7 Fakta Menarik di Balik Pembangunan Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan yang Kamu Harus Tau, Apa Saja Ya!
INDOZONE.ID - Jalan raya pos adalah jalur transportasi yang ada di pantai utara Jawa Tengah. Jalan raya pos Anyer-Panarukan dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels.
Jalan raya pos ini terbentang kurang lebih 1000 kilometer, dan menghubungkan wilayah Anyer hingga Panarukan.
Pembangunan jalan raya pos ini bermanfaat dan penting dilaksanakan untuk membantu perkembangan ekonomi dan politik pemerintah Belanda yang ada di Pulau Jawa saat itu.
Tujuan utamanya untuk menjaga keamanan Pulau Jawa dari invasi Inggris dan mempermudah mobilitas militer.
Baca Juga: 5 Arti Mimpi Sungai Meluap Menurut Primbon Jawa
Tujuan lainnya yaitu untuk memperlancar perekonomian Belanda, seperti mengangkut hasil bumi dan perkebunan rakyat, serta menghubungkan kota-kota penting di Jawa.
Meskipun demikian, terdapat 7 fakta menarik dibalik pembangunan jalan raya pos ini yang wajib kamu ketahui, Apa saja fakta tersebut? berikut penjelasannya:
1. Pembangunan Jalan Raya Pos oleh Daendels dilakukan atas Perintah Raja Belanda Louis Napoleon
Pada tahun 1806 Raja Louis Napoleon dari Belanda memandang pulau jawa sebagai wilayah perdagangan yang penting dan potensial.
Namun dari penelitian yang dilakukan pada tahun 1788, menunjukkan bahwa pertahanan militer di Pulau Jawa tidak cukup kuat untuk mencegah invasi dari Inggris, di mana saat itu Inggris bersiap melakukan invasi ke wilayah-wilayah di Asia.
Selain itu, akses transportasi yang buruk juga menambah permasalahan yang ada. Hal ini menjadikan Raja Louis segera mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda untuk menangani masalah yang ada di Pulau Jawa.
Baca Juga: Kisah Mistis Desa Getih: Pemukiman Warga yang Mayoritas Lakukan Ritual Pesugihan
2. Terciptanya Sistem Kerja Paksa di Kalangan Masyarakat Pribumi
Dalam proyek pembangunan jalan raya pos, rakyat pribumi harus menanggung beban berat akibat proyek ini. Masyarakat pribumi dipaksa menaati perintah untuk ikut serta dalam pembangunan jalan.
Namun pada kenyataannya, para pekerja tidak pernah mendapatkan upah yang sepadan dan layak dengan tenaga dan waktu yang telah mereka keluarkan, bahkan tidak sedikit mengorbankan banyak nyawa dalam proses pembangunan jalan.
3. Jalan ini Membentang dari Ujung Barat Hingga Ujung Timur Pulau Jawa
Pembangunan jalan ini dimulai dari wilayah Surabaya yang kemudian melintasi berbagai daerah seperti, Porong, Sidoarjo, Bangil hingga Pasuruan. Proyek pembangunan kemudian dilanjutkan dan berakhir di Panarukan.
Beberapa wilayah yang di lalui jalan pos ini antara lain Anyer, Tangerang, Jakarta, Bogor, Cianjur, Bandung, Sumedang, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Demak, Kudus, Rembang, Tuban, Gresik, Surabaya, Probolinggo, dan Panarukan.
4. Perubahan Kondisi Sosial dan Ekonomi Masyarakat secara Besar-besaran
Pasca dibangunnya Jalan Raya Pos, perjalanan dari Batavia ke Surabaya hanya memakan waktu sepuluh hari, dimana sebelumnya memerlukan waktu sekitar satu bulan.
Pengiriman surat pos dari Batavia ke Semarang yang membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu, kini hanya memerlukan tiga hingga empat hari.
Pengangkutan berbagai komoditas hasil bumi rakyat juga menjadi lebih mudah setelah dibangunnya jalan raya pos ini.
5. Munculnya Istilah "Kutang" di Indonesia
Ketika proyek pembangunan jalan ini berlangsung, seorang pejabat Hindia Belanda, Don Lopez melihat banyak budak perempuan yang bertelanjang dada.
Ia kemudian memotong secarik kain putih dan memberikannya kepada salah seorang budak perempuan.
Don Lopez berkata dalam bahasa Prancis, “tutup bagian yang berharga (coutant) itu”. Ia berkali-kali mengatakan “coutant.. coutant” yang kemudian terdengar sebagai "kutang" oleh para pekerja.
6. Pembangunan Jalan Tidak Dilakukan secara Menyeluruh
Sebenarnya jalan raya ini tidak dibangun seluruhnya dari Anyer hingga Panarukan oleh Daendels, melainkan hanya diperlebar jalurnya.
Ia hanya melakukan pengerasan dan pelebaran jalan karena jalur Anyer-Batavia dan Batavia-Buitenzorg sudah tersedia sebelumnya.
7. Jalan ini Menjadi Proyek Monumental Daendels
Herman Willem Daendels merupakan Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang memerintah secara singkat, yaitu sekitar 3,5 tahun.
Tetapi, berbagai warisan pembangunan infrastuktur yang telah dirintisnya memiliki manfaat sampai akhir abad ke 19.
Bahkan beberapa diantaranya bermanfaat dan tetap eksis hingga kini, contohnya adalah jalan raya pos Anyer-Panarukan yang masih digunakan sampai sekarang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah