Sejarah Iran dan Etimologinya yang Dulunya Kekaisaran Persia, Kekuatan Besar di Timur Tengah
INDOZONE.ID - Pemerintah Iran melancarkan aksi balas serangan saat berkonflik dengan Israel dan Amerika Serikat beberapa waktu ini. Banyak pakar yang mengaitkan dengan sejarah Iran dengan kedaulatannya, termasuk dengan kerajaan Persia yang kini menjadi negara terpenting di wilayah Timur Tengah.
Secara internal dan historis, negeri yang disebut Iran jarang sekali menerima julukan Persia tersebut dari rakyatnya sendiri.
Sebaliknya, sebutan modern tersebut mencerminkan sebuah perjalanan identitas yang abadi, meskipun telah bertranformasi: dari Kerajaan Persia menjadi Iran
Berikut ini adalah beberapa fakta sejarah tentang Persia dan Iran, seperti yang dikutip dari dailystar.net.
Baca juga: Seberapa Kuat Rudal Balistik Iran? Ini Analisis Kekuatan Militernya
Asal usul Persia dan etimologinya
Nama etnis Persia berasal dari bahasa Yunani kuno, Persís, yang sendiri berasal dari Parsa, sebuah wilayah di barat daya yang merupakan tempat lahirnya Kekaisaran Akhemenid.
Bagi para ahli sejarah klasik, nama itu melambangkan wilayah kekuasaan luas yang membentang dari Indus hingga Aegea. Bagi para sejarawan modern, itu adalah eksonim, nama yang diberikan oleh pihak luar yang akhirnya menjadi singkatan untuk seluruh peradaban tersebut.
Kata Iran dan etimologinya
Sementara itu, jauh sebelum kata "Persia" dikenal di kalangan masyarakat Barat, penduduk dataran tinggi Iran menyebut tanah mereka "Iran" atau variasinya seperti Eran, istilah yang berakar secara etimologis dari bahasa Indo-Iran kuno Arya, yang berarti "mulia" atau "Arya," dan menandakan "tanah bangsa Arya".
Di bawah dinasti-dinasti pribumi yang berkuasa secara berturut-turut, dari Sassania hingga Safawi, variasi nama ini tetap bertahan dalam gelar-gelar istana dan prasasti kekaisaran.
Baca juga: Teori Masuknya Islam ke Indonesia, Lengkap Dari Gujarat hingga Persia!
Dunia luar terhadap Persia dan Iran
Namun dunia luar terus membicarakan Persia, karena Roma dan kemudian Eropa Kristen tidak mendengar irama batin bahasa lokal, dan karena peta geopolitik Eropa pada masa Renaisans dan Pencerahan disusun dalam bahasa pendidikan klasik.
Berabad-abad catatan sejarah asing, catatan perjalanan, dan korespondensi diplomatik telah mengukuhkan Persia dalam wacana internasional bahkan ketika bahasa asli menyebut negeri itu sebagai Iran.
Titik balik yang menentukan tiba pada abad ke-20, di tengah gelombang nasionalisme dan tata pemerintahan modern.
Mengganti Persia menjadi Iran di bawah pemerintahan Reza Shah Pahlavi
Pada tahun 1935, di bawah pemerintahan Reza Shah Pahlavi, pemerintah Iran secara resmi meminta dunia untuk berhenti menggunakan Persia dalam urusan diplomatik dan sebagai gantinya menggunakan Iran, nama yang telah lama digunakan rakyatnya untuk menyebut diri mereka sendiri.
Permintaan tersebut dikirim ke semua kedutaan asing dan menandai penyesuaian kembali identitas eksternal agar sesuai dengan penamaan diri internal.
Iran beresonansi dengan asal-usul yang lebih dalam—garis keturunan yang tidak terbatas pada satu provinsi, tetapi peradaban budaya dan linguistik yang lebih luas yang membentang selama ribuan tahun. Hal itu menancapkan negara modern dalam matriks kesinambungan asli daripada sebutan yang dipaksakan dari luar.
Bahkan setelah tahun 1935, istilah Persia tidak lenyap dari kosakata dunia. Hingga hari ini, istilah itu tetap melekat dalam konteks budaya dan dalam romantisme sejarah. Namun identitas politik dan hukum negara itu tetap, dan masih tetap, Iran.
Baca juga: Kisah Mona Mahmudnizhad, Gadis 17 Tahun yang Dieksekusi Mati Pemerintah Iran karena Agamanya
Dinasti Pahlavi kemudian membuka pintu untuk menggunakan kedua nama tersebut secara bergantian, tetapi dalam hal kenegaraan formal, Iran yang tetap bertahan.
Iran di Awal 2026
Sungguh paradoks bahwa pada saat pesawat nirawak dan rudal melintasi langit di atas Teheran, ketika pasukan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi yang dijuluki "Operasi Epic Fury" dan Teheran membalas dengan rentetan rudal dan pesawat nirawak, dunia sekali lagi membicarakan tentang tanah yang dulunya adalah Persia.
Para sejarawan mengingatkan bahwa Iran bukanlah penemuan kembali yang tiba-tiba, melainkan penegasan kembali identitas yang telah lama diutarakan di dalam negerinya sendiri.
Urgensi peristiwa terkini—serangan yang telah mengguncang ibu kota, menuai kecaman, dan memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik—menyoroti dengan jelas lapisan-lapisan sejarah yang rumit yang membentuk geopolitik modern.
Iran saat ini lebih dari sekadar berita utama yang beredar; ia adalah benua yang hidup dengan memori budaya, tradisi linguistik, dan kehendak kedaulatan, bahkan ketika ia bereaksi terhadap gelombang kejut perang pada tahun 2026.
Baca juga: Tehran UFO Accident, Kunjungan Alien ke Iran di Tahun 1976
Pada akhirnya, yang berubah pada tahun 1935 bukanlah esensi suatu wilayah, melainkan persepsi dunia terhadapnya.
Persia memberi jalan kepada Iran dalam diplomasi internasional, tetapi narasi yang lebih dalam bukanlah tentang perpecahan, melainkan tentang keberlanjutan. Sebuah penegasan bahwa nama yang dipilih suatu bangsa untuk dirinya sendiri membawa kekuatan sejarah yang jauh lebih abadi daripada gelar sementara yang diberikan oleh orang lain.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dailystar.net