INDOZONE.ID - Edward Jenner lahir pada 17 Mei 1749 di Berkeley, Inggris. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan ketertarikan besar terhadap alam dan ilmu pengetahuan.
Setelah kehilangan ayahnya di usia muda, Edward dibesarkan oleh kakaknya dan mulai menempuh pendidikan dasar sebelum akhirnya magang kepada seorang ahli bedah pada usia 13 tahun.
Pengalaman magang selama bertahun-tahun membentuk pemahamannya tentang praktik medis. Ia kemudian melanjutkan pelatihan di London bersama John Hunter, seorang ahli bedah ternama.
Dari situlah Edward belajar pentingnya eksperimen langsung dibandingkan hanya teori.
Baca juga: Sosok Dokter Edward Jenner, Penemu Vaksin Cacar Pertama di Dunia, Selamatkan Jutaan Nyawa
Ancaman Cacar dan Metode Lama yang Berisiko
Pada abad ke-18, penyakit cacar menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Penyakit ini sangat menular dan dapat menyebabkan kematian maupun cacat permanen.
Sebelum ditemukannya vaksin, metode yang digunakan adalah variolasi, yaitu memasukkan virus cacar ringan ke tubuh orang sehat.
Meski bertujuan memberikan kekebalan, metode ini berisiko karena bisa menyebabkan infeksi berat bahkan kematian, serta berpotensi menularkan penyakit ke orang lain.
Eksperimen Berani yang Mengubah Dunia
Jenner menemukan fakta menarik bahwa orang yang pernah terinfeksi cacar sapi (penyakit ringan dari sapi) tidak tertular cacar. Dari pengamatan ini, ia menyimpulkan bahwa cacar sapi dapat memberikan perlindungan terhadap cacar.
Melansir laman Britannica, Sabtu (04/04/2026) pada 14 Mei 1796, Jenner melakukan eksperimen penting. Ia mengambil materi dari luka cacar sapi milik seorang pemerah susu bernama Sarah Nelmes, lalu menyuntikkannya ke tubuh seorang anak laki-laki berusia delapan tahun, James Phipps.
Baca juga: Kisah Joseph Meister, Pasien Penerima Vaksin Rabies Pertama di Dunia
Anak tersebut hanya mengalami gejala ringan dan kemudian sembuh. Beberapa waktu setelahnya, Jenner kembali menguji dengan menyuntikkan virus cacar ke tubuh anak tersebut. Hasilnya, tidak ada infeksi yang terjadi, menunjukkan bahwa tubuhnya telah kebal.
Eksperimen ini menjadi tonggak awal lahirnya vaksin pertama di dunia.
Penyebaran Vaksin dan Tantangan yang Dihadapi
Pada tahun 1798, Edward mempublikasikan hasil penelitiannya dalam sebuah karya ilmiah. Awalnya, temuannya tidak langsung diterima luas dan bahkan sempat menuai keraguan.
Namun seiring waktu, metode vaksinasi terbukti efektif dalam menekan angka kematian akibat cacar. Vaksin ini kemudian menyebar ke berbagai negara di Eropa, Amerika, hingga ke seluruh dunia.
Meski demikian, proses penerapannya tidak selalu berjalan mulus. Kesalahan prosedur, keterbatasan bahan, hingga kurangnya pemahaman ilmiah saat itu menjadi tantangan dalam pengembangan vaksin yang lebih sempurna.
Baca juga: Hari Ini 68 Tahun Lalu, Vaksin Polio Diuji Coba yang Kelak Selamatkan Anak dari Kelumpuhan
Warisan Besar bagi Dunia Kesehatan
Penemuan vaksin oleh Edward Jenner membawa dampak besar dalam dunia medis. Angka kematian akibat cacar menurun drastis, dan konsep vaksinasi menjadi dasar penting dalam pencegahan penyakit menular.
Edward sendiri mendapatkan pengakuan internasional atas jasanya, meskipun ia tidak memanfaatkan penemuannya untuk keuntungan pribadi. Ia lebih memilih mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan vaksinasi demi kepentingan masyarakat luas.
Eksperimen berani Edward Jenner menjadi langkah awal revolusi dalam dunia kesehatan. Dengan mengandalkan observasi dan keberanian untuk mencoba, ia berhasil menciptakan vaksin pertama yang menyelamatkan jutaan nyawa.
Hingga kini, prinsip yang ia temukan tetap menjadi fondasi utama dalam pengembangan vaksin modern di seluruh dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Britannica