Kamis, 19 DESEMBER 2024 • 08:05 WIB

Sejarah Bangladesh: Perjalanan Panjang Menuju Kemerdekaan dan Identitas Nasional

Author

Ilustrasi Bangladesh.

INDOZONE.ID - Sejarah Bangladesh merupakan perjalanan panjang yang melibatkan berbagai dinasti, pengaruh agama, pemerintahan kolonial, hingga perjuangan kemerdekaan.

Terletak di delta Sungai Gangga dan Jamuna, wilayah ini telah menjadi rumah bagi peradaban kuno dan budaya yang kaya.

Awal Peradaban dan Dinasti

Wilayah yang kini dikenal sebagai Bangladesh, dahulunya merupakan bagian dari Bengal, dihuni oleh berbagai kerajaan kuno, seperti Gangaridai dan Vanga.

Pada abad ke-3 SM, agama Buddha berkembang pesat di wilayah ini selama Dinasti Maurya. Akan tetapi, agama Hindu kembali mendominasi pada masa Dinasti Gupta.

Pada abad ke-8 hingga ke-12, Dinasti Pala berperan penting sebagai pelindung kedua agama ini.

Pada abad ke-9, Islam mulai masuk melalui pedagang Arab. Pada abad ke-13, setelah invasi Muslim, kekuasaan Hindu Sena digantikan oleh kekuasaan muslim.

Puncak pemerintahan muslim tercapai di bawah Dinasti Mughal pada abad ke-16 hingga 18, di mana Islam menjadi agama mayoritas. Pemerintahan ini memadukan budaya lokal dengan sistem negara yang inklusif.

Baca Juga: Siklon Bhola: Bencana Alam Mematikan yang Melahirkan Kemerdekaan bagi Bangladesh

Masa Kolonial Inggris

Bangladesh modern mulai terbentuk selama masa kolonial Inggris. Setelah kemenangan Inggris di Pertempuran Plassey pada 1757, Inggris menguasai Bengal.

Inggris pun mengimplementasikan sistem tanah yang mendukung munculnya kelas menengah untuk pemerintahan sendiri.

Pada 1905, Inggris membagi Bengal berdasarkan agama, yang memicu ketegangan antara Islam dan Hindu.

Meskipun pembagian ini dibatalkan pada 1912, ketegangan komunal terus berlanjut, yang akhirnya berujung pada pembagian Bengal saat kemerdekaan India dan Pakistan pada 1947.

Era Pakistan dan Perjuangan Kemerdekaan

Benggala Timur, yang kini menjadi Bangladesh, menjadi bagian dari Pakistan sebagai Pakistan Timur.

Namun, wilayah ini mengalami diskriminasi politik dan ekonomi dari pemerintah Pakistan Barat.

Bendera Negara Bangladesh

Baca Juga: Bhut Jolokia, Cabe Terpedas di Dunia dari India dan Bangladesh

Ketidakpuasan terhadap ketidakadilan tersebut mencapai puncaknya pada 1971, ketika Liga Awami di bawah Sheikh Mujibur Rahman memenangkan pemilu. Akan tetapi, Sheikh Mujibur tidak diberikan kesempatan untuk memimpin.

Penolakan ini memicu konflik yang berujung pada perang kemerdekaan berdarah. Dengan dukungan India, Bangladesh meraih kemerdekaannya pada 16 Desember 1971.

Perjalanan Pasca-Kemerdekaan

Setelah merdeka, Sheikh Mujibur Rahman menjadi Perdana Menteri Bangladesh yang pertama.

Namun, pemerintahannya menghadapi tantangan besar, seperti krisis ekonomi, korupsi, dan kelangkaan pangan, yang berujung pada pembunuhan beliau pada 1975. Periode berikutnya diwarnai oleh kudeta militer dan ketidakstabilan politik.

Stabilitas kembali dicapai pada 1990-an dengan kebangkitan demokrasi meski negara ini tetap dikuasai oleh dua tokoh besar, yakni Sheikh Hasina dari Liga Awami dan Khaleda Zia dari BNP, yang terus mendominasi politik negara meskipun dengan berbagai konflik dan tuduhan korupsi.

Baca Juga: Sejarah Perayaan Ulang Tahun, Ternyata Pertama Kali Dilakukan Bangsa Mesir, Begini Ceritanya!

Tantangan Modern

Bangladesh dihadapkan dengan berbagai tantangan pada abad ke-21, seperti pertumbuhan populasi, urbanisasi, dan masalah kemanusiaan, terkait migrasi pengungsi Rohingya dari Myanmar.

Meski demikian, Bangladesh mencatatkan kemajuan signifikan di bidang ekonomi, terutama di sektor tekstil dan pengiriman uang dari tenaga kerja migran.

Stabilitas politik dan reformasi ekonomi tetap menjadi isu penting yang terus diperjuangkan oleh pemerintah dan masyarakat.

Secara keseluruhan, sejarah Bangladesh mencerminkan perjalanan bangsa yang penuh kerja keras menuju pembentukan identitas nasional yang kuat.


Banner Z Creators Undip.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Britannica

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU