Selasa, 12 DESEMBER 2023 • 16:10 WIB

Sepak Terjang Shinsengumi, Pasukan Penjaga Keamanan Kekaisaran Jepang di Zaman Edo

Author

Ilustrasi Shinsengumi di Jepang era Edo. (IMDB)

INDOZONE.ID - Shinsengumi adalah pasukan khusus yang dibentuk oleh kekaisaran Tokugawa guna menjaga keamanan ibu kota lama yaitu Kyoto. Pada saat itu di akhir zaman Edo Jepang mengalami masa kekacauan dan penuh gejolak, hal-hal itu ditandai dengan munculnya api pemberontakan, pengaruh barat, keresahan masyarakat, dan konflik internal lainnya.

Periode ini berjalan selama dari tahun 1853-1868 dan diberi nama sebagai era bakumatsu.

Keshogunan Tokugawa pada saat itu menghadapi berbagai tekanan dari segala sisi. Kekaisaran pada saat itu memiliki ketidakmampuan dalam melawan pengaruh asing yang mulai mempengaruhi Jepang, akibatnya terbentuk faksi politik di dalam negeri yaitu faksi yang menantang keshogunan dan faksi yang mendukung keshogunan.

Seperti yang dikutip dari berbagai sumber, salah satunya HistorySkills, saksi yang menantang keshogunan itu dinamai Sonno Joi yang mengiginkan kekuasaan kaisar dipulihkan. Pada zaman ini Kyoto menjadi tempat yang dipenuhi persekongkolan politik dan perselisihan.

Baca Juga: Kisah Horor di Balik Hutan Aokigahara di Jepang: Tempat Terkenal untuk Bunuh Diri

Pada saat itu juga keshogunan memutuskan untuk membentuk pasukan khusus untuk menangani ketertiban di ibu kota lama Kyoto. Pasukan itu terdiri dari sekumpulan samurai, ronin, orang desa, dan petani. Kebanyakan kelompok itu terdiri dari masyarakat yang diaggap sebagai masyarakat kelas rendah.

Diawal berdirinya, Shinsengumi selalu mengalami perubahan pada struktur ketua dan anggotanya. Pada awalnya pasukan ini dipimpin oleh Serizawa Kamo. Pendiri grup ini terdiri dari Serizawa Kamo, Kondo Isami, dan Niimi Nishiki. Pasukan ini diberikan mandat untuk menjaga ketertiban, menekan pemberontak, dan menjaga keutuhan keshogunan.

Shinsengumi selalu mengalami perubahan struktur dan anggota dalam masa berdirinya. Pada awalnya Serizawa Kamo, Niimi Nishiki, dan Kondo Isami menjadi pemimpin di pasukan dan seiring berjalannya waktu kepemimpinan pasukan berubah.

Serizawa Kamo bersama dengan Niimi Nishiki yang awalnya memimpin dipaksa keluar dari grup dikarenakan kelakuan mereka yang barbar, tidak dapat ditebak, dan mengabaikan keselamatan sipil. Pada akhirnya kursi kepemimpinan menyisakan Kondo Isami sebagai pemimpin, karena itu dia menjadi orang yang paling dihormati.

Baca Juga: Pembagian Era di Jepang, Dari Era Asuka hingga Era Heisei

Shinsengumi memiliki sistem hierarki tersendiri. Sistem grup berubah dengan Kondo Isami sebagai pemimpin, Hijikata Toshizo sebagai wakil kapten yang dikenal sebagai wakil komandan iblis. Dibawahnya terdapat beberapa unit kapten atau kapten divisi.

Okita Souji yang dikenal sebagai pendekar pedang terbaik di dalam pasukan menjabat sebagai kapten divisi 1, Nagakura Shinpachi sebagai kapten divisi 2, Harada Sakunosuke sebagai kapten divisi 10, serta Saito Hajime. Mereka semualah yang menjadi tulang punggung pasukan dan sebagai garis pertahanan pertama Keshogunan. Dibawah kepemimpinan Kondo Bersama dengan Hijikata, dan lainnya, Shinsengumi mulai mengukir kisah mereka.

Shinsengumi sebagai pasukan khusus memiliki prinsip pejuang dan memegang kode etik yang kuat. Mereka selalu memegang prinsip bushido seorang pejuang samurai yang memegang teduh kesetiaan, dan tak takut akan kematian.

Mereka memiliki kode etik yang dinamai Kyokuchu Hatto, kode etik ini mengatur cara berpakaian, perilaku di dalam pasukan maupun diluar pasukan.

Jika ada yang melanggar kode etik ini mereka akan dijatuhi hukuman seppuku yaitu bunuh diri dengan mengoyak perut setelah itu bagian kepala akan ditebas dengan pedang. Wakil kapten, Hijikata tak segan menghukum anggota yang melanggar kode etik, dikarenakan mereka memegang prinsip bushido, jika ada yang melanggar hukuman wajib dijatuhkan.

Tahun 1864 terjadi sebuah insiden Ikedaya, insiden yang diciptakan oleh faksi anti-shogun yang berencana membakar ibu kota lama Kyoto dan menculik kaisar.

Shinsengumi berhasil mencegah insiden ini dan berhasil menyelamatkan Kyoto dari musibah serta melindungi kaisar. Shinsengumi pada akhirnya mendapatkan pengakuan langsung dari kaisar, pengaruh mereka meluas, dan Shinsengumi dilibatkan dalam menjaga keamanan ibu kota seperti berpatroli, penyelidikan, meredam kerusuhan dan memberantas pemberontak.

Baca Juga: Mengenal Sosok Yuki Onna, Wanita Cantik Jepang yang Bisa Ciptakan Salju Mematikan

Setelah itu Shinsengumi selalu terlibat dalam peristiwa-peristiwa yang menyangkut pemerintahan, sosial, dan oganisasi sendiri. Tahun 1865 insiden Aburanokoji, Shinsengumi bergabung dengan domain Satsuma dan domain Aizu untuk melawan domain Chushu yang memberontak kaisar.

Keterlibatan ini menegaskan Shinsengumi sebagai pasukan pejuang di dalam perjuangan politik. Shinsengumi juga mengalami gejolak internal selama masa berdirinya, mulai dari pergantian pemimpin, perebutan kekuasaan, perbedaan pandangan, dan masalah pribadi.

Serizawa Kamo dan Niimi Nishiki dikeluarkan dari kelompok karena perilaku mereka yang barbar dan menimbulkan kekhawatiran yang serius untuk kelompok. Pada saat puncak perselisihan pada tahun 1864 Kondo Isami dan Hijikata Toshizo beserta Shinsengumi membunuh Seirizawa Kamo dan Niimi Nishiki. Setelahnya kepemimpinan diambil oleh Kondo dan sistem kelompok mengalami perubahan.

Selain itu Shinsengumi juga diterpa konflik internal lainnya. Inti masalah dari konflik itu adalah kode etik yang mereka pegang, Kyokuchu Hatto. Siapapun yang melanggar hukuman ini akan melakukan seppuku, hukuman ini dianggap berat dan akibatnya terjadi ketegangan di dalam kelompok yang mengarahkan mereka pada pertikaian.

Baca Juga: Rawarontek, Ilmu Jawa Kuno yang Banyak Digunakan Pendekar Agar Kebal Terhadap Serangan

Salah satu anggota membelot dan membentuk kelompok tandingan yang dinamakan Goryo Eji. Tak lama kemudian dia dibunuh dikabarkan ulah Shinsengumi.

Pada akhirnya saat kekuasaann Keshogunan mulai melemah beberapa anggota mulai mengalami kegoyahan dan mulai mempertanyakan kesetiaan mereka dan masa depan yang akan datang.

Karena itu melemahnya kekuasaan Keshogunan dan konflik internal membuat ketegangan di dalam kelompok dan membuat mereka mulai masuk pada tahap yang semakin memburuk dan membuat kelompok ini mengalami keretakan dan menuju kehancuran.

Pengaruh Shinsengumi sangat erat kaitannya dengan kekuasaan shogun. Pada saat kekuasaan Tokugawa memudar, Shinsengumi juga memudar, Shogun melemah, Shinsengumi juga melemah.

Pada tahun 1868 terjadi perang saudara yang melibatkan pasukan pro kekaisaran dan pasukan pro keshogunan, perang yang dinamai perang Boshin. Perang ini menjadi pertanda awal berakhirnya Shinsengumi.

Pada peperangan itu Shinsengumi berperang mendukung pihak keshogunan melawan pasukan pemberontak, bersama sisa-sisa pasukan keshogunan mereka terlibat dalam pertempuran-pertempuran penting seperti pertempuran Toba-Fushimi.

Namun pasukan pemberontak yang dipimpin oleh kaisar meiji mendapatkan bantuan dari pihak luar yang di mana membuat pasukan pro kekaisaran menjadi pihak yang sangat unggul dan kuat pada saat itu sehingga membuat pasukan keshogunan mundur total.

Bantuan dari pihak luar inilah menjadi salah satu penyebab kekalahan pasukan keshogunan. Dalam pertempuran Koshu-Katsunuma komandan Shinsengumi yaitu Kondo Isami, ditangkap dan dieksekusi oleh pemerintah Meiji.

Kematian Kondo membuat Shinsengumi selangkah menuju kehancuran kematian Kondo sangat mempengaruhi Shinsengumi dari segi moral pasukan dan kepemimpinan.

Baca Juga: Mengenal Tsujigiri, Tradisi Samurai Jepang Bunuh Sembarang Orang Hanya untuk Menguji Pedangnya

Setelah kematian Kondo, dibawah komando Hijikata, Shinsengumi yang tersisa mundur ke utara ke Aizu.

Shinsengumi kembali ikut terlibat dalam pertempuran Aizu dan setelah melewati berbagai pertempuran yang melelahkan mereka kembali memilih mundur ke arah utara yang lebih jauh yaitu ke Hokkaido. Hijikata Toshizo membentuk kelompok baru berisikan sisa-sisa pasukan keshogunan yang dinamakan Republik Ezo.

Republik Ezo menjadi pertahanan akhir keshogunan dalam pertempuran Hakodate. Pertempuran itu menjadi akhir dari kisah Shinsengumi, perlawanan yang dilakukan oleh Republik Ezo sangat sia-sia. Republik Ezo dibubarkan akibat kekalahan yang mereka dapatkan, Hijikata tewas pada pertempuran dan kematiannya menjadi tanda berakhirnya Shinsengumi.

Pada masa sekarang di Jepang setiap tanggal 11-12 Mei, di kota Hino orang-orang akan berkumpul dan melakukan doa dan festival besar-besaran untuk mengenang para pejuang samurai dari masa lampau, para samurai pejuang ini khususnya Shinsengumi. festival bersejarah ini dilakukan secara rutin dari tahun ke tahun.

Shinsengumi menjadi simbol pejuang samurai terbaik dari zaman akhir Edo untuk masyarakat Jepang. Selain itu kisah Shinsengumi juga diabadikan dalam film dan manga, beberapa film atau manga mengambil tokoh dan Sebagian cerita asli dari kisah perjalanan selama berdirinya pasukan khusus itu.

Nama besar Shinsengumi dan perjuangan mereka akan selalu dikenang oleh masyarakat Jepang. Bagi masyarakat Jepang Shinsengumi bukan hanya sebuah pasukan khusus, mereka dianggap sebagai simbol perjuangan. Memang Shinsengumi telah berakhir dan anggota mereka mati namun kisah-kisah mereka, perjuangan mereka akan selalu dikenang dan abadi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: HistorySkills

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU