Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 14 MEI 2025 • 18:48 WIB

Bintang Timor: Jejak Awal Pers Modern di Indonesia Abad ke-19

INDOZONE.ID - Surat kabar adalah salah satu jenis media komunikasi massa yang sangat penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Selain itu, surat kabar juga berfungsi untuk menyampaikan gagasan dan pendapat melalui kolom opini atau editorial, yang dapat memicu diskusi di kalangan pembaca. Di samping itu, surat kabar tidak hanya berisi berita serius, tetapi juga menyajikan konten hiburan, seperti rubrik seni, budaya, olahraga, dan teka-teki, yang menarik minat pembaca dari berbagai latar belakang. 

Kemunculan surat kabar berbahasa Melayu di Indonesia pada pertengahan abad ke-19 menandai titik awal penting dalam sejarah komunikasi massa di Nusantara. Di tengah kondisi kolonial Belanda, kehadiran surat kabar Melayu menjadi jembatan penting bagi masyarakat untuk mengenali perkembangan sosial, ekonomi, dan politik di sekitarnya menggunakan bahasa yang mudah dimengerti masyarakat seperti surat kabar Bintang Timoer. 

Bintang Timor: Jejak Awal Pers Modern di Indonesia Abad ke-19Surat Kabar Bintang Timoer/Wikimedia

Bintang Timoer

Sekitar satu tahun setelah Selompret Melajoe terbit di Semarang, kota Surabaya juga menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu kedua. Surat kabar ini bernama Bintang Timoer (yang berarti "Bintang Timur") dan pertama kali dicetak sebagai edisi percobaan oleh perusahaan Gimberg Brothers & Co., yang sebelumnya menjadi agen distribusi Selompret Melajoe di wilayah Jawa Timur. 

Baca Juga: Sompret Melajoe: Pena jurnalistik dalam Kisruh Kolonialisme

Edisi tetap Bintang Timor mulai terbit secara rutin pada 10 Mei 1862. Surat kabar ini awalnya ditujukan untuk melayani kebutuhan informasi komunitas pedagang dan pebisnis di Surabaya dan sekitarnya. Namun, seiring waktu, jumlah pembaca Bintang Timoer terus bertambah, bahkan menjangkau daerah-daerah lain di Jawa, dan sampai ke luar Jawa seperti Sumatra dan Makassar. Surat kabar ini menggunakan bahasa Melayu yang sederhana, supaya mudah dimengerti banyak orang.

Surat kabar Bintang Timoer di Surabaya, yang semula dipimpin oleh L. Magniez dan kemudian digantikan oleh O.Ih. Schutz pada tahun 1868, dikenal sebagai media yang peduli terhadap kehidupan rakyat kecil. Surat kabar ini sering memuat berita mengenai kemiskinan, penindasan terhadap warga desa. 

Bintang Timor: Jejak Awal Pers Modern di Indonesia Abad ke-19Jika berbincang mengenai pers, mari kita sambut Bataviase Nouvelles, surat kabar pertama di Hindia Belanda yang muncul pada tahun 1744.

Surat kabar ini terbit dua kali seminggu, setiap hari Rabu dan Sabtu. Selain itu, Bintang Timoer juga memuat kutipan dari surat kabar berbahasa Belanda Javasche Courant serta informasi resmi dari pemerintah, terutama yang berkaitan dengan pengangkatan dan promosi pejabat sipil. Pada tahun 1869, Bintang Timoer mulai memperluas jejaring pemberitaan dengan membuka lowongan untuk koresponden dari berbagai daerah, asalkan mereka mengirimkan berita secara rutin. Koresponden boleh menggunakan nama samaran (pseudonim), tetapi tetap harus mencantumkan nama asli yang ditandatangani untuk keperluan administrasi.

Baca Juga: Menilik Sejarah Surat Kabar di Indonesia

Keberhasilan Bintang Timoer di Surabaya tampaknya menginspirasi van Zadelhoff (pemilik toko buku) dan Fabritius (pemilik percetakan) di Padang untuk meluncurkan surat kabar Melayu mereka sendiri. Maka, pada 7 Desember 1864, mereka menerbitkan edisi percobaan surat kabar dengan nama yang sama, yaitu Bintang Timoer. Edisi reguler pertamanya mulai terbit pada 4 Januari 1865. Surat kabar ini terbit setiap Rabu sore, sebelum pengiriman pos ditutup, dan terdiri dari empat halaman. Isinya mencakup berita dari Padang, berita dari wilayah lain di Hindia Belanda, serta berita luar negeri. Surat kabar ini juga memuat informasi yang dianggap penting bagi pejabat pemerintah, seperti pengangkatan, mutasi, cuti pejabat.

Pada masa awal penerbitannya, Bintang Timoer belum memiliki pesaing di kota masing-masing. Baru pada tahun 1881, muncul surat kabar lain yang menjadi pesaing Bintang Timoer di Surabaya, dan setahun setelahnya, tahun 1882, Semarang juga mulai memiliki surat kabar vernacular (berbahasa lokal) lainnya. Karena tidak ada saingan selama hampir dua dekade, kedua surat kabar ini tumbuh dengan pesat dan menjadi sangat populer hingga awal tahun 1880-an, sebelum akhirnya mulai bersaing dengan surat kabar baru yang muncul di berbagai kota di Jawa dan Sumatra.



Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Neliti.com

BERITA TERBARU

Bintang Timor: Jejak Awal Pers Modern di Indonesia Abad ke-19

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!