Selasa, 08 APRIL 2025 • 19:00 WIB

Sejarah Perkebunan Teh dan Kopi di Bandung, Warisan Cultuurstelsel Kolonial Belanda

Author

Ilustrasi kebun teh.

INDOZONE.ID - Bandung dan wilayah Priangan memiliki sejarah panjang dalam pengembangan perkebunan teh dan kopi sejak masa kolonial Belanda.

Pada abad ke-19, pemerintah kolonial menerapkan sistem tanam paksa atau Cultuurstelsel, yang mewajibkan rakyat pribumi menanam komoditas ekspor utama seperti kopi dan teh.

Kebijakan ini membawa dampak besar bagi ekonomi dan lanskap pertanian di Bandung, menjadikan daerah ini sebagai salah satu pusat perkebunan terbesar di Hindia Belanda.

Baca Juga: Tak Ada Nama Jalan Gajah Mada di Bandung: Dampak Sentimen Sunda-Jawa dari Perang Bubat

Sistem Tanam Paksa dan Awal Perkebunan Kopi serta Teh

Sistem Cultuurstelsel diperkenalkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830. Dalam sistem ini, petani diwajibkan menyerahkan sebagian tanahnya untuk ditanami tanaman ekspor yang hasilnya akan dikirim ke Belanda.

Priangan, termasuk Bandung, memiliki peran penting dalam produksi kopi, terutama jenis Coffea arabica, yang menjadi komoditas unggulan sejak akhir abad ke-18.

Perkebunan kopi di Priangan berkembang pesat berkat kondisi geografisnya yang mendukung. Pegunungan dengan ketinggian antara 1.000 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut, serta curah hujan yang cukup, menjadikan wilayah ini ideal bagi pertumbuhan tanaman kopi.

Kopi yang dihasilkan dikenal sebagai "Koffie Priangan" dan sangat diminati di pasar Eropa.

Di sisi lain, teh mulai diperkenalkan secara komersial di Jawa Barat pada pertengahan abad ke-19.

Pemerintah kolonial mengimpor bibit teh dari Tiongkok dan Assam, India, kemudian menanamnya di daerah pegunungan yang memiliki iklim sejuk, seperti Lembang dan Pangalengan.

Baca Juga: Kebijakan Tanam Paksa di Hindia Belanda: Strategi Kolonial untuk Isi Kas Negara

Peran Pengusaha Belanda dan Perluasan Perkebunan

Seiring dengan berkembangnya industri perkebunan, pengusaha Belanda mulai mengambil alih pengelolaan lahan dari pemerintah kolonial.

Banyak lahan perkebunan yang awalnya dikelola langsung oleh pemerintah kemudian diserahkan kepada perusahaan swasta, seperti Preangerplanters yang memiliki kebun teh luas di daerah Priangan.

Salah satu tokoh penting dalam pengembangan perkebunan teh di Bandung adalah Kerkhoven, seorang pengusaha Belanda yang mengelola perkebunan teh di Malabar, Pangalengan.

Ia memperkenalkan teknik budidaya dan pemrosesan teh yang lebih modern, meningkatkan hasil panen dan kualitas produk yang diekspor ke Eropa.

Selain itu, perkembangan infrastruktur seperti pembangunan jalan dan jalur kereta api dari Batavia ke Priangan pada akhir abad ke-19 turut mendukung ekspansi perkebunan.

Transportasi yang lebih baik memungkinkan pengiriman hasil perkebunan ke pelabuhan dengan lebih cepat dan efisien.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Meskipun perkebunan teh dan kopi membawa keuntungan besar bagi pemerintah kolonial dan pengusaha Belanda, sistem tanam paksa membawa penderitaan bagi rakyat pribumi.

Petani dipaksa bekerja di perkebunan dengan upah rendah dan mengalami eksploitasi yang berat. Banyak di antara mereka yang kehilangan lahan pertanian untuk kebutuhan hidup sehari-hari akibat kebijakan ini.

Namun, di sisi lain, perkembangan perkebunan juga membawa perubahan pada struktur sosial dan ekonomi masyarakat setempat.

Bandung tumbuh sebagai pusat ekonomi baru dengan munculnya industri pengolahan teh dan kopi, serta meningkatnya aktivitas perdagangan di wilayah tersebut.

Kesimpulan

Perkebunan teh dan kopi di Bandung serta wilayah Priangan berkembang pesat pada abad ke-19 akibat kebijakan Cultuurstelsel yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Wilayah ini menjadi pusat produksi teh dan kopi berkat kondisi geografisnya yang ideal serta dukungan dari pengusaha Belanda yang mengelola perkebunan secara komersial.

Baca Juga: Mengungkap Dampak Sistem Tanam Paksa yang Masih Tersisa dalam Kehidupan Modern Indonesia

Meskipun membawa dampak ekonomi yang besar, sistem ini juga menyebabkan eksploitasi tenaga kerja pribumi.

Jejak sejarah perkebunan ini masih terlihat hingga kini, dengan Bandung tetap menjadi salah satu pusat industri teh dan kopi di Indonesia.


Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone. Yuk, bikin cerita dan konten serumu, serta dapatkan berbagai reward menarik! Let’s join Z Creators dengan klik di sini.

Banner Z Creators Undip.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Bosma, U. (2007). The Cultivation System, Knight, G. R. (1975).

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU