INDOZONE.ID - Ada satu agenda yang sering rutin diadakan setiap bulan Ramadhan datang. Apalagi kalau bukan buka puasa bersama atau bukber.
Tentunya banyak ajakan di berbagai grup Whatsapp, mulai dari grup kantor, grup kampus, grup komunitas dna masih banyak lagi untuk mengikuti ajakan bukber. Kendati, saat ini banyak yang menyalah artikan tradisi bukber dengan bentuk flexing atau saling bikin grup sendiri.
Tapi sebenarnya, bukber itu cuma tradisi makan bersama atau punya makna lebih dalam dalam Islam?
Berikut penjelasannya, mulai dari pandangan ulama, dalil agama, sampai nilai kebersamaan di balik tradisi ini.
Baca juga: Fakta Misteri Kematian Dini Nurdiani, Wanita yang Hilang Usai Pamit Bukber Ramadhan Lalu
Bukber dalam Pandangan Ulama
Dalam penjelasan yang disampaikan di kanal YouTube NU Online, Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PBNU, Ustadz Alhafiz Kurniawan, mengatakan bahwa istilah buka bersama sebenarnya tidak disebut secara spesifik dalam Al-Qur’an maupun hadis.
Artinya, secara istilah “bukber” memang bukan konsep ibadah yang secara khusus diajarkan.
Namun, bukan berarti tradisi ini tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
Menurutnya, yang dijelaskan dalam sumber-sumber hukum Islam adalah kebolehan makan bersama.
Hal ini merujuk pada firman Allah dalam QS. An-Nur ayat 61, yang menjelaskan bahwa seseorang tidak berdosa untuk makan di rumah sendiri ataupun di rumah keluarga, kerabat, dan sahabat.
Ayat tersebut menegaskan bahwa makan bersama merupakan hal yang diperbolehkan dalam Islam.
Baca juga: Memahami Bukber, Tradisi Buka Bersama dari Perspektif Positif dan Negatif
Jadi, ketika tradisi makan bersama ini dilakukan saat Ramadan dalam bentuk bukber, praktik tersebut tidak bertentangan dengan syariat.
Rasulullah Juga Pernah Makan Bersama Sahabat
Walaupun istilah bukber tidak ada secara khusus, kebiasaan makan bersama sebenarnya sudah terjadi sejak zaman Nabi Muhammad.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, disebutkan bahwa Nabi pernah makan bersama enam sahabatnya. Ketika mereka sedang makan, datang seorang Arab Badui yang kemudian ikut makan bersama mereka.
Kisah ini menunjukkan bahwa kebersamaan saat makan merupakan hal yang lumrah dalam tradisi Islam.
Karena itu, tradisi bukber yang dilakukan umat Muslim saat Ramadan bisa dipahami sebagai bentuk pengembangan dari nilai kebersamaan tersebut.
Makna Bukber yang Sering Terlupakan
Kalau dipikir-pikir, bukber sebenarnya bukan sekadar acara makan setelah adzan magrib.
Baca juga: Memahami Bukber, Tradisi Buka Bersama dari Perspektif Positif dan Negatif
Di baliknya ada beberapa nilai yang sering kali tidak disadari, di antaranya:
1. Mempererat Silaturahmi
Ramadan sering menjadi momen langka untuk berkumpul kembali dengan teman lama, keluarga, atau rekan kerja yang jarang bertemu.
2. Menguatkan Rasa Kebersamaan
Makan bersama membuat suasana lebih hangat dan menciptakan kedekatan sosial.
3. Menumbuhkan Kepedulian
Banyak kegiatan bukber yang sekaligus diisi dengan berbagi makanan atau santunan kepada anak yatim dan masyarakat yang membutuhkan.
4. Mengingatkan untuk Bersyukur
Saat berbuka bersama, kita diingatkan bahwa nikmat makanan dan kebersamaan adalah karunia yang patut disyukuri.
Baca juga: Setan Dibelenggu Saat Bulan Ramadhan: Tapi Kok Masih Banyak Orang yang Berbuat Jahat dan Maksiat?
Bukber Bukan Ibadah Wajib
Meski dianjurkan untuk mempererat hubungan sosial, bukber bukanlah ibadah wajib dalam Islam.
Seseorang tetap bisa menjalankan ibadah puasa dengan sempurna tanpa harus menghadiri acara bukber.
Dalam Islam sendiri juga dijelaskan bahwa seseorang boleh makan bersama maupun sendiri.
Yang lebih penting adalah niat baik, menjaga silaturahmi, dan tidak melupakan ibadah utama seperti salat Magrib saat waktu berbuka tiba.
Fenomena Bukber di Era Modern
Di Indonesia, bukber sudah berkembang menjadi tradisi sosial yang cukup kuat.
Bahkan dalam praktiknya, kegiatan ini bisa dilakukan di berbagai tempat, seperti: rumah, masjid, kantor, restoran, ingga acara komunitas
Ada juga fenomena unik yang sering terjadi setiap Ramadan, seperti:
- Grup WhatsApp yang penuh diskusi menentukan tanggal bukber
- Tempat makan yang cepat penuh karena banyak reservasi
- Acara bukber lintas komunitas yang mempertemukan banyak orang
Hal-hal ini menunjukkan bahwa bukber telah menjadi bagian dari budaya Ramadan masyarakat Indonesia.
Bukber Boleh, Asal Jangan Lupa Tujuan Ramadan
Dari penjelasan ulama, tradisi bukber memang bukan ibadah khusus yang disebutkan secara eksplisit dalam ajaran Islam. Namun kegiatan makan bersama dan mempererat silaturahmi memiliki nilai yang selaras dengan syariat.
Selama dilakukan dengan niat baik, tidak berlebihan, dan tidak melalaikan ibadah, bukber bisa menjadi momen yang penuh berkah.
Jadi, kalau nanti ada undangan bukber lagi, bukan cuma soal menu makanan atau tempat yang instagramable. Ingat juga bahwa kebersamaan, silaturahmi, dan rasa syukur adalah makna utama di balik tradisi tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan