INDOZONE.ID - Kawasan Pekojan menempati posisi strategis di Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Akar historis wilayah ini dapat ditelusuri hingga abad ke-18, saat gelombang migrasi pedagang Muslim dari Gujarat, India, mulai masuk dan menetap di pesisir utara Jawa.
Kelompok migran tersebut dikenal dengan sebutan “Khoja”, istilah yang merujuk pada identitas pedagang Muslim asal India Barat. Seiring waktu, istilah Khoja mengalami asimilasi fonetis menjadi “Pekojan”, yang secara harfiah bermakna sebagai tempat bermukimnya para Khoja. Kehadiran mereka di Semarang tidak hanya berperan dalam aktivitas ekonomi, tetapi juga membentuk struktur sosial baru yang memperkaya keragaman demografis kota.
Baca juga: Kalahkan Indonesia, India Bakal Jadi Negara dengan Penduduk Muslim Terbanyak di Dunia
Memasuki awal abad ke-20, kesadaran kolektif untuk memperkuat eksistensi komunitas mulai tumbuh. Hal ini ditandai dengan berdirinya Persatuan Majelis Muslimin (PMM) pada tahun 1907. Organisasi tersebut dibentuk sebagai wadah institusional bagi masyarakat Koja, baik dalam aspek keagamaan, pendidikan, maupun perlindungan sosial di tengah dinamika politik kolonial.
Selain organisasi formal, identitas Pekojan juga diperkuat oleh keberadaan Masjid Jami’ Pekojan yang menjadi pusat spiritual warga. Di lingkungan masjid ini terdapat pohon bidara yang benihnya diyakini dibawa langsung dari India. Pohon tersebut hingga kini menjadi simbol keterikatan historis antara tanah leluhur dengan wilayah permukiman masyarakat Koja di Semarang.
Secara geografis, posisi Pekojan yang berdampingan dengan kawasan Pecinan (Chinatown) menciptakan ruang interaksi lintas budaya yang unik. Kedekatan ini memicu lahirnya hubungan multietnis yang harmonis antara etnis Koja, Tionghoa, dan Jawa.
Berdasarkan wawancara dengan Dian selaku Ketua RT 11 pada 6 November 2025, keharmonisan tersebut bukan sekadar koeksistensi pasif, melainkan keterlibatan aktif dalam berbagai kegiatan sosial yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Warga Koja dikenal memiliki sifat inklusif dan fleksibel dalam berbaur dengan lingkungan sekitar. Sikap terbuka ini juga tercermin dalam praktik perkawinan campuran antar-etnis yang cukup lazim terjadi di Pekojan, sehingga turut memperkuat integrasi sosial.
Salah satu nilai yang tetap dijaga hingga kini adalah prinsip filosofis bahwa “tamu adalah berkah”. Bagi masyarakat Koja, setiap orang yang datang ke rumah mereka, tanpa memandang latar belakang, dianggap sebagai pembawa keberkahan. Nilai ini tercermin dari keramahtamahan warga yang menyambut hangat siapa pun, baik yang datang untuk berdagang maupun sekadar singgah untuk beristirahat.
Di sisi lain, identitas ekonomi masyarakat Koja tetap lekat dengan sektor perdagangan. Mereka dikenal memiliki kemandirian ekonomi, khususnya sebagai pelaku usaha kacamata dan jam, serta sebagai penjaga warisan kuliner khas seperti nasi kebuli dan biryani yang kaya aroma rempah.
Baca juga: Perang atau Damai? Cara Islam Masuk ke Anak Benua India
Meski memiliki etos kerja tinggi dalam dunia niaga, masyarakat Koja memiliki karakter unik dalam urusan organisasi. Menurut pengamatan Dian, warga cenderung bersikap lebih santai dan tidak terlalu kaku terhadap prosedur formal, seperti kehadiran dalam rapat administratif. Namun, sikap tersebut berbanding terbalik dengan kekompakan dalam kehidupan kekeluargaan.
Dalam situasi yang membutuhkan solidaritas sosial, seperti musibah atau kegiatan keagamaan, masyarakat Koja menunjukkan ikatan persaudaraan yang sangat kuat. Perpaduan antara sejarah panjang, kemandirian ekonomi, dan keterbukaan budaya inilah yang menjadikan Pekojan sebagai salah satu potret sosial paling menarik di Kota Semarang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Undip.ac.id