Kamis, 24 APRIL 2025 • 10:20 WIB

Kisah Kyai Telingsing, Ahli Ukir Tiongkok Dirikan Masjib dengan Air Penguji Kejujuran

Author

Makam Kyai Telising. (Dok. Rabu Sipan)

INDOZONE.ID - Kudus, sebuah kota yang dikenal sebagai pusat agama Islam dan budaya di Jawa, menyimpan banyak kisah menarik tentang penyebaran agama Islam.

Salah satunya adalah kisah Kyai Telingsing, seorang ahli ukir yang berasal dari Tiongkok, yang perannya dalam sejarah Kudus tak hanya penting dalam bidang agama, tetapi juga dalam seni dan budaya.

Makam Kyai Telingsing yang terletak di Desa Sunggingan, Kecamatan Kota Kudus, menjadi salah satu tujuan ziarah bagi banyak orang, baik dari Kudus maupun luar daerah, bahkan luar pulau.

Kyai Telingsing dan Seni Ukir

Masyarakat Kudus mengenal Kyai Telingsing sebagai seorang mubalig dan sekaligus seorang seniman ukir yang ulung. Nama aslinya adalah The Ling Sing, berasal dari Tiongkok Selatan.

Kyai Telingsing dikenal sebagai pendakwah yang menyebarkan Islam di Kudus bersama dengan Sunan Kudus. Namun, selain kegiatan dakwah, Kyai Telingsing juga terkenal karena keahlian dalam seni ukir, yang bahkan menjadi cikal bakal nama Desa Sunggingan.

Kata sungging dalam bahasa Jawa berarti "ahli mengukir", dan ini berhubungan erat dengan kemampuan Kyai Telingsing dalam seni ukir.

Salah satu cerita terkenal mengenai kemampuan mengukir Kyai Telingsing terjadi ketika ia diperintahkan oleh seorang raja untuk mengukir sebuah kendi.

Namun, bukannya mengikuti perintah tersebut, Kyai Telingsing justru meninggalkan kendi tersebut dalam keadaan pecah, dan ternyata di dalam pecahan kendi itu terukir kalimat "La ilaha illallah".

Raja yang marah melihat kejadian tersebut malah merasa takjub dan mulai mengagumi keahlian Kyai Telingsing.

Kehidupan Kyai Telingsing dan Penyebaran Islam di Kudus

Menara Masjid Kudus. (Dok. Pribadi)

Kyai Telingsing bukan hanya dikenal karena keahliannya dalam seni ukir, tetapi juga karena peranannya dalam penyebaran agama Islam di Kudus.

Ia datang ke Kudus pada abad ke-15, pada masa Sunan Kudus, dan menyebarkan Islam di daerah yang saat itu mayoritas penduduknya masih memeluk agama Hindu dan Buddha.

Dalam perjalanan dakwahnya, Kyai Telingsing mendirikan sebuah masjid dan pesantren di Desa Nganguk, yang kini dikenal sebagai tempat yang memiliki air keramat. Konon, air di desa tersebut bisa digunakan untuk menguji kejujuran seseorang.

Selain itu, Kyai Telingsing juga dikenal memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Sunan Kudus. Meskipun Sunan Kudus adalah seorang pemimpin agama dan wilayah, Kyai Telingsing memilih untuk fokus pada dakwah dan tidak tertarik pada kekayaan atau kekuasaan.

Kepribadiannya yang tawadhu dan rendah hati membuatnya dihormati oleh banyak orang, termasuk oleh Sunan Kudus sendiri.

Makam Kyai Telingsing: Tempat Ziarah dan Kepercayaan Masyarakat

Makam Kyai Telingsing kini menjadi salah satu tempat ziarah yang banyak dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah, tidak hanya dari Kudus, tetapi juga dari Jepara, Pekalongan, bahkan luar Jawa.

Banyak orang yang datang untuk memohon berkah atau kesembuhan. Beberapa peziarah bahkan datang dengan harapan untuk mendapatkan mimpi atau petunjuk dari Kyai Telingsing.

Kepercayaan masyarakat setempat meyakini bahwa Kyai Telingsing memiliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit, dan banyak yang datang dengan doa untuk memperoleh kesembuhan atau kelancaran dalam hidup.

Makam ini memiliki bentuk yang sederhana, dengan batu nisan berukuran panjang 1.296 cm dan tinggi 48 cm. Sebelumnya, makam Kyai Telingsing terbuat dari batu bata merah kuno dan dibiarkan tanpa perekat, mirip dengan teknik pembangunan Masjid Menara Kudus.

Sejak tahun 1997, makam ini telah dipugar dengan pembangunan baru di sekitar area makam yang tetap mempertahankan tembok lama sebagai bagian dari cagar budaya.

Kyai Telingsing dari Pedagang hingga Guru Ukir

Kisah hidup Kyai Telingsing juga mengungkapkan bahwa ia berasal dari keluarga Arab yang kemudian menyebarkan Islam ke Cina, dan akhirnya melahirkan Kyai Telingsing di Yunnan, Cina.

Seiring berjalannya waktu, Kyai Telingsing tidak hanya dikenal sebagai seorang mubalig, tetapi juga seorang pedagang yang membawa pengaruh besar bagi perkembangan ekonomi dan budaya di Kudus.

Keahliannya dalam seni lukis dan ukir telah mengilhami banyak orang untuk belajar dan melanjutkan tradisi seni tersebut, terutama di Jepara, yang kini terkenal dengan kerajinan ukirannya.

Legasi Kyai Telingsing dalam Sejarah Kudus

Peran Kyai Telingsing dalam sejarah Kudus sangat penting, baik dalam bidang agama, seni, maupun budaya. Nama Kyai Telingsing tidak hanya dikenang sebagai seorang ulama besar yang berperan dalam penyebaran Islam, tetapi juga sebagai seorang pelopor seni ukir yang meninggalkan warisan yang masih dikenang hingga kini.

Banyak orang, terutama dari Jepara, yang menganggap Kyai Telingsing sebagai nenek moyang mereka dalam dunia ukir, dan makamnya menjadi simbol penghormatan terhadap keahlian dan dedikasinya.

Dengan keberagaman cerita dan kepercayaan yang berkembang di sekitar makam Kyai Telingsing, tidak heran jika tempat ini tetap menjadi pusat perhatian dan ziarah bagi banyak orang, yang datang dengan berbagai harapan dan doa.

Kyai Telingsing, meskipun sudah lama tiada, tetap hidup dalam kenangan masyarakat Kudus dan sekitarnya sebagai sosok yang membawa banyak berkah dan manfaat bagi banyak orang.


Banner Z Creators Undip.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal Babad Tanah Jawa: Majapahit, Demak, Dan Pajang.

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU