INDOZONE.ID - Kampung Sabrang, sebuah desa kecil di pelosok Jawa Tengah, menyimpan rahasia gelap yang nggak bisa dijelaskan dengan logika.
Tempat ini dijuluki warga sekitar sebagai Kampung Dukun, kampung yang katanya hidup berdampingan dengan dunia tak kasatmata.
Kisah mistis ini berawal dari Mira dan saudari tirinya, Rani, yang menerima sepucuk surat misterius.
Surat itu dikirim oleh seseorang bernama Mbah Sarmina, tetangga lama nenek Rani, Mbah Darmi.
Isinya bikin bulu kuduk berdiri, rumah dan tanah peninggalan nenek mereka masih ada, tapi warga enggan mendekat karena disebut “bukan tempat biasa.”
Yuk simak kisah mistis kampung dukun dilansir dari YouTube @OM BRIZZ OFFICIAL selengkapnya!
Baca juga: Kisah Mistis Kampung Jin: Ada Guru Ngaji yang Mengajar Anak-anak Gaib
Perjalanan ke Kampung Sabrang
Dengan niat cuma mau ngurus warisan, Mira dan Rani berangkat dari Bekasi menuju kampung yang bahkan belum pernah mereka dengar namanya. Jalan menuju sana makin lama makin rusak, seperti membawa mereka ke dunia lain.
Begitu tiba di gerbang bertuliskan “Sabrang 1876,” hawa aneh langsung terasa. Rumah-rumah di kampung itu tertutup rapat, dan warga menatap mereka dengan tatapan kosong. Tapi Rani tetap santai, sementara Mira mulai ngerasa ada yang nggak beres.
Rumah peninggalan Mbah Darmi berdiri di ujung kampung. Sepi, kusam, dan di depannya ada pohon randu besar yang entah kenapa bikin dada sesak. Saat pintu rumah dibuka, aroma kapur barus dan dupa langsung menyergap.
Di ruang tamu tergantung foto wanita tua dengan mata tajam. Sejak malam pertama, gangguan mulai datang, suara langkah di atap, jendela terbuka sendiri, dan sosok wanita tua mirip di foto yang menatap dari luar.
Surat Warisan dan Larangan Aneh
Keesokan harinya, mereka ke balai desa untuk urus surat warisan. Kepala desa bernama Pak Tarjo menyambut mereka dengan senyum kaku.
Ia bilang tanah dan rumah itu bukan cuma warisan, tapi juga “titipan.” Malam itu, katanya, kampung sedang “dibersihkan.” Pesannya cuma satu yaitu jangan keluar rumah malam Jumat.
Rani dan Mira tentu heran. Tapi malamnya, larangan itu terbukti serius. Di tengah gelap, suara gamelan terdengar dari arah hutan.
Saat Mira coba bangunkan Rani, gadis itu justru bicara dengan suara lain, berat dan tua, “Wis wayahe kowe bali, Nduk.”
Baca juga: Kisah Mistis Desa Wingit: Pulang Kampung yang Salah Jalan dan Bertemu Orang-orang Tersesat
Pewaris Nyai Hutan
Esoknya, di balik foto lama, Mira menemukan kalimat aneh yaitu "Sing nyenggol alas, nyenggol Nyai".
Tak lama kemudian, mereka bertemu wanita tua di pasar yang memberi kain lusuh dan pesan misterius, “Buka saat darah menetes di randu.”
Sejak itu, Rani mulai berubah. Ia sering bicara sendiri di bawah pohon randu, memanggil nama-nama tak dikenal, dan menyebut dirinya “pewaris.”
Malam purnama, Rani melakukan ritual di bawah randu. Asap dupa membumbung, dan dari balik pohon muncul sosok tinggi berambut panjang, ialah Nyai Hutan.
Roh itu masuk ke tubuh Rani. Mira panik dan ingat pesan Mbah Surip, murid tua Mbah Darmi, hanya darah wadah yang bisa menutup gerbang roh alas.
Dalam ketakutan, Mira menikam telapak tangan Rani agar darahnya jatuh ke akar randu.
Tanah bergetar. Api dupa padam. Pohon randu menghitam. Upacara berhenti, tapi meninggalkan luka batin dalam. Rani hidup, tapi jiwanya seolah separuh tertinggal di sana.
Warisan yang Belum Selesai
Sejak malam itu, kampung Sabrang berubah. Warga sering mendengar suara gamelan tanpa sumber, bayi menangis tiap tengah malam, dan rumah kepala desa ditemukan kosong tanpa jejak.
Rani pun jadi pendiam, sering bicara sendiri, kadang menatap kosong ke arah pohon randu yang kini setengah tumbang.
Mira mencoba melupakan semuanya, tapi mimpi buruk terus datang. Ia sering terbangun dengan bekas goresan di kulit, aroma dupa di kamar, dan bayangan wanita berambut panjang di cermin.
Dari catatan lama Mbah Darmi, ia tahu bahwa, “Jika penutup tidak sempurna, nyawa yang terikat tetap gentayangan.”
Nyai Hutan belum benar-benar pergi. Nah mungkin, warisan itu kini tinggal di dalam darah Mira sendiri.
Baca juga: Kisah Mistis Kampung Mayit: Desa yang Dihantui Bayangan Tak Kasat Mata
Kampung Sabrang kini terlihat tenang, tapi bagi Mira, setiap hembusan angin membawa suara samar dari hutan, bisikan yang memanggil namanya.
Warisan Mbah Darmi bukan cuma tanah tapi kutukan yang mengikat darah dan jiwa.
Nah bagi yang berani datang ke Kampung Dukun itu, satu pesan sederhana yaitu jangan pernah buka pintu kalau mendengar suara gamelan di tengah malam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube