Minggu, 18 FEBRUARI 2024 • 14:40 WIB

Perjalanan Mencekam Solomon Northup: Dari Kehidupan Bebas ke Perbudakan yang Mengerikan

Author

Ilustrasi sosok Solomon Northup.

INDOZONE.ID - Aksi perbudakan kalau dilihat dari sejarahnya, sudah ada sejak zaman dahulu. Tentunya ada banyak sekali catatan sejarah terkait perbudakan di dunia, mulai dari tokoh, pergerakan sampai kejadian unik dan menarik di dalamnya.

Tokoh perbudakan yang satu ini menjadi sosok figur yang sangat inspiratif bagi masyarakat, khususnya di Amerika Serikat.

Bahkan, dia memiliki sebuah karya yang diadaptasi ke dalam film yang sukses meraih Piala Oscar.

Penasaran dengan sosoknya? Berikut pembahasannya.

Solomon Northup, Sang Mantan Budak yang Inspiratif

Namanya adalah Solomon Northup, seorang mantan budak yang lahir di kota Minerva, Essex County, New York pada 10 Juli.

Ada perdebatan mengenai tahun lahirnya, yakni di antara tahun 1807 dan 1808. Solomon adalah anak bungsu dari 2 bersaudara, yang memiliki kakak bernama Joseph Northup.

Ayahnya adalah seorang mantan budak milik keluarga Henry Northrop. Setelah dibebaskan oleh majikannya, Ia memilih untuk menikah dan hidup berpindah-pindah.

Kemudian, keluarga Solomon bekerja sebagai peternak. Di masa mudanya, Solomon kerap bermain biola dan membaca buku.

Solomon harus kehilangan sang Ayah pada 22 November 1829. Jenazahnya dimakamkan di Hudson Falls Baker Cemetery yang terletak di Washington County, New York.

Baca Juga: Histori Solomon Northup, Petani sekaligus Musisi yang Diculik dan Dijual Sebagai Budak

Pada Natal tahun 1829, Solomon menikahi sang pujaan hati yang bernama Anne Hampton. Dari pernikahannya, Solomon dan Anne dianugrahi 3 orang anak, Elizabeth, Margaret dan Alonzo.

Sama seperti sang Ayah, Solomon turut hidup berpindah-pindah bersama keluarganya. Ia bekerja sebagai seorang peternak dan buruh tani, sedangkan Anne bekerja sebagai tukang masak.

Disela pekerjaannya, Solomon selalu menyempatkan diri untuk bermain biola. Hobinya dalam bermusik inilah yang membuatnya disenangi oleh orang-orang terdekatnya.

Rumah Keluarga Solomon di Wilayah Fort Edward, New York.

Berkat kerja kerasnya bersama dengan sang Istri, keluarga Solomon bisa hidup dalam kemakmuran.

Per tahun 1834, Solomon direkrut menjadi pemain biola di United States Hotel di kawasan Saratoga Springs. Lalu di tahun 1841, Anne direkrut sebagai tukang masak di Sherrill's Coffee House yang bertempat di Sandy Hill.

Selama Ia bekerja, Anne selalu mengajak putri sulungnya, Elizabeth. Sedangkan Margaret dan Alonzo selalu dititipkan ke Bibinya.

Awal Kisah Perbudakan Selama 12 Tahun

Masih di tahun 1841, Solomon bertemu dengan 2 orang pria bernama Merrill Brown dan Abram Hamilton yang mengaku sebagai "pemilik" dari sebuah kelompok sirkus.

Mereka mengajak Solomon ke New York menjadi pemain musik untuk "sirkus" mereka. Tidak hanya itu, Merrill dan Abram juga menawarkan bayaran yang fantastis untuk Solomon.

Tanpa pikir panjang, Solomon pun menyetujui tawaran mereka dan langsung berangkat ke New York tanpa mengabari keluarganya.

Disinilah hal terburuk terjadi, sesampainya di New York, Solomon langsung dibius oleh Merrill dan Abram.

Mereka membawa Solomon ke Washington D.C. untuk dijual sebagai budak. Harga jual Solomon saat itu sebesar $650.

James H. Birch selaku penjual budak yang menerima Solomon dari tangan Merrill dan Abram, diketahui mengurung dan menyiksa Solomon selama dirinya diperbudak.

James kerap melakukan itu dibantu anak buahnya yang bernama Ebenezer Radburn.

Kemudian, James mengirim Solomon ke New Orleans lewat jalur laut. Ia meminta rekannya yang bernama Theophilus Freeman untuk mengurung para budak miliknya.

Diketahui kalau selama perjalanannya ke New Orleans, Solomon dan beberapa budak lainnya mengidap penyakit cacar.

Solomon sempat menulis surat untuk Henry Northrop, mantan majikan Ayahnya. Ia meminta bantuan kapten kapal yang membawanya ke New Orleans, untuk mengirimkan surat tersebut.

Meski dalam pengirimannya sudah dibantu oleh Gubernur New York saat itu, William Henry Seward, surat tersebut tak pernah sampai ke tangan Henry Northrop karena alamatnya tidak diketahui.

Sesampainya di New Orleans, Solomon dan 2 orang budak lainnya dibeli oleh seorang pendeta bernama William Prince Ford.

Solomon diperlakukan dengan baik oleh Bapa Ford. Ia membantu sang pendeta membangun bisnis tekstil juga beternak.

Akan tetapi, kebersamaan Solomon dengan sang pendeta hanya berlangsung sampai musim dingin tahun 1842, karena Bapa Ford mengalami kesulitan ekonomi pada saat itu.

Solomon pun dijual ke salah satu bawahannya yang bernama John M. Tibaut. Semenjak berganti kepemilikan, Solomon merasakan masa-masa terburuknya sebagai budak. John selalu berbuat kasar pada budak-budaknya, termasuk Solomon.

Satu waktu, John memecut Solomon karena pekerjaannya yang dianggap "tidak becus". Solomon berani melawan John karena pekerjaannya tidak dihargai, membuat John terluka parah.

Alhasil, John pun murka dan langsung memberi hukuman gantung kepada Solomon.

Beruntung, aksi kejamnya John terciduk oleh Bapa Ford. Karena ketahuan, John bersama rekan yang membantunya langsung lari terbirit-birit. Solomon pun langsung dibebaskan dan diobati.

Dinilai tidak becus dalam memperlakukan budaknya dengan baik, John pun dipaksa untuk menjual Solomon.

Terpilihlah Edwin Epps sebagai pemilik barunya Solomon. Edwin menjadi pemilik terlama dari Solomon.

Ia memperbudak Solomon selama 10 tahun. Akan tetapi, Edwin justru merupakan pemilik terburuk yang pernah memperbudak Solomon.

Tidak hanya menyiksa, Edwin juga kerap mengolok-olok para budaknya, begitupun dengan Solomon.

Jalan Menuju Kebebasan

Di tahun 1852, Edwin Epps mulai bekerja sama dengan seorang tukang kayu asal Kanada bernama Samuel Bass. Selain berprofesi sebagai tukang kayu, Samuel juga seorang aktivis anti-perbudakan.

Solomon mulai menggunakan kesempatan emasnya untuk bisa bebas. Ia menceritakan semua pengalamannya selama 12 tahun ke belakang kepada Samuel.

Pada akhirnya, Samuel mulai membantu Solomon untuk mendapatkan kebebasannya. Ia mulai menulis surat kepada orang terdekatnya Solomon di Saratoga Springs.

Awalnya surat mengenai keberadaan Solomon diterima oleh atasannya di United States Hotel bernama James Marvin.

Kemudian, surat tersebut disampaikan ke teman kerjanya Solomon bernama Cephas Parker dan William Pery. Hingga akhirnya, surat itu sampai di tangannya Anne, istri dari Solomon.

Usai menerima surat dari sang Suami, Anne meminta bantuan kepada pengacara Henry B. Northrop, putra dari mantan majikan Ayahnya Solomon.

Sesampainya surat itu di tangannya Henry, Gubernur New York yang saat itu dipegang oleh Washington Hunt, mendengar soal nasibnya Solomon lewat Henry.

Berhubung adanya peraturan tentang anti-perbudakan di New York per tahun 1840, Gubernur Washington berjanji akan menindak tegas para pelaku yang sudah memperbudak Solomon, sekaligus melakukan upaya pembebasan kepadanya.

Upaya pembebasan pun dilakukan. Samuel secara diam-diam membebaskan Solomon dari perbudakan Edwin.

Ilustrasi Penyelamatan Solomon dari Hukumannya John.

Ia meminta Solomon untuk pergi ke Louisiana, dimana nantinya Ia akan dijemput oleh Henry. Solomon awalnya tidak tahu apakah Samuel serius dengan upaya penyelamatannya.

Selama ini, Samuel menerima surat balasan dari orang terdekatnya Solomon secara diam-diam. Jadi, hanya dirinya saja yang tahu bagaimana rencana pembebasan Solomon.

Solomon diminta untuk pergi ke Washington D.C. guna menemui Pierre Soule, seorang legislator yang nantinya akan mengantar Solomon ke Louisiana.

Setelah itu, mereka berdua tiba di tujuan dan bertemu dengan Henry. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Sandy Hill, Henry menyelesaikan administrasi pembebasan Solomon kepada Edwin.

Saat semuanya sudah selesai, Solomon akhirnya kembali pulang. Tanggal 4 Januari 1853 menjadi hari dimana Solomon bisa bebas dari aksi perbudakan yang dialaminya selama 12 tahun.

Menuntut Balas & Akhir yang Kontroversial

Henry B. Northrop tidak tinggal diam usai misi pembebasan Solomon berhasil, bersama Senator Ohio saat itu, Salmon Portland Chase dan Jenderal Orville Clark, mulai mencari pelaku utama yang sudah memperbudak Solomon.

Berdasarkan penuturan Solomon, nama James H. Birch masuk ke dalam daftar pencarian Henry dkk. Dan tanpa waktu lama, James bisa ditangkap atas tuduhan penjualan budak secara ilegal.

Solomon bersama para mantan budak menjadi saksi dalam persidangan, sekaligus membenarkan tindakan perbudakan ilegal yang dilakukan oleh James.

Untuk membantu Solomon, Henry membawa sejumlah dokumen terkait asal usulnya Solomon guna memperkuat bukti kalau James juga melakukan aksi penculikan terhadapnya.

James mengakui perbuatannya, termasuk memalsukan tempat kelahirannya Solomon. Tapi, hanya karena James tidak memiliki bukti penjualannya Solomon, James berhasil menang di pengadilan.

Dengan demikian, James dinyatakan tidak bersalah. Akan tetapi, Theopilus memiliki bukti penjualan budak antara dirinya dengan Bapa Ford di tanggal 23 Juni 1841.

Namun sayang, hal tersebut tetap tidak mempengaruhi keputusan hakim terhadap James.

Pengadilan Solomon menarik perhatian media The New York Times. Berkat mereka, pengadilan yang kontroversial tersebut menjadi konsumsi publik usai artikelnya dirilis pada tanggal 20 Januari 1853.

Lalu bagaimana dengan Merrill dan Abram? Bagaimana nasib mereka usai Solomon bebas dari perbudakannya?

Sampai saat ini, tidak ada yang tahu siapa itu Merrill Brown dan Abram Hamilton, karena kedua nama tersebut bukanlah nama asli dari penculiknya Solomon.

Menulis Buku Memoar yang Fenomenal

Usai kembali pulang, Solomon dibantu dengan seorang penulis dan pengacara bernama David Wilson, membuat sebuah memoar yang diberi judul "Twelve Years a Slave".

Memoar tersebut menceritakan perjalanan hidup Solomon dari awal sampai dirinya bebas dari aksi perbudakan.

Buku memoar tersebut dibuat selama 3 bulan dan diterbitkan oleh Derby & Miller selaku penerbitnya.

Buku tersebut dirilis di tahun 1853 dan menjadi buku best-seller usai terjual sebanyak 30.000 kopi dalam waktu 3 tahun.

Buku

Sue Eakin dan Joseph Logsdon menjadi ahli sejarah yang mengonfirmasi secara resmi semua detail kebenaran yang ditulis oleh Solomon.

Baca Juga: 3 Fakta Aneh Hak Ayah di Zaman Romawi, Boleh Menjual Anak Jadi Budak hingga Bunuh Keluarga

Sebagai bentuk promosi, Solomon sampai mengadakan tur ke wilayah timur laut AS, mulai dari Maine, New Hampshire, Vermont, Massachussetts, Rhode Island, Connecticut, New York, New Jersey dan Pennsylvania.

Setelah tur, Solomon kembali menulis buku keduanya yang berjudul "Solomon Northup: The Complete Story of the Author of Twelve Years a Slave".

Menjadi Aktivis Anti-Perbudakan & Akhir Kisahnya

Solomon turut menyumbang suaranya sebagai aktivis anti-perbudakan. Pada sebuah sidang di New York tanggal 4 Oktober 1854, dirinya turut menjadi saksi di persidangan.

Sayangnya, kasus perbudakan dalam sidang tadi berjalan alot walaupun para hakim menerima kesaksian Solomon.

Akhirnya pada bulan Mei 1857, kasus tersebut terpaksa ditutup dengan hasil yang tidak memuaskan.

Tidak hanya menjadi seorang aktivis, Solomon dikabarkan bekerja sebagai tukang kayu untuk menghidupi keluarganya.

Di tahun 1857, Solomon dikabarkan berpisah dengan keluarganya. Ada 3 alasan dibalik kepergian Solomon.

Ada yang menyebutkan kalau Solomon pergi ke Kanada dan menjadi pembicara di berbagai kegiatan sosial.

Ada yang menyebutkan kalau Solomon kembali diperbudak, namun setelah mengetahui usia Solomon yang sudah tua, alasan tersebut rasanya tidak masuk akal.

Tidak ada yang mau menggunakan seorang budak yang sudah berusia lanjut.

Dalam penuturannya John R. Smith, Ayahnya yang bernama John L. Smith mengaku pernah bekerja sama dengan Solomon dalam upaya pembebasan para budak pada masa Perang Saudara AS.

Hal tersebut dibuktikan lewat surat sang Ayah, yang John temukan pada tahun 1930-an.

Solomon dikabarkan meninggal dunia diantara tahun 1863 dan 1864. Tidak ada yang tahu kapan tanggal pasti dan apa penyebab kematiannya.

Menurut sejarawan AS bernama Clifford Brown dan Carol Wilson, diduga Solomon meninggal karena faktor usia.

Buku memoarnya Solomon yang berjudul Twelve Years a Slave diadaptasi ke dalam film televisi di tahun 1984 dengan judul Solomon Northup's Odyssey dan di film tahun 2013 dengan judul 12 Years a Slave.

Film 12 Years a Slave.

Versi adaptasi film di tahun 2013 sukses menyabet beberapa penghargaan di ajang Piala Oscar, salah satunya adalah kategori "Best Picture".

Writer: Victor Median


Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone.Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU