Selasa, 09 JANUARI 2024 • 16:15 WIB

Kisah Perjalanan Park Geun-hye: Presiden Wanita Pertama Korsel hingga Kontroversi Skandal Politik

Author

Park Geun-hye, presiden korsel wanita pertama.

INDOZONE.ID - Park Geun-hye adalah Presiden Korea Selatan ke-11 yang menjabat di tahun 2013 sampai tahun 2017. Ia adalah presiden wanita pertama di Korea Selatan sekaligus presiden pertama yang memiliki hubungan keturunan langsung dengan presiden sebelumnya, yakni Park Chung Hee, presiden ke-3 di Korea Selatan.

Geun-hye lahir pada tanggal 2 Februari 1952 di distrik Jung, Daegu. Ia adalah anak pertama dari 3 bersaudara dari pasangan Presiden Park Chung Hee dan Yuk Young-soo.

Di tahun 1953, keluarganya pindah ke Seoul. Setelah itu, dirinya menamatkan pendidikan sekolah dasar di Jangchung Elementary School, dan sekolah menengah di Sungshim Girls' Middle and High School pada tahun 1970.

Baca Juga: Mengenal Sosok Albert Einstein, Fisikawan Teoretis yang Menolak Jadi Presiden Israel

Setelah itu, Ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Sogang tahun 1974 dengan gelar diploma pada jurusan Teknisi Elektronik. Disamping itu, Geun-hye juga mendapatkan gelar penghormatan dari beberapa universitas, ada dari Universitas Kebudayaan Tiongkok di Taiwan pada tahun 1987, Universitas Nasional Pukyong dan Institut Teknologi dan Ilmu Pengetahuan Lanjutan Korea (KAIST) pada tahun 2008, dan Universitas Teknik Dresden di Jerman pada tahun 2014.

Tadinya, Geun-hye hendak melanjutkan pendidikannya di Universitas Joseph Fourier yang berlokasi di Perancis. Namun karena situasi politik Korea yang "berat", mengakibatkan sang Ibu meninggal dunia usai dibunuh oleh Mun Se-gwang, seorang pria asal Korea Utara yang lahir di Jepang.

Se-gwang adalah anggoota Chongryon, yaitu sebuah asosiasi umum rakyat Korea yang tinggal di Jepang. Kejadiannya terjadi di tanggal 15 Agustus 1974, di mana saat itu Presiden Chung Hee dan sang Ibu Negara tengah menikmati acara seni di Gedung Teater Nasional Korea Selatan.

Pada saat kejadian, Se-gwang hampir saja menghabisi nyawa Presiden Chung Hee, beruntung nyawanya masih selamat. Untuk menggantikan sang Ibu sebagai Ibu Negara, Geun-hye pun terpilih menjadi kandidatnya.

Barulah di tanggal 26 Oktober 1979, Presiden Chung Hee harus menghembuskan nafas terakhirnya akibat perbuatan kepala intelijennya yang bernama Kim Jae-gyu.

Lagi-lagi karena politik Korea yang berat, membuat kedua sahabat yang sudah saling mengenal sangat lama menjadi "musuh dalam selimut".

Semua orang yang berada di pihak oposisi dengan keluarganya Geun-hye mengaku kalau mereka sempat ditahan secara sewenang-wenang oleh Chung Hee.

Selain itu, derajat hak asasi manusia di Korea Selatan saat itu dianggap berada di bawah levelnya pembangunan ekonomi. Kemudian di tahun 2007, Geun-hye menyatakan permintaan maafnya kepada para pihak yang beroposisi dengan keluarganya.

Karier Politik

Perjalanan karier Geun-hye baru dimulai pada tahun 1998, di mana saat itu dirinya mencalonkan diri sebagai anggota dewan untuk wilayah Daegu dari Partai Kebebasan Nasional Korea Selatan (Saenuri). Dia mencalonkan diri tak hanya di tahun 1998, tapi juga di tahun 2008 dan 2012.

Barulah di tahun 2012, Geun-hye terpilih sebagai salah satu anggota dewan di Korea Selatan. Dalam perjalanannya selama 14 tahun itu, tentunya ada banyak sekali hal yang Geun-hye hadapi.

Misalnya saat dirinya dicalonkan sebagai Ketua Umum Saenuri pada tahun 2004. Sebelum itu, sempat ada upaya untuk menggulingkan presiden Korea Selatan di tahun 2002, yaitu Roh Moo-hyun.

Park Geun-hye saat menghadiri Hari Anak Korea Selatan.

Moo-hyun sempat terbukti melakukan tindakan suap pada Pemilu tahun 2002. Namun, upaya tersebut berakhir dengan kegagalan. Pada tahun 2004, Lee Hoi-chang sempat dicalonkan sebagai Ketua Umum Saenuri.

Tapi sayangnya dia juga terbukti melakukan suap pada Pemilu tahun itu. Sebagai gantinya, Geun-hye pun dicalonkan sebagai ketua umum dan berhasil dinobatkan setelahnya. Geun-hye menjabat sebagai Ketua Umum Saenuri untuk periode 23 Maret 2004 sampai 15 Juni 2006.

Ada sebuah pengalaman pahit yang dialami Geun-hye saat sedang berkampanye di tanggal 20 Mei 2006. Dirinya diserang oleh seorang pria berumur 50 tahun bernama Ji Chung-ho, seorang residivis yang memiliki catatan kriminal sebanyak 8 kali keluar-masuk penjara.

Chung-ho menyerang Geun-hye dengan sebilah pisau yang membuat wajahnya mengalami luka tusuk sepanjang 11 cm. Alhasil, Geun-hye langsung dilarikan ke Rumah Sakit untuk dilakukan penjahitan sebanyak 60 jahitan di wajahnya.

Setelah beberapa jam, Geun-hye pun sudah kembali sadar dari lukanya. Tapi, ada sebuah anekdot yang membuat nama Geun-hye dicap sebagai "Ratu Pemilu".

Sesaat setelah siuman, Geun-hye secara random bertanya kepada sekretarisnya, "Bagaimana kabar Daejeon?", buat yang belum tahu, Daejeon adalah salah satu daerah metropolitan yang ada di Korea Selatan.

Usai membahas daerah Daejeon, banyak pejabat Saenuri yang memenangkan pemilihan untuk wilayah tersebut, meskipun kenyataannya mereka kalah dari persentase jumlah suaranya sebesar 20%.

Di saat Geun-hye menjabat sebagai Ketua Umum Saenuri periode 2004-2006, ada beberapa anggota Saenuri yang menang pemilihan di 40 daerah lainnya. Hal ini menjadi semacam bentuk kekuatan dari kepemimpinannya Geun-hye di Saenuri.

Pada 12 Februari 2007, Geun-hye mendatangi Universitas Harvard dengan maksud mencari dukungan para kaum muda Korea Selatan yang ada di sana.

Geun-hye juga berjanji akan "menyelamatkan" Korea Selatan sekaligus membangun hubungan diplomatis antara Amerika Serikat dengan Korea Selatan. Tahun 2008 menjadi tahun kedua Geun-hye mencalonkan diri sebagai Presiden di ajang Pemilu.

Saat itu, dirinya harus berhadapan dengan Lee Myung-bak dari kubu oposisi. Dan seperti yang sudah diberitahu di bagian sebelumnya kalau di tahun 2008, Geun-hye masih belum berhasil untuk terpilih sebagai Presiden.

Meski kalah, Geun-hye memiliki kelompok penggemarnya sendiri yang dinamakan Chin Park Musosok Yeondae. Selanjutnya di tahun 2011, Geun-hye kembali menjabat sebagai Ketua Umum Saenuri dengan masa jabatan dari tanggal 19 Desember 2011 hingga 15 Mei 2012.

Dengan gelar "Ratu Pemilu", Geun-hye sebenarnya sudah memiliki kemenangan pada persentase suara sejak tahun 2008. Di bulan September 2011 saja, persentasenya bertambah dari yang awalnya hanya 25% menjadi 45%.

Ia juga berhasil mengalahkan Ahn Cheol-soo sebagai saingannya kala itu. Mulai dari tanggal 10 Juli 2012, Geun-hye memulai masa kampanye sebagai calon Presiden Korea Selatan. Dalam janjinya, Geun-hye akan bertekad untuk memajukan hak kebahagiaan dan kesejahteraan warga sampai pertumbuhan ekonomi demokrat negara.

Dengan janji tersebut, Geun-hye berhasil mendapatkan 45,5% persentase suara menurut survei Nasional yang dilakukan oleh Mono Research. Selain Ahn Cheol-soo, Geun-hye juga bersaing dengan Moon Jae-in dari Partai Demokrat Korea Selatan di perhelatan Pemilu 2012.

Dari hasil akhirnya, Park Geun-hye berhasil memenangkan Pemilu dengan perolehan suara yang mencapai angka 51,6%. Pada akhirnya, di tanggal 25 Februari 2013, Park Geun-hye dinobatkan sebagai Presiden Korea Selatan.

Perjalanan Karier sebagai Presiden

Selama 4 tahun kepemimpinannya, Park Geun-hye berfokus mengubah tatanan hidup masyarakat Korea Selatan dengan 5 tujuan utama, “rakyat”, “kebahagiaan”, “kepercayaan”, “kemakmuran bersama”, dan “asas”.

Ia juga mencoba untuk menjalin berbagai macam hubungan diplomatis dengan beberapa negara, termasuk Korea Utara, Tiongkok, Amerika Serikat sampai Rusia. Meski begitu, ada banyak sekali hambatan yang harus dihadapinya.

Memasuki tahun keduanya sebagai Presiden, Geun-hye harus dihadapkan dengan kasus tenggelamnya kapal feri MV Sewol pada tanggal 18 Mei 2014. Dirinya dianggap gagal dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Park Geun-hye saat dilantik menjadi Presiden Korea Selatan.

Ada juga kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh salah satu juru bicaranya saat bertamu ke kedutaan Korea Selatan di Washington, Amerika Serikat. Kesalahan Geun-hye dalam memilih wakil untuk diajak ke kedutaan di negara lain menuai kecaman dari berbagai pihak.

Lalu di tahun ketiga, masyarakat Korea Selatan semakin membenci sang Presiden karena kurangnya komunikasi antara Presiden dengan rakyatnya.

Alhasil pada 15 November 2015, diadakanlah aksi protes besar-besaran yang meminta Park Geun-hye untuk turun dari jabatannya. Aksi ini bahkan sampai diikuti oleh 80.000 orang pengunjuk rasa.

Aksi Unjuk Rasa Masyarakat Korea Selatan untuk Menuntut Park Geun-hye Turun dari Jabatannya.

Puncaknya di tahun 2016, ada sebuah skandal yang melibatkan Geun-hye dengan Choi Soon-sil, putri dari salah satu mentornya Geun-hye yang bernama Choi Tae-min. Menurut laporan media setempat, JTBC dan Hankyoreh, Soon-sil dilaporkan memiliki akses ilegal terhadap beberapa dokumen penting milik pemerintah.

Tak hanya itu, Geun-hye dan Soon-sil juga terbukti menyuruh 2 pejabatnya, yaitu Ahn Jong-bum dan Jeong Ho-sung, untuk melakukan pemerasan terhadap 2 yayasan olahraga di Korea Selatan, yaitu Mir dan K-Sports.

Dalam proses penyelidikannya, terbukti bahwa Jong-bum dan Ho-sung telah memeras 77,4 Miliar Won dari kedua yayasan tersebut. Bermodalkan kedekatannya dengan Geun-hye, Soon-sil juga menyogok Universitas Wanita Ewha di Seoul agar putrinya, Chung Yoo-ra bisa masuk ke Universitas tersebut.

Bukti dari skandal tersebut pun terungkap pada tanggal 25 Oktober 2016, menyebabkan nama Geun-hye menjadi tercemar. Selain itu, Jong-bum dan Ho-sung akhirnya ditangkap atas tindakan pemerasan yang dilakukannya, walaupun mereka sempat membantah saat proses penyelidikannya.

Sebagai reaksi atas terbuktinya skandal yang dilakukan oleh Geun-hye, sebanyak 1 juta masyarakat Korea Selatan kembali melakukan aksi protes untuk memaksa sang Presiden turun dari jabatannya.

Aksi ini terjadi pada periode bulan Oktober hingga November 2016 dan berlangsung di Balai Kota Gwanghamun. Bukannya turun jabatan, Geun-hye malah memecat sejumlah menterinya.

Dalam pengakuan Perdana Menteri Korea Selatan saat itu, Hwang Kyo-ahn, cara pemecatannya Geun-hye pun dinilai kontroversial, karena hanya melalui SMS ke nomor telepon menteri yang dipecatnya saja.

Dalam persidangannya, Geun-hye juga dipanggil oleh Jaksa Agung Korea Selatan untuk dimintai pertanggungjawabannya atas skandal yang dilakukannya. Pada akhirnya di tanggal 29 November 2016, Geun-hye mendapat tawaran untuk mundur dari jabatannya.

Tak hanya itu, Ia juga mendapat tawaran untuk menyerahkan kekuasaannya kepada pihak oposisi. Akan tetapi baik Geun-hye dan pihak oposisi sama-sama menolak tawaran tersebut. Puncaknya pada 9 Desember 2016, Majelis Nasional Korea Selatan melakukan pemungutan suara yang hasilnya memutuskan untuk memberhentikan Park Geun-hye sebagai Presiden Korea Selatan.

Sebagai gantinya, Majelis Nasional memilih Perdana Menteri Hwang Kyo-ahn sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di pemerintahan Korea Selatan untuk sementara waktu. Park Geun-hye baru resmi dinyatakan mundur sebagai Presiden Korea Selatan pada 10 Maret 2017.

Akhir Perjalanan Sebagai Presiden & Fakta Menariknya

Pada akhir bulan Maret 2017, Geun-hye resmi ditahan atas dakwaan penyalahgunaan kekuasaan, penyuapan, pemaksaan kehendak dan tindakan membocorkan rahasia pemerintahan. Ia diwajibkan untuk membayar denda sebesar 188,5 Miliar Won dan hukuman penjara selama 30 tahun.

Akan tetapi, masa tahanan Geun-hye terus mengalami pengurangan hingga bulan Januari 2021 dari yang awalnya 30 tahun penjara, menjadi 20 tahun penjara. Dan pada tanggal 24 Desember 2021, Geun-hye mendapatkan permohonan maaf dari Presiden Korea Selatan saat itu, Moon Jae-in.

Bukan karena tanpa alasan, melainkan karena faktor kesehatan Park Geun-hye akibat pandemi Covid-19. Dia langsung dilarikan ke Samsung Medical Center untuk dilakukan pertolongan.

Barulah di akhir tahun 2021, Park Geun-hye resmi dibebaskan dari penjara. Dirinya baru bisa pulang dari Rumah Sakit di tanggal 24 Maret 2022.

Semasa berkarier di bidang politik, Geun-hye kerap dikritik oleh pihak oposisi terkait masa lalu orang tuanya. Apalagi pada saat menjabat sebagai Presiden, Park Chung Hee dikenal sebagai salah satu diktator di Korea Selatan.

Meski begitu, dirinya berhasil membuktikan kepada lawan politiknya bahwa sebagai wanita, Ia bisa menunjukkan kelebihannya. Dalam majalah Forbes edisi 2013 dan 2014, Geun-hye termasuk ke dalam daftar "100 Wanita Paling Berpengaruh di Dunia".

Baca Juga: Fenomena Musim Gugur Aneh dan Tidak Biasa di Korea Selatan, Daun yang Gugur Belum Menguning

Satu lagi fakta menarik soal Geun-hye adalah sampai saat ini, Ia masih belum menikah, walaupun pada masa pandemi kemarin, dirinya sampai jatuh sakit dan dirawat hingga tahun 2022 kemarin.

Writer: Victor Median


Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone.Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.

Z Creators

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU