Ilustrasi kelelawar. (Freepik)
INDOZONE.ID - Di India terdapat sebuah desa unik bernama Sarasai, yang dikenal sebagai desa penyembah kelelawar. Desa ini terletak sekitar 40 kilometer dari kota Patna, di distrik Vaishali.
Berdasarkan laman patnapress, desa kecil ini menjadi rumah bagi jutaan kelelawar pemakan buah yang bergelantungan di pepohonan dan memenuhi langit saat senja. Uniknya, keberadaan hewan tersebut sama sekali tidak menimbulkan ketakutan bagi penduduk setempat.
Baca juga: Kisah Kelam MH653: Pembajakan, Ledakan dan Jatuhnya Malaysia Airlines Tahun 1977
Sarasai memang terkenal memiliki populasi kelelawar yang sangat besar, yang membuat menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Di pusat desa terdapat kolam seluas 52 bigha (satuan luas tanah di India) yang dikelilingi pohon peepal, beringin, simal, kadam, dan jamun.
Hampir setiap cabang dari pohon ini dipenuhi dengan kelelawar. Uniknya, warga desa memanen buah yang jatuh ke tanah bukan buah di bagian atas pohon. Buah yang di bagian atas sengaja dibiarkan untuk kelelawar sebagai bentuk penghormatan.
Baca juga: Misteri Terowongan Taman Sari Yogyakarta: Benarkan Terhubung ke Pantai Selatan dan Nyi Roro Kidul?
Bagi masyarakat Sarasai, kelelawar dianggap sebagai penjaga desa. Mereka percaya, bahwa kelelawar menunjukkan perilaku yang tidak biasa sebelum bencana atau kecelakaan terjadi. Para penduduk desa juga meyakini jika kelelawar berbunyi pada malam hari mampu memperingatkan adanya pencurian atau bahaya.
Selain kepercayaan lisan, aturan sosial juga diberlakukan. di desa Sarasai ini. Kelelawar dipuja sebelum acara sakral, seperti pernikahan dan upacara keagamaan. Masyarakat bahkan menerapkan sanksi bagi siapa pun yang sengaja menyakiti kelelawar tersebut.
Dikutip dengan laman yang sama, Balindra Thakur yang merupakan penjaga koloni kelelawar selama 25 tahun, menuturkan bahwa satu kelompok pohon dapat menampung lebih dari lima ribu ekor kelelawar.
Warga Sarasai percaya bahwa keberadaan kelelawar membantu melindungi mereka selama pandemi COVID-19. Hal ini disebabkan karena tidak ada warga yang jatuh sakit parah. Sebagai bentuk rasa syukur dan balas budi, warga menyediakan wadah air di atap rumah mereka agar kelelawar dapat minum.
Kelelawar sering dianggap sebagai pembawa sial atau hama. Namun di Sarasai, hewan ini dilindungi oleh kesadaran budaya dan tradisi. Masyarakat berhasil menciptakan model konservasi alami tanpa aturan pemerintah, semua ini murni karena kepercayaan dan penghormatan.
Baca juga: Misteri Ludah Pocong Penglaris: 9 Ciri Rumah Makan yang Menggunakannya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Patnapress.com