INDOZONE.ID - Dalam setiap pernikahan adat Betawi, ada satu hidangan yang kehadirannya tak boleh dilewatkan, yakni roti buaya.
Roti dengan bentuk reptil besar ini bukan sekadar hidangan biasa, namun menjadi simbol sakral yang mengandung harapan dan doa bagi pasangan pengantin.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Purbasari (2020) dalam Jurnal Pendidikan Sejarah, tradisi membawa roti buaya dalam pernikahan Betawi telah ada sejak abad ke-19.
Tradisi ini bermula dari pengamatan masyarakat Betawi terhadap perilaku buaya yang dikenal setia pada pasangannya.
"Buaya dipercaya hanya akan memiliki satu pasangan seumur hidupnya. Jika pasangannya mati, buaya tersebut tidak akan mencari pasangan lagi," tulis Purbasari dalam penelitiannya.
Baca Juga: Uniknya Tradisi Kebo-keboan di Banyuwangi: Orang-orang Berdandan bak Kerbau
Terdapat beberapa filosofi dari roti buaya memiliki beberapa makna simbolis antara lain seperti:
Baca Juga: Bunga Sakura Punya Makna Penting untuk Masyarakat Jepang: Apa Itu?
Ritual penyerahan roti buaya pada pernikahan adat Betawi adalah sebuah prosesiyang bermakna dan memiliki arti tersendiri.
Ritual tersebut biasanya dimulai dengan pihak keluarga pengantin pria yang datang ke rumah pengantin wanita dengan membawa berbagai seserahan, termasuk roti buaya yang menjadi simbol utama dalam seserahan tersebut.
Rombongan pengantin pria biasanya terdiri dari keluarga dekat dan sahabat-sahabatnya, yang membawa seserahan dalam baki atau nampan yang dihias indah.
Saat rombongan tiba di rumah pengantin wanita, mereka akan disambut dengan meriah oleh keluarga pengantin wanita.
Prosesi penyambutan ini sering diiringi dengan musik tradisional Betawi seperti tanjidor atau gambang kromong, yang menambah suasana sakral dan meriah.
Roti buaya, yang biasanya dibawa paling akhir, akan diberikan secara simbolis kepada ibu pengantin wanita sebagai lambang kesetiaan dan keberuntungan dalam pernikahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah