Kamis, 16 JULI 2026 • 10:05 WIB

Konsep Serupa Pelet Ternyata Dikenal Banyak Peradaban Dunia Sejak Ribuan Tahun Lalu

Author

Ilustrasi santet brojo

INDOZONE.ID - Pelet sering kali dikaitkan dengan dunia mistis di Indonesia. Banyak orang percaya ilmu ini mampu membuat seseorang jatuh cinta, sementara sebagian lainnya menganggapnya hanya sebagai mitos yang diwariskan secara turun-temurun. 

Namun menariknya, konsep seperti pelet ternyata bukan hanya dikenal di Nusantara.

Sejumlah catatan sejarah menunjukkan bahwa praktik mantra cinta atau love spells telah menjadi bagian dari berbagai kebudayaan dunia sejak ribuan tahun lalu. 

Meski nama, ritual, dan medianya berbeda-beda, tujuan utamanya hampir selalu sama, yaitu mempengaruhi perasaan seseorang agar tumbuh rasa cinta atau ketertarikan.

Baca juga: Mengenal Ilmu Putih, Praktik yang Diyakini Digunakan untuk Tujuan Baik dan Berbeda dari Ilmu Hitam

Apa Itu Ilmu Pelet?

Dalam masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, pelet dikenal sebagai ilmu gaib yang dipercaya digunakan untuk mempengaruhi alam bawah sadar seseorang agar muncul rasa suka, cinta, atau ketertarikan kepada orang tertentu.

Karena diyakini berkaitan dengan kekuatan supranatural, praktik ini umumnya dilakukan melalui ritual, doa, mantra, atau benda-benda tertentu yang dipercaya memiliki kekuatan spiritual. 

Istilah “pelet” sendiri lebih populer di Indonesia, sedangkan di negara lain dikenal dengan sebutan berbeda, seperti love spell, love charm, atau love magic.

Penelitian Sejarah Menunjukkan Konsep Serupa Sudah Ada Sejak Dunia Kuno

Kepercayaan terhadap mantra cinta ternyata bukan fenomena baru. Dalam tulisannya berjudul “Ancient Spells and Charms for the Hapless in Love”, peneliti klasik Adam Parker menjelaskan bahwa masyarakat Yunani-Romawi kuno telah mengenal berbagai ritual untuk mendapatkan cinta jauh sebelum era modern. 

Baca juga: Asal-usul Santet, Budaya Nusantara dengan Praktik dan Sebutan Berbeda di Setiap Daerah

Menurut Parker, masyarakat pada masa itu menghadapi persoalan asmara yang sama seperti manusia saat ini, mulai dari cinta bertepuk sebelah tangan, patah hati, hingga keinginan mendapatkan pasangan. 

Bedanya, ketika sekarang orang mengandalkan aplikasi kencan atau media sosial, masyarakat kuno justru menaruh harapan pada ritual magis.

Greek Magical Papyri, “Buku Panduan” Mantra Cinta di Masa Lampau

Salah satu bukti sejarah yang banyak dikaji adalah Greek Magical Papyri, kumpulan manuskrip dari Mesir kuno yang berasal sekitar abad ke-2 SM hingga abad ke-5 Masehi.

Naskah tersebut berisi ratusan ritual untuk berbagai kebutuhan, mulai dari penyembuhan penyakit, perlindungan diri, menemukan barang hilang, hingga ritual percintaan. 

Baca juga: 5 Taman Hiburan Terbengkalai di Indonesia, Seram tapi Bikin Penasaran!

Di dalamnya terdapat berbagai petunjuk membuat mantra cinta dengan bahan-bahan yang menurut kepercayaan saat itu memiliki kekuatan magis. 

Para sejarawan menilai manuskrip tersebut menjadi bukti bahwa praktik “love magic” merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat kuno, bukan sekadar cerita rakyat.

Ritualnya Terdengar Tidak Masuk Akal Menurut Standar Masa Kini

Adam Parker menjelaskan bahwa beberapa ritual cinta dalam manuskrip tersebut terdengar sangat aneh jika dilihat dari sudut pandang modern.

Ada mantra yang meminta seseorang menggunakan darah ikan, kuku, biji apel, hingga benda-benda yang diambil dari hewan tertentu. 

Baca juga: 5 Rumah Sakit Terbengkalai di Indonesia dengan Kisah Horor, Bikin Merinding!

Sebagian ritual bahkan mengharuskan pengguna mengucapkan rangkaian kata-kata khusus sambil membawa cincin atau jimat yang telah diberi simbol tertentu.

Bagi masyarakat kuno, benda-benda tersebut dipercaya dapat memperkuat doa atau mantra yang mereka lakukan.

Bukan Hanya Mantra, Jimat Cinta Juga Pernah Ditemukan

Selain manuskrip, arkeolog juga menemukan sejumlah benda yang diduga berkaitan dengan praktik mantra cinta.

Salah satu temuan terkenal adalah cincin emas bertuliskan bahasa Yunani yang ditemukan di Corbridge, Inggris. Cincin tersebut memuat tulisan yang dapat diterjemahkan sebagai “mantra cinta milik Polemius.”

Baca juga: Terlihat Lewat Foto Rontgen, Begini Seluk-Beluk Tradisi Mistis Susuk dari Tinjauan Medis

Para ahli menduga cincin itu digunakan pemiliknya untuk meningkatkan daya tarik dirinya atau diberikan kepada orang yang dicintainya sebagai bagian dari ritual asmara. 

Meski tidak dapat membuktikan apakah ritual tersebut benar-benar berhasil, temuan ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap mantra cinta memang pernah berkembang luas di Kekaisaran Romawi. 

Mengapa Hampir Semua Budaya Memiliki Mantra Cinta?

Fenomena ini membuat banyak sejarawan berpendapat bahwa keinginan manusia untuk mendapatkan cinta merupakan pengalaman yang bersifat universal.

Hampir setiap peradaban memiliki tradisi spiritual yang berkaitan dengan hubungan antar manusia. Ada yang menggunakan doa, jimat, simbol, ramuan, maupun ritual tertentu. 

Baca juga: Misteri Babi Ngepet yang Melegenda, Ini Asal-Usul dan Cerita yang Berkembang di Masyarakat

Nama dan bentuknya memang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang serupa, yakni memperoleh kasih sayang atau mempertahankan hubungan.

Karena itulah konsep yang di Indonesia dikenal sebagai pelet sebenarnya memiliki “saudara” di berbagai belahan dunia.

Fakta Sejarah Bukan Berarti Bukti Ilmiah

Meski praktik mantra cinta tercatat dalam berbagai dokumen sejarah, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang dapat membuktikan bahwa pelet atau mantra cinta benar-benar mampu mempengaruhi perasaan seseorang secara supranatural.

Kajian para sejarawan lebih berfokus pada fakta bahwa ritual tersebut memang pernah dipraktikkan dan menjadi bagian dari sistem kepercayaan masyarakat pada zamannya. 

Baca juga: Mengenal Pesugihan: Asal-Usul, Jenis, hingga Alasan Orang Menempuh Jalan Mistis demi Harta

Dengan kata lain, keberadaan praktiknya merupakan fakta sejarah, sedangkan efektivitas kekuatan gaibnya masih berada di ranah kepercayaan masing-masing.

Sementara itu, A Secret History of Witches karya Louisa Morgan juga menggambarkan bagaimana praktik sihir dan ritual diwariskan dari generasi ke generasi dalam tradisi Eropa. 

Namun perlu dipahami bahwa buku tersebut merupakan novel historical fiction, sehingga tidak dapat dijadikan bukti ilmiah, melainkan sebagai gambaran mengenai kuatnya pengaruh kepercayaan terhadap sihir dalam kebudayaan Barat. 

Pelet mungkin identik dengan budaya mistis Indonesia, tetapi konsep tentang mantra cinta ternyata telah dikenal oleh berbagai peradaban sejak ribuan tahun lalu. 

Baca juga: Cerita Mistis Aktris Era saat Syuting Horor, Ada Suara Anak Kecil Menangis?

Manuskrip kuno, jimat, hingga catatan sejarah menunjukkan bahwa manusia dari masa ke masa selalu mencari berbagai cara untuk mendapatkan cinta.

Namun, penting untuk membedakan antara catatan sejarah mengenai praktik tersebut dengan klaim bahwa praktik itu benar-benar memiliki kekuatan supranatural. 

Sejauh ini, yang dapat dipastikan oleh penelitian sejarah adalah keberadaan ritual dan kepercayaannya dalam berbagai budaya, bukan efektivitas kekuatan gaib yang sering dikaitkan dengannya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Teknokrat.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU