Rabu, 14 FEBRUARI 2024 • 07:00 WIB

Fritz Duquesne, Sang Mata-mata Afrika yang Sukses Bikin Amerika Ketar-Ketir

Author

Frederick Joubert Duquesne.

INDOZONE.ID - Frederick Joubert Duquesne alias Fritz Duquesne adalah seorang tentara, pemburu, jurnalis dan mata-mata yang berasal dari Afrika Selatan.

Dengan keahliannya, Ia memiliki banyak sekali identitas samaran, juga asal-usul keluarga yang kebanyakan berupa karangannya saja.

Fritz pernah ikut dalam Perang Boer Kedua dan menjadi mata-mata bagi pihak Jerman di era Perang Dunia.

Baca Juga: Ngeri! Gara-gara Googling Kim Jong-un, Agen Mata-mata Korut Dihukum Mati

Sebagai mata-mata, Ia sukses melakukan sabotase di dalam internal pasukan Inggris dan Amerika Serikat.

Beberapa nama samaran yang digunakan Fritz diantaranya adalah "DUNN", "The Duke" sampai "Black Panther".

Selama menjadi mata-mata, Fritz beberapa kali ditangkap dan dimasukkan ke penjara. Tidak hanya itu, Ia selalu berhasil kabur dari penjara.

Dari sekian banyak misi dan kasus yang Ia hadapi, salah satu yang berhasil bikin Amerika Serikat kewalahan adalah "The Duquesne Spy Ring", pasalnya tim FBI harus mencari dan menangkap total 33 mata-mata Jerman, termasuk Fritz.

Latar Belakang Kehidupan

Fritz lahir di East London, Cape Colony, Afrika Selatan tanggal 21 September 1877. Merupakan putra sulung dari pasangan Abraham Duquesne dan Minna Joubert. Fritz memiliki 2 orang adik bernama Elsbet dan Pedro.

Di masa kecilnya, keluarganya Fritz pindah dari kota Nylstroom ke Transvaal. Di sana, mereka tinggal di sebuah peternakan.

Ayahnya bekerja sebagai pemburu yang menjual hasil buruannya untuk menghidupi keluarganya. Karena pekerjaan sang Ayah, Fritz ikut menjadi seorang pemburu untuk membantu ekonomi keluarga.

Selama menjadi pemburu, Fritz menjadikan macan kumbang dan banteng Afrika sebagai target utamanya.

Di usianya yang ke-12, Fritz pernah memicu perang antar suku di Nylstroom usai menghabisi nyawa suku Zulu yang sudah menyiksa Ibunya sendiri.

Kematian suku Zulu itu diduga disebabkan oleh salah satu suku tetangga, padahal Fritz sendirilah yang jadi pelakunya.

Akibatnya, Fritz bersama keluarga dan kerabatnya harus kabur dari rumahnya, menyebabkan Paman, Bibi dan Sepupunya meninggal dunia.

Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, ada beberapa asal-usul keluarga yang dibuat oleh Fritz, seperti mengaku sebagai keturunan dari Abraham Duquesne, seorang Komandan Armada Laut Perancis juga keponakan dari Piet Joubert, salah satu prajurit yang paling berjasa di masa Perang Boer Pertama.

Fritz juga mengarang bahwa di usia 13 tahun, dirinya mengaku bersekolah di Universitas Oxford dan Academie Militaire Royale Brussels, Belgia.

Dalam catatan lain, Ia berkata kalau dirinya pernah bersekolah di Inggris lalu lanjut ke Eropa untuk mengambil jurusan Teknik. Namun kebenaran soal pendidikan Fritz tidak pernah terbukti sampai sekarang.

Era Perang Boer Kedua & Aksi Spionase Perdananya

Fritz mengaku ikut membantu sang "Paman", Piet Joubert dalam Perang Boer Kedua. Meski terluka pasca perang, Fritz diangkat sebagai Kapten oleh pasukan militer Boer.

Usai kalah dalam Pertempuran Colenso pada 15 Desember 1899, Fritz sempat dipenjara, beruntung Ia bisa kabur dari penjara.

Fritz kembali ikut bertempur bersama prajuritnya dalam Pertempuran Bergendal pada pertengahan bulan Agustus 1900, namun pasukannya kalah dan membuat Fritz kembali di penjara.

Ketika di penjara, Fritz berhasil membujuk putri dari salah satu sipir penjara untuk membebaskannya, setelah itu Fritz kabur ke Paris, Perancis lalu ke Aldershot, Inggris.

Saat di Inggris, Fritz menggunakan identitas samaran untuk bisa bergabung dengan pasukan militer Inggris. Fritz ikut bersama pasukan Inggris ke kampung halamannya di Nylstroom.

Di sana Ia baru mengetahui kalau pasukan Inggris sudah membakar rumah dan membantai keluarganya.

Dari sinilah Fritz mulai menaruh dendam kepada pasukan Inggris, terutama pemimpin pasukannya saat itu, Lord Kitchener. Fritz berencana untuk melakukan sabotase di dalam tubuh pasukan Inggris.

Dalam upayanya, Ia mengajak 20 orang tentara Boer untuk membantunya, sayangnya upayanya Fritz gagal. Setelah ditangkap, Ia sempat direncanakan untuk dieksekusi mati.

Di hari eksekusinya, 20 orang tentara Boer yang membantu Fritz sudah dieksekusi, namun Fritz berhasil mengajukan banding sehingga hukumannya diringankan menjadi hukuman seumur hidup.

Awalnya Fritz ditahan di Penjara Castle of Good Hope di Cape Town, Afrika Selatan. Saat berusaha untuk kabur, Fritz gagal setelah tertimpa batu saat melarikan diri lewat terowongan yang Ia buat.

Fritz dipindahkan ke penjara milik pasukan Inggris di wilayah Bermuda, di mana penjara tersebut terletak di sebuah pulau dengan keadaan sekitar yang ekstrem, mulai dari badai, lautan yang dihuni oleh Hiu, sampai karang laut yang berbahaya.

Pada 25 Juni 1902, Fritz berhasil kabur dari penjara dengan berenang ke arah mercusuar. Kemudian, Fritz datang ke rumah Anna Maria Outerbridge selaku Ketua Komite Bantuan untuk Bangsa Boer.

Fritz meminta Anna untuk menjadwalkan kapal untuk berangkat dari Pelabuhan St. George, Bermuda. Sekitar seminggu kemudian, Fritz bisa berangkat dari Bermuda kemanapun kapal yang Ia tumpangi membawanya.

Kebohongan lain yang pernah Fritz ungkap di masa ini adalah dirinya mengaku pernah menyembunyikan emas milik pasukan Inggris yang diambil dari bank pusat kota Machadodorp, Afrika Selatan untuk dikirim ke Belanda.

Konon katanya, emas tersebut disembunyikan di sebuah gua yang dipenuhi oleh Macan Tutul. Menurut sejarawan bernama Art Ronnie, kisah tersebut hanya mitos, tapi di sisi lain ada beberapa warga Afrika Selatan yang mengaku pernah menemukan emas tersebut.

Hijrah ke Amerika Serikat

Kapal yang membawa Fritz tiba di AS, tepatnya di wilayah Baltimore, Maryland. Kemudian, Fritz pindah ke New York untuk bekerja sebagai jurnalis untuk media New York Herald dan media cetak lain sebagai penulis cerita bergenre petualangan.

Di tahun 1908, Fritz pernah membantu Sir Arthur Jones untuk melaporkan beberapa peristiwa yang terjadi di dunia saat itu, mulai dari Perang Rusia-Jepang, Pemberontakan di Maroko, dan penjajahan Belgia di Kongo.

Di tahun 1910, Fritz menikah dengan seorang wanita AS bernama Alice Wortley. Pernikahannya ini hanya berjalan selama 8 tahun.

Selain menjadi jurnalis, Fritz pernah ditunjuk sebagai ahli oleh seorang pejabat AS bernama Robert Broussard untuk organisasi American Hippo Bill. Dalam tugasnya, Fritz diminta untuk memilih Kuda Nil terbaik dari Afrika sebagai suplai daging bagi warga AS.

Fritz mengimpor beberapa ekor Kuda Nil dan menghabiskan biaya sebesar $250.000. Usahanya sebagai ahli mendapat pujian dari Presiden AS saat itu, Theodore Roosevelt.

Dari situ, Fritz ditunjuk sebagai instruktur pribadi Presiden Roosevelt dan membantu perjalanan berburunya ke Afrika. Pada bulan Desember 1913, Fritz dinaturalisasi menjadi warga AS sebagai imbalan atas jasanya saat itu.

Menjadi Agen Rahasia Jerman di Masa Perang Dunia Pertama

Frederick Joubert Duquesne jadi agen rahasia Jerman di masa Perang Dunia.

Fritz resmi menjadi mata-mata Jerman di tahun 1914, usai bertemu seorang pengusaha berdarah Jerman-Amerika.

Misi pertamanya adalah mencari informasi mengenai armada laut Inggris yang saat itu sedang berada di Brazil.

Setelah mendapat sejumlah informasi dan mencuri beberapa sampel mineral, Fritz sukses menghancurkan sekitar 22 kapal armada Inggris.

Pihak Inggris pun marah dan mulai mencari pelaku dari kejadian itu. Fritz hampir tertangkap oleh organisasi intelijen Inggris, MI5, karena identitasnya dibongkar oleh salah seorang agen rahasia lain bernama Bauer.

Beruntung, Fritz berhasil kabur ke Buenos Aires, Argentina, kemudian memalsukan kematiannya dengan cara merilisnya lewat berita di media cetak.

Fritz kembali ke AS pada bulan Mei 1916, kemudian lanjut ke misi keduanya di Eropa pada bulan Juni 1916.

Misi keduanya adalah menghabisi nyawa Lord Kitchener yang kebetulan saat itu sedang dalam perjalanan menaiki kapal HMS Hampshire di Skotlandia.

Ini adalah misi yang spesial bagi Fritz, karena akhirnya Ia berhasil membalaskan dendam keluarganya kepada Kitchener.

Misi tersebut berhasil berkat bantuan pasukan Jerman. Fritz berhasil kabur dan Lord Kitchener meninggal akibat tenggelam bersama kapal HMS Hampshire.

Misi ketiga Fritz dimulai di bulan Juli 1917, kali ini tugasnya adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya dari dalam tubuh militer AS.

Sayangnya, misi ini berakhir dengan kegagalan setelah Fritz ditangkap di New York pada 17 November 1917, bersama dengan bukti aksi spionasenya yang berhasil diungkap oleh FBI.

Fritz rencananya akan diekstradisi ke Inggris, karena terbukti sebagai tersangka kematiannya Lord Kitchener.

Pasca Kegagalan Misinya

Fritz mengaku mengalami "kelumpuhan" sebelum diekstradisi. Alhasil Ia dibawa ke Bellevue Hospital untuk menjalani perawatan.

Pada 25 Mei 1919, Fritz menyamar sebagai perempuan dan berhasil kabur dari penjara, kemudian menggunakan nama samaran baru sebagai Frank de Trafford Craven, dan bekerja di beberapa studio film di AS sebagai staff pengiklanan film.

Tanggal 23 Mei 1932, Fritz kembali ditangkap oleh kepolisian usai melacak identitas Fritz berdasarkan buku The Man Who Killed Kitchener karya penulis Clement Wood.

Dalam persidangannya, Fritz menunjuk pengacara Arthur Garfield Hays sebagai pembelanya, beruntung Fritz bisa lolos dari penahanan.

Setelah itu, Fritz diundang untuk menghadiri sebuah sesi wawancara bersama editor majalah America bernama Wilfrid Parsons, di situ Fritz membongkar semua cara "kotor" yang dilakukannya sebagai mata-mata, termasuk cara memasang bom.

Kembali Menjadi Agen Jerman & Kasus Duquesne Spy Ring

Per musim semi 1934, Fritz kembali bekerja sebagai mata-mata AS yang memihak Nazi Jerman. Kali ini, Ia bekerja sama dengan Kolonel Nikolaus Ritter dalam beberapa misinya.

Tanpa sepengetahuan Fritz dan Ritter, FBI mengirim William Sebold sebagai agen ganda mereka, Sebold menjadi agen untuk FBI dan organisasi mata-mata milik Nikolaus Ritter.

Dalam tugasnya, Sebold melaporkan berbagai macam rencana agen rahasia Jerman kepada FBI. Setelah melakukan investigasi selama 2 tahun, tim FBI bersiap untuk melakukan penangkapan.

Fritz ditangkap oleh FBI usai dijebak oleh Sebold yang meminta Fritz untuk datang ke ruang kantornya, di mana di dalamnya sudah ada beberapa anggota FBI yang bersembunyi.

Baca Juga: Fakta Lengkap Red Baron, Pilot Jerman di Perang Dunia I yang Kematiannya di Udara Masih Menyisakan Misteri

Penangkapan tersebut dilakukan di tanggal 28 Juni 1941.Selain Fritz, FBI berhasil menangkap 32 agen lainnya yang menjadi rekan kerjanya Fritz.

Aksi penangkapan Fritz dan rekannya ini berhasil menghebohkan seluruh warga AS, bagaimana bisa Jerman menyusupi AS melalui 33 orang agen rahasianya. Kejadian ini kemudian dikenal sebagai “The Duquesne Spy Ring”.

Berdasarkan hasil sidang di tanggal 2 Januari 1942, para agen rahasia Jerman tersebut dijatuhi hukuman yang jumlahnya mencapai lebih dari 300 tahun penjara atas tindakan spionase.

Fritz yang kebetulan sudah berusia tua tidak bisa kabur lagi dari penjara, Ia dijatuhi hukuman 18 tahun penjara dan denda sebesar $2.000.

Akhir Perjalanan Sang Mata-Mata

Akhir hidup Frederick Joubert Duquesne.

Selama dipenjara, Fritz menjadi korban penyiksaan oleh narapidana lainnya.

Barulah di tahun 1945, Fritz dipindahkan ke Pusat Medis Penjara Federal Springfield, Missouri, karena kondisi kesehatan fisik dan mental yang semakin memburuk.

Di tahun 1954 setelah mendekam di penjara selama 14 tahun, Fritz dibebaskan karena alasan kesehatan.

Fritz meninggal di Rumah Sakit Kota New York pada 24 Mei 1956 di usia 78 tahun.

Jenazahnya dikremasi di Fresh Pond Crematory and Columbarium pada 29 Mei 1956, kemudian abunya dikubur di pemakaman New York's Potters Field.

Writer: Victor Median


Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone.Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU