Kamis, 31 OKTOBER 2024 • 17:20 WIB

Revolusi Partai Komunis China dalam Penulisan Sejarah

Author

Foto Mao Zedong, ketua Partai Komunis Tiongkok (sebelah kiri), dan foto Xi Jinping, presiden Republik Rakyat Tiongkok (sebelah kanan).

INDOZONE.ID - Partai Komunis China (PKC) telah menghadapi konflik internal yang berkepanjangan dalam pengelolaan kekuasaan.

Dalam situasi konflik yang memuncak, PKC sering kali melakukan revisi terhadap sejarah untuk memperkuat posisi pemimpin tertentu.

Sejak didirikan pada tahun 1921, para pemimpin PKC berupaya menyatukan partai di tengah beragam tantangan.

Namun, alih-alih hanya mengandalkan regulasi, sejarah partai dijadikan instrumen untuk memperoleh kontrol yang lebih besar.

Pentingnya Sejarah bagi PKC

Mengapa sejarah menjadi sangat penting bagi PKC? Dalam sistem yang tidak memiliki pemilu, sejarah berfungsi sebagai alat untuk mendapatkan legitimasi dan mendukung kepemimpinan yang berkuasa.

Sejarah sebagai Instrumen Politik

Contoh awal penggunaan sejarah sebagai alat politik terjadi pada tahun 1942, ketika Mao Zedong mengubah narasi sejarah untuk mengeliminasi pesaing dan mengokohkan kekuasaannya.

Melalui revisi tersebut, Mao berhasil menegaskan peran dan gagasannya dalam sejarah partai.

Baca Juga: Sejarah Revolusi Hungaria 1956, Darah Perlawanan dari Budapest yang Diinisiasi Pimpinan Partai Komunis

Sejak saat itu, sejarah tidak hanya dilihat sebagai catatan masa lalu, tetapi juga sebagai cara untuk menentukan pengaruh di dalam partai.

Dengan menulis ulang sejarah, pemimpin PKT dapat mengukuhkan otoritas mereka.

Krisis dalam PKC

Di bawah kepemimpinan Xi Jinping, revisi sejarah kembali dilakukan di tengah tantangan besar, seperti kasus korupsi dan rivalitas faksi yang mengancam persatuan partai.

Xi meluncurkan kampanye melawan apa yang disebutnya "nihilisme sejarah," berargumen bahwa perubahan sejarah bukan hanya berkaitan dengan masa lalu, tetapi juga penting untuk stabilitas dan arah negara.

Dengan pendekatan ini, Xi Jinping membangun narasi bahwa PKC adalah pilar utama yang membawa China menuju kesuksesan, memperkuat posisinya di puncak kepemimpinan sambil membungkam kritik terhadap partai.

Sejarah dan Legitimasi

Revisi sejarah menyampaikan pesan yang kuat kepada anggota partai. Dalam konteks PKC, pemimpin yang berhasil menyatukan narasi sejarah dianggap sebagai sosok yang sah dan layak didukung.

Taktik ini menjadi senjata untuk mengendalikan faksi lain dalam partai, serta menjaga stabilitas kepemimpinan.

Baca Juga: Pemberontakan Taiping 1850-1864, Konflik yang Mengguncang Tiongkok karena Ketidakpuasan dengan Pemerintah Korup

Pentingnya sejarah yang diubah ini tidak hanya bagi elite partai, tetapi juga diajarkan ke seluruh negeri untuk memperkuat identitas PKC sebagai penjaga negara.

Warisan Mao di Era Modern

Revisi sejarah yang dilakukan oleh Xi Jinping mencerminkan langkah Mao Zedong, yang memanfaatkan narasi partai sebagai alat untuk meraih kekuasaan.

Mao menanamkan nilai-nilai partai sebagai dasar bagi China modern, dan Xi melanjutkan warisan ini dengan menolak segala bentuk nihilisme yang dianggap melemahkan partai.

Dengan cara ini, sejarah PKC diposisikan sebagai kebenaran tunggal yang tak dapat disangkal.

PKC menciptakan “ketergantungan jalur” di mana pemimpin yang menguasai narasi sejarah akan menjadi penguasa di masa depan.

PKC memahami bahwa sejarah adalah kunci untuk mengukuhkan posisi dan menjaga stabilitas partai.

Dalam menghadapi krisis kepemimpinan, revisi sejarah selalu menjadi pilihan untuk memenangkan dukungan.

Dengan menjadikan sejarah sebagai instrumen politik, PKC berupaya mempertahankan kekuasaan di tengah perubahan zaman.

Banner Z Creators Undip.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: J.Z. Liu, Asian Journal Of Social Science

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU