INDOZONE.ID - Pernah dengar tentang Larung Sesaji? Tradisi unik dari tanah Jawa ini menyimpan makna yang dalam sekaligus menjadi warisan budaya yang masih dijaga hingga kini.
Larung Sesaji merupakan upacara adat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki, baik dari hasil bumi maupun laut. Secara sederhana, Larung Sesaji berarti menghanyutkan sesaji ke laut, telaga, atau bahkan kawah gunung.
Sesaji yang dihanyutkan biasanya berupa tumpeng, buah-buahan, sayuran, dan hasil laut seperti ikan serta udang. Tak jarang pula ditambahkan kain batik dan bunga sebagai bagian dari persembahan.
Baca juga: Tradisi Jauhar di India: Antara Simbol Pengorbanan dan Isu Hak Asasi Manusia
Tradisi ini memiliki banyak filosofi yang diyakini masyarakat Jawa, di antaranya:
Dari makna-makna tersebut, jelas bahwa Larung Sesaji tidak sekadar ritual, melainkan bagian penting dalam kehidupan spiritual dan budaya masyarakat Jawa.
Larung Sesaji biasanya digelar pada waktu-waktu tertentu, seperti 1 Suro (Muharram) dalam penanggalan Jawa, bulan Ruwah menjelang Ramadan, atau saat bulan purnama. Beberapa daerah yang terkenal dengan tradisi ini antara lain Blitar, Magetan, Jember, dan Gunung Kelud.
Baca juga: Mengenal Asal-Usul Tradisi Iriban Lerep: Warisan Leluhur untuk Menjaga Sumber Mata Air
Setiap daerah memiliki ciri khas dalam melaksanakan upacara ini. Misalnya, di Magetan terdapat rombongan pengiring tumpeng yang terdiri dari pasukan berkuda, cucuk lampah, dan pertunjukan reog. Sementara di Jember, rangkaian acara diawali dengan doa-doa Islam seperti pembacaan Yasin dan Tahlil sebelum sesaji dihanyutkan ke laut.
Larung Sesaji bukan hanya sekadar tradisi, melainkan simbol harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Lebih dari itu, tradisi ini juga mengajarkan kita untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Research Gate