepatnya di Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, warisan leluhur terus dijaga melalui Tradisi Iriban. Pada 6 Agustus lalu, warga menggelar upacara adat Iriban di Sumber Mata Air Cenginging. Tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan pesan moral untuk menjaga kelestarian air sebagai sumber kehidupan. Iriban rutin dilaksanakan setiap Rabu Kliwon di bulan Agustus.

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Susiyanto menjelaskan, istilah “Iriban” berasal dari kata urup-urup atau nguri-nguri, yang berarti memelihara. “Maknanya adalah menjaga sumber mata air agar tetap mengalir dan dimanfaatkan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Tradisi ini diyakini telah ada sejak puluhan hingga ratusan tahun, seiring berdirinya Desa Lerep. Asal-usulnya lekat dengan cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Konon, Mbah Wali Hasan Munadi pernah melepaskan seekor bebek putih yang kemudian berlari membentuk aliran Sungai Cenginging. Medan terjal yang dilalui membuat warga percaya bahwa aliran tersebut bukan buatan manusia biasa. Hingga kini, prosesi penyembelihan bebek putih menjadi bagian tak terpisahkan dari Iriban.

Baca juga: Bintang Jadi Peta, Rahasia Pelaut Bugis Jelajahi Perairan Dunia

Masyarakat juga meyakini bahwa Sumber Cenginging dijaga oleh tokoh gaib Mbah Kutip Dipoyono dan Mbah Kutip Mangundrono. Kepercayaan ini menjadi cara para tetua desa mengajak warga datang untuk membersihkan area sumber. Ada pula aturan unik, makanan dari acara Iriban tidak boleh dibawa pulang, kecuali oleh warga Dusun Indrakila. Larangan ini berawal dari kisah lama tentang warga yang jatuh sakit setelah tak sengaja membawa pulang makanan, lalu sembuh setelah mengembalikan sisa makanan tersebut ke lokasi Iriban.

Rangkaian acara Iriban dimulai dengan kerja bakti membersihkan aliran sungai, dilanjutkan memasak ayam kampung bakar, dan prosesi pasrah tampi ubo rampe, sesaji berupa kelapa muda, air nira, madu, dan bumbu pawon. Sesaji ini melambangkan harapan agar air tetap jernih, deras, dan membawa kebaikan. Prosesi diiringi doa bersama para tokoh desa, lalu ditutup dengan makan bersama dan tarian khas Lerep.

Dulu, sebelum Lerep menjadi desa wisata, Iriban berlangsung sederhana, hanya kerja bakti dan makan bersama di hari yang sama. Aliran air bahkan sempat ditutup saat memasak, lalu dibuka kembali sebagai tanda makan dimulai. Namun, setelah menjadi desa wisata, rangkaian acara diperluas dengan kirab budaya, pertunjukan tari, dan prosesi simbolik lainnya.

Kepala Desa Lerep, Sumariyadi, mendorong Iriban masuk dalam paket wisata budaya. Tujuannya, mengajak generasi muda mengenal dan melestarikan tradisi sekaligus menjaga sumber air.

Baca juga: Tradisi Ithuk-Ithukan: Rasa Syukur Suku Osing Rejopuro atas Air yang Tak Pernah Kering

Meski begitu, Susiyanto mengakui tantangan terbesar adalah minat anak muda yang cenderung menyukai hal-hal praktis. “Kalau hidup di desa, jangan sampai adat istiadat hilang. Desa tidak akan bertahan tanpa mengenal dan memelihara warisan leluhur,” tegasnya.

Bagi warga Lerep, Iriban bukanlah persembahan mistis, melainkan ungkapan syukur kepada Tuhan. Seluruh dekorasi, dari gapura hingga bleketepe (anyaman daun kelapa), dibuat dari bahan alami sebagai simbol kembali ke alam. Filosofi itu juga terlihat dalam kebiasaan minum dari kendi tanah liat, pengingat bahwa manusia hidup selaras dengan alam.

Tradisi Iriban pun terus bertahan, menjadi identitas Desa Lerep sekaligus pesan abadi, menjaga air berarti menjaga kehidupan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Dan Wawancara

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Mengenal Asal-Usul Tradisi Iriban Lerep: Warisan Leluhur untuk Menjaga Sumber Mata Air

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!