INDOZONE.ID - Banyak yang mengira kebiasaan minum teh di Inggris sudah ada sejak lama dan menjadi bagian dari budaya asli negara tersebut.
Namun sebenarnya, tradisi ini mulai populer pada abad ke-17 berkat seorang putri Portugal bernama Catherine dari Braganza. Setelah menikah dengan Raja Charles II pada tahun 1662, ia membawa kebiasaan minum teh dari tanah kelahirannya ke lingkungan istana Inggris.
Baca juga: Kisah Tragis Anne Boleyn: Ratu Inggris yang Berakhir di Tiang Penggal
Pernikahan Politik dengan Mahar yang Berharga
Pernikahan Catherine dengan Charles II bukan sekadar hubungan romantis, melainkan bagian dari strategi politik antara dua negara.
Pada masa itu, Portugal membutuhkan dukungan militer Inggris untuk menghadapi ancaman dari Spanyol. Di sisi lain, Inggris memerlukan bantuan finansial untuk memperbaiki kondisi ekonominya.
Sebagai bagian dari perjanjian pernikahan, Portugal memberikan mahar yang sangat bernilai. Mahar tersebut mencakup wilayah Bombay di India dan Tangier di Afrika Utara, hak akses perdagangan ke Hindia Timur, serta sejumlah besar uang tunai.
Baca juga: Tak Menikah Seumur Hidup, Ini Fakta Unik Ratu Elizabeth I dari Inggris
Ratu Asing di Lingkungan Istana Inggris
Ketika tiba di Inggris, Catherine harus menyesuaikan diri dengan lingkungan istana yang sangat berbeda dari kehidupannya sebelumnya.
Ia dikenal sebagai seorang Katolik yang taat dan dibesarkan dalam lingkungan biara, sehingga memiliki kepribadian yang cenderung pendiam.
Penampilan dan gaya hidupnya yang sederhana juga sangat kontras dengan kehidupan istana Inggris yang terkenal glamor dan penuh pesta.
Selain itu, kehidupan pernikahannya tidak berjalan mudah. Raja Charles II dikenal memiliki banyak hubungan dengan perempuan lain, sementara Catherine beberapa kali mengalami keguguran dan tidak berhasil melahirkan pewaris takhta.
Baca juga: Kisah Ratu Suhita: Wanita Berbaju Ungu yang Mengguncang Tahta Majapahit
Kebiasaan Minum Teh yang Mengubah Tradisi
Di tengah berbagai tekanan di istana, Catherine tetap mempertahankan kebiasaan yang dibawanya dari Portugal, yaitu meminum chá atau teh.
Pada masa itu, teh di Inggris masih dianggap sebagai tanaman obat yang langka dan mahal.
Namun Catherine mulai menjadikan minum teh sebagai kegiatan sosial di kalangan bangsawan wanita. Karena teh merupakan barang mewah, ia bahkan menampilkan kotak penyimpanan teh miliknya sebagai simbol kemewahan saat menjamu tamu.
Kebiasaan ini semakin populer setelah penyair istana Edmund Waller menulis puisi yang memuji sang Ratu serta minuman pilihannya tersebut.
Baca juga: Kisah Tragis Selena Quintanilla: Ratu Musik Tejano yang Gugur oleh Pengkhianatan Orang Terdekat
Sejak saat itu, minum teh perlahan berubah menjadi tren di kalangan masyarakat Inggris.
Awal Mula Tradisi Teh di Inggris
Dari kebiasaan sederhana Catherine, tradisi minum teh kemudian menyebar luas di Inggris. Permintaan terhadap berbagai perlengkapan minum teh pun meningkat, mulai dari teko hingga cangkir porselen.
Perkembangan ini juga memunculkan tren seni dekoratif baru di Eropa pada abad ke-18 yang dikenal sebagai chinoiserie, yaitu gaya seni yang terinspirasi oleh budaya Tiongkok.
Baca juga: Bao Si, Ratu Dari Dinasti Zhou: Kisah Cinta, Kecantikan Dan Kehancuran
Meskipun pernikahan politik antara Portugal dan Inggris hanyalah bagian dari dinamika sejarah, kebiasaan minum teh yang dibawa Catherine dari Braganza justru meninggalkan pengaruh yang jauh lebih lama.
Hingga kini, tradisi tersebut masih menjadi salah satu simbol budaya Inggris yang paling dikenal di dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Guardian