Minggu, 26 OKTOBER 2025 • 15:40 WIB

Kisah Mistis Perjanjian Berdarah di Desa Sukamaju: Antara Utang, Iblis, dan Iman

Author

Ilustrasi Perjanjian Berdarah. (Foto: Freepik @Freepik)

INDOZONE.ID - Langit Jawa Barat sore itu seperti lagi ngambek. Matahari masih nyala terang, tapi hawanya bikin kulit lengket seperti abis disiram minyak goreng.

Hasan, santri 22 tahun dari Pesantren Nur Iman di Cirebon, ngebut pakai motor Supra pinjaman temannya.

Di belakang, Rudi, sahabat seperjuangannya di pesantren meluk erat biar gak jatuh di jalan tanah yang berdebu.

Tujuan mereka cuma satu yaitu pulang ke Desa Sukamaju. Hasan baru aja dapat kabar kalau ayahnya sakit keras.

Tapi, entah kenapa, makin dekat ke desa, suasananya malah makin gak enak. Sawah-sawah yang biasanya hijau malah layu seperti kehilangan semangat hidup.

Orang-orang lewat dengan wajah murung, dan udara terasa berat. Ada yang gak beres, tapi Hasan belum tahu apa sebenarnya kisah mistis di balik kondisi ini.

Yuk simak kisah perjanjian berdarah dilansir dari YouTube @OM BRIZZ OFFICIAL selengkapnya!

Baca juga: Kisah Mistis Pelet Kober: Cinta yang Tak Tersampaikan Berujung Maut

Suasana Desa yang Gak Lagi Sama

Begitu sampai di pertigaan dekat kuburan, Rudi tiba-tiba minta berhenti. Di bawah pohon waru, warga lagi ngurusin pemakaman.

Jenazah baru diturunkan ke liang lahat. Hasan kenal beberapa wajah, tapi yang bikin dia kaget, bukan duka yang keliatan di mata mereka, tapi ketakutan.

"Pak Maman," bisik seorang warga. "Lukanya aneh, kayak dicakar harimau."

Hasan terdiam. Pak Maman itu petani baik, gak pernah cari masalah. Tapi tiba-tiba meninggal dengan luka seperti itu?

Ketika Hasan tanya lebih lanjut, seorang bapak tua nyeletuk lirih, “Dia punya utang sama Budi Santoso...”

Nama itu bikin suasana makin dingin. Budi Santoso, rentenir kaya di pinggir desa. Orang-orang bilang dia kejam. Tapi kali ini, sepertinya ada sesuatu yang lebih dari sekadar urusan uang.

Perjanjian Berdarah

Sesampainya di rumah, Hasan langsung nemuin ayahnya yang terbaring lemah. Nafasnya tersengal, matanya sayu. Ibunya, Bu Sari, cuma bisa nangis.

Hasan menggenggam tangan ayahnya, dan dengan suara serak, sang ayah akhirnya cerita.

“Ayah utang sama Budi Santoso. Sawah udah dijual, kerbau juga, tapi utang gak lunas-lunas. Waktu tanda tangan, dia suruh ayah pakai cap jempol… dari darah,” ucapnya lemah.

Hasan terdiam. Cap jempol berdarah? Saat dibuka, surat perjanjian itu emang aneh. Tulisan tangan rapi, tapi di bawahnya ada tanda merah gelap yang seperti darah kering. Kalimat di bawahnya bikin bulu kuduk merinding:

“Jika utang tidak lunas dalam tiga musim panen, nyawa penandatangan menjadi gantinya.”

Rudi, yang dari tadi diam, tiba-tiba buka suara. “Hasan, ini bukan perjanjian biasa. Ini ikatan gaib.”

Hasan menatapnya kaget. Tapi Rudi yakin. Sebagai santri yang juga belajar ilmu spiritual, dia tahu tanda-tanda ilmu hitam. “Budi pakai bantuan dari sesuatu yang bukan manusia,” katanya serius.

Baca juga: Kisah Mistis Pelet Tali Gaib: Saat Cinta Lama Jadi Jerat Tak Kasat Mata

Ilustrasi Perjanjian Berdarah. (Foto: Freepik @Freepik)

Rencana Gila: Menyamar ke Rumah Rentenir

Rudi tahu satu hal yaitu mereka harus ngadepin Budi Santoso langsung. Tapi gak mungkin asal datang, karena Budi pasti curiga.

Maka mereka sepakat buat nyusun rencana gila. Joko, adik Hasan yang baru pulang dari Kalimantan diminta pura-pura jadi pedagang kayu yang mau minjem uang. Rudi bakal nyamar jadi asistennya.

Ketika akhirnya mereka datang ke rumah Budi, suasananya langsung bikin merinding. Rumah mewah, tapi hawanya kayak dingin menusuk tulang.

Rudi dengan tenang menandatangani perjanjian yang sama seperti Pak Samet, lengkap dengan cap jempol berdarah.

Saat jarinya menekan kertas, udara di ruangan langsung berubah berat, dan terdengar bisikan halus dari sudut ruangan.

Setelah keluar, Rudi bilang pelan, “Aku udah siap. Malam Selasa Kliwon, kita lawan dia.”

Pertarungan di Malam Selasa Kliwon

Malam itu, Desa Sukamaju sepi banget. Cuma suara jangkrik dan angin dingin yang bikin suasana makin tegang.

Di rumah Pak Samet, cuma Hasan, Rudi, dan Joko yang tersisa. Rudi duduk bersila, tasbih cendana di tangan, keris pusaka di pangkuan.

Tiba-tiba, angin berhenti. Lampu minyak bergetar. Dari sudut ruangan, muncul bayangan hitam tinggi dengan mata merah menyala, sosok iblis yang dikirim Budi.

Hasan mau bantu, tapi Rudi teriak, “Jangan ikut campur!”

Dengan keberanian luar biasa, Rudi melawan makhluk itu sambil membaca ayat suci. Cahaya samar keluar dari tasbihnya, dan ketika kerisnya menembus dada sosok itu, suara raung mengerikan menggema.

Dalam sekejap, makhluk itu lenyap jadi asap hitam, meninggalkan bau belerang yang menyengat.

Rudi jatuh terduduk, kelelahan. Hasan dan Joko langsung menghampiri. “Rut, kamu menang?” tanya Hasan dengan napas gemetar.

Rudi mengangguk pelan. “Itu cuma utusannya. Tapi ikatan gaibnya udah putus.”

Keadilan dari Langit

Besok paginya, kabar mengejutkan menyebar. Budi Santoso ditemukan tewas di rumahnya. Tubuhnya hangus, tapi gak ada tanda kebakaran. Warga bilang dia kena kutukan sendiri.

Pak Samet, ayah Hasan, ajaibnya mulai sembuh. Nafasnya udah normal, wajahnya gak pucat lagi. Bahkan sawah yang sempat kering mulai hijau kembali. Semua orang di Sukamaju kayak baru bangun dari mimpi buruk panjang.

Rudi cuma tersenyum kecil saat Hasan bilang makasih. “Aku cuma jadi perantara, San. Tuhan yang ngatur semuanya.”

Sore itu, sebelum balik ke pesantren, Rudi sempat berdiri di tepi sawah. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma padi muda. Hasan menepuk bahunya. “Rut, kamu beneran mau balik?”

Rudi menatap langit dengan senyum tipis. “Tugasku di sini udah selesai. Tapi ingat, Hasan, jangan pernah bikin perjanjian yang kamu sendiri gak paham isinya. Apalagi kalau ada darahnya.”

Baca juga: Kisah Mistis Kampung Dukun: Warisan Kelam di Balik Pohon Randu

Ilustrasi Perjanjian Berdarah. (Foto: Freepik @Freepik)

Langit Sukamaju sore itu terlihat lebih cerah. Tapi di antara desir angin, Hasan sempat mendengar suara samar seperti tawa yang tertahan di ujung sawah. Entah dari siapa. Entah dari mana.

Nah kisah Perjanjian Berdarah di Desa Sukamaju pun berakhir, atau mungkin baru saja dimulai.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU