Ilustrasi. Meninggal di Hari Jumat Kliwon dalam Tradisi Jawa (Freepik)
INDOZONE.ID - Kematian adalah takdir yang tidak bisa diprediksi oleh siapa pun. Namun, di Indonesia, khususnya bagi masyarakat Jawa, hari dan pasaran kematian seseorang sering kali dikaitkan dengan makna tertentu. Salah satu yang paling fenomenal dan banyak dibicarakan adalah fenomena meninggal di hari Jumat Kliwon dalam tradisi Jawa.
Di satu sisi, hari tersebut diselimuti oleh aura mistis yang kental. Di sisi lain, dari kacamata agama Islam, hari Jumat justru dianggap sebagai sayyidul ayyam (rajanya hari) yang membawa kemuliaan tersendiri bagi yang wafat. Lalu, bagaimana sebenarnya kita memaknai persimpangan antara mitos lokal dan keyakinan spiritual ini? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Dalam kosmologi budaya Jawa, pasaran Kliwon yang jatuh pada hari Jumat memiliki energi magis yang sangat kuat. Malam Jumat Kliwon sering dikaitkan dengan waktu di mana portal gaib terbuka, arwah leluhur pulang ke rumah, dan makhluk halus berkeliaran lebih bebas dari biasanya.
Kepercayaan mistis ini memunculkan kekhawatiran khusus apabila ada warga yang meninggal bertepatan dengan hari atau malam Jumat Kliwon. Beberapa mitos yang beredar di masyarakat antara lain:
Biasanya, makam akan dijaga ketat oleh pihak keluarga, kerabat, atau warga desa setempat selama 7 hingga 40 hari berturut-turut. Tradisi ronda makam ini hingga kini masih bisa dijumpai di beberapa daerah pedesaan di Jawa.
Baca juga: Meninggal di Hari Selasa Kliwon: Antara Mitos Pesugihan, Tradisi Jaga Makam, dan Pandangan Islam
Berbanding terbalik dengan ketakutan mistis dalam tradisi lokal, pandangan Islam justru memberikan kabar gembira bagi mereka yang wafat pada hari atau malam Jumat.
Banyak umat Muslim meyakini bahwa kematian pada hari yang agung ini merupakan salah satu tanda husnul khatimah (akhir yang baik). Keutamaan ini disandarkan pada beberapa hadits Nabi Muhammad SAW, salah satunya riwayat dari Imam al-Tirmidzi:
“Tidaklah seorang Muslim mati di hari atau malam Jumat, kecuali Allah menjaganya dari fitnah kubur.” (HR al-Tirmidzi).
Artinya, bagi seorang Muslim yang beriman, meninggal pada hari Jumat memberikan keistimewaan berupa perlindungan dari pertanyaan dan siksa yang berat di alam kubur, serta dicatat mendapat pahala mati syahid.
Meski populer di kalangan umat, para ulama ahli hadits memiliki catatan tersendiri mengenai riwayat tersebut:
Walaupun status haditsnya tergolong dla’if (lemah), riwayat ini tetap bisa diamalkan dan diyakini. Syekh Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan bahwa para ulama sepakat hadits dla’if dapat dipakai dalam urusan fadlail al-a’mal (keutamaan amal/kebaikan), sebagai bentuk harapan akan luasnya rahmat Allah SWT.
Syekh Abdur Rauf al-Manawi dalam kitab Faidl al-Qadir memberikan penjelasan teologis yang sangat indah mengapa Allah memberikan keistimewaan bagi hamba-Nya yang wafat di hari Jumat:
Baca juga: Mengapa Orang Dahulu Begitu Takut pada Gerhana Matahari? Ini Sejarah dan Mitos di Baliknya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: NU Online Lampung