INDOZONE.ID - Sejarah Indonesia tidak lepas dari media pers dan juga para misionaris Kristen. Peran misionaris Kristen dalam penyebarluasan, percetakan, dan penerbitan di wilayah Nusantara bahkan Asia Tenggara memiliki sejarah yang panjang.
Abad ke-19 merupakan masa penting dalam sejarah perkembangan pers di Hindia Belanda, termasuk di wilayah Minangkabau. Pada periode ini, pengaruh sistem liberalisme yang masuk melalui kebijakan kolonial Belanda membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam dunia informasi dan komunikasi.
Minangkabau merupakan salah satu daerah yang mengalami perkembangan pers yang cukup signifikan pada masa kolonial Hindia Belanda, terutama sejak akhir abad ke-19. Tradisi intelektual dan pendidikan yang kuat di kalangan masyarakat Minangkabau, baik yang berbasis Islam maupun pendidikan modern menjadi pondasi penting bagi tumbuhnya media pers, khususnya surat kabar.
Jika di Batavia percetakan dibawa dan diperkenalkan oleh pihak kolonial Belanda, maka di Sumatera, percetakan pertama dimulai di Bengkulu (Bencoolen) pada tahun 1819 dan diperkenalkan oleh kolonial Inggris.
Pengenalan media pers cetak oleh pihak kolonial Inggris, tidak lepas dari para misionaris Kristen yang ikut serta menyebarkan agama dan pengetahuannya di wilayah-wilayah negeri jajahan kolonial negaranya.
Baca Juga: Bintang Timor: Jejak Awal Pers Modern di Indonesia Abad ke-19
Misionaris Baptis Nathaniel Ward berjasa memperkenalkan percetakan dan penerbitan di Bengkulu pada masa itu. Bersama William Robinson, Nathaniel bergabung atas undangan Thomas Stamford Raffles sebagai penguasa waktu itu dan mendirikan percetakan pertama bernama Sumatra Mission Press tahun 1819. Terbitan dari percetakan ini didominasi mengenai agama Kristen sebagai bentuk misi zending para misionaris Barat.
Setelah Traktat London (1824), posisi Bengkulu sebagai pusat percetakan di pantai barat Sumatera mulai diambil alih oleh kota Padang. Akibatnya, perkembangan pers di Minangkabau menjadi lebih pesat terutama untuk media cetak surat kabar.
Periode awal pers di Minangkabau dapat dikenali dengan adanya penerbitan surat kabar oleh orang Belanda yang berdarah campuran Indonesia atau yang disebut Belanda (Indo), surat kabar ini berbahasa Belanda dan dibuat untuk menyuarakan kepentingan pemerintah. Hal-hal yang banyak diberitakan adalah kejadian-kejadian di Sumatra Barat yang bersifat menegakkan rust en orde (ketenangan dan ketertiban), promosi kepentingan kaum penjajah dan Indo, informasi ekonomi, dan tentu saja iklan.
Umumnya surat kabar Belanda (Indo) berbahasa Belanda, namun ada juga yang menuliskan surat kabar ke dalam bahasa Melayu. Beberapa di antaranya adalah Bentara Melayu yang terbit tahun 1877 yang dipimpin oleh Arnold Snackey, serta Pelita Ketjil yang terbit tahun 1882 yang dipimpin oleh J. Moss bersama B.A. Dusseau. Kedua surat kabar ini diterbitkan di Padang dan menjadi salah satu awal dari perkembangan surat kabar berbahasa Melayu, serta penggerak untuk maju orang-orang pribumi di Minangkabau dengan mulainya kerjasama antara kaum Belanda (Indo) dengan orang Minangkabau untuk menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu.
Pers di Indonesia terutama daerah Minangkabau abad 19 berkembang dengan baik karena adanya sistem liberal. Individu diberi kebebasan untuk berkembang tanpa terbatas dalam pemikiran, agama, pers dan politik.
Sistem liberal yang mengutamakan kebebasan, membuat bermunculannya pihak-pihak swasta yang ikut terlibat dan aktif dalam dunia pers melalui medianya yaitu surat kabar. Pers kala itu tidak lagi semata-mata dibawah kekuasaan pihak kolonial saja tetapi pihak swasta dan pribumi bisa ikut andil juga.
Baca Juga: Sejarah dan Makna Hari Kebebasan Pers Sedunia 3 Mei
Akibat dari media pers yang dibebaskan karena sistem liberal kala itu, membuat kaum Indo Belanda dan pribumi berani untuk menyampaikan setiap kritikan-kritikan dari kebijakan pemerintah kolonial yang dianggap kurang tepat. Melalui surat-surat kabar, orang-orang Minangkabau juga mulai terbuka akan perubahan sosial dan politik. Karena inilah berita mengenai bangsa Indonesia pada abad 19 bisa tersebar luas ke mata dunia.
Kesenjangan ekonomi dan semakin terpuruknya kaum pribumi, menarik perhatian kaum pers terutama pers Belanda. Salah satunya isu yang paling sering dibahas adalah tentang perbaikan kondisi kaum pribumi. Sehingga, memunculkan suatu usulan kebijakan kemanusiaan di Hindia Belanda. Usulan ini nantinya akan diwujudkan dalam bentuk politik etis yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan serta memperbaiki kondisi kaum pribumi (edukasi, irigasi, dan transmigrasi).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Gramedia.com