Rabu, 31 DESEMBER 2025 • 08:49 WIB

Tahun Baru Tanpa 31 Desember: Tradisi Inlands Nieuwjaar di Batavia Tempo Dulu

Author

Ilustrasi perayaan tahun baru versi masyarakat pribumi atau Indlands Nieuwjaar. (AI)

INDOZONE.ID - Dalam edisi surat kabar Het Volk tertanggal 2 Februari 1935, tersaji laporan menarik mengenai perayaan tahun baru versi masyarakat pribumi atau Indlands Nieuwjaar dari perspektif jurnalis Belanda. 

Pada masa itu, pergantian tahun Masehi pada malam 31 Desember hingga 1 Januari belum menjadi tradisi yang dirayakan secara luas seperti sekarang. 

Sang jurnalis mencatat bahwa umat Muslim di Hindia Belanda lebih menandai tahun baru berdasarkan penanggalan dan tradisi Islam yang telah mengakar dalam kehidupan mereka.

Mengarah pada perayaan meriah sebagaimana tahun baru orang-orang Eropa, perayaan tahun baru pribumi yang mayoritasnya beragama islam terjadi setelah bulan Ramadan menuju Syawal: Hari Lebaran.

Baca juga: Menyingkap Rahasia Tahun Baru Bangsa Mesir: Dari Sungai Nil hingga Ritual Dewa

Tetapi, sebelum merayakan Tahun Baru, "selama empat minggu, mereka (pribumi) melakukan mogok makan (puasa) di siang hari dan hanya makan (berbuka) saat kegelapan malam menyelimuti bumi," tulis jurnalis Het Volk.

Menjelang senja, tepat saat azan Magrib berkumandang, dentuman beduk terdengar bersahut-sahutan dari masjid-masjid kampung, menandai waktu berbuka puasa. 

Anak-anak pun segera menghentikan permainan mereka dan berlari pulang dengan riang, sambil berseru penuh kegembiraan, “Makan… makan.”

Suasana kampung tetap hidup hingga malam hari. Para pedagang kaki lima menjajakan buah, permen, dan aneka panganan, memecah keheningan dengan teriakan khas mereka di sela-sela datangnya malam.

Sekelompok lelaki tampak duduk berjongkok, larut dalam percakapan santai antar tetangga sambil sesekali bersendawa usai menyantap hidangan. 

Baca juga: Biar Beruntung di 2026, Cek 7 Takhayul Tahun Baru dari Berbagai Belahan Dunia

Di sisi lain, para perempuan terdengar riuh bercakap-cakap, sembari menyuapi anak-anak mereka dengan suapan nasi.

Sementara itu, para pemuda kampung mengisi malam dengan menyalakan petasan atau menabuh beduk tanpa henti. 

Batavia pun dipenuhi suasana akrab dan meriah sepanjang bulan-bulan menjelang perayaan tahun baru pribumi.

Begitu riuh ramainya malam-malam selama Ramadan. Lantas, bagaimana orang-orang Eropa di Batavia?

"Orang-orang Eropa, dengan sakit kepala yang hebat dan mata sayu, gelisah di tempat tidur mereka, tidak dapat tidur karena dengungan bedoek yang monoton, tak henti," imbuhnya.

Beberapa hari sebelum Inlands Nieuwjaar tiba, pegadaian mulai dipadati oleh ribuan orang yang datang untuk menebus perhiasan dan barang berharga yang sebelumnya digadaikan sepanjang tahun. 

Di sisi lain, tak sedikit pula yang justru kembali menggadaikan sebagian harta benda mereka demi memperoleh dana segar untuk kebutuhan perayaan. 

Pada masa itu, ketersediaan uang menjadi hal utama agar perayaan tahun baru pribumi dapat berlangsung sebagaimana mestinya.

Baca juga: Perawat Kroasia yang Baru Ditemukan 40 Tahun Setelah Meninggal

Oleh karena itu, para pekerja rumah tangga, djongos, maupun pegawai kerap mengajukan permintaan uang muka kepada majikan mereka, sesuatu yang kini dikenal sebagai Tunjangan Hari Raya (THR). 

Dalam laporan Leeuwarder Nieuwsbladedisi 3 Januari 1939, disebutkan bahwa keluarga-keluarga Belanda yang mempekerjakan djongos atau baboe biasanya memberikan cuti khusus pada momen Tahun Baru Pribumi, dengan satu hingga beberapa hari libur agar para pekerja tersebut dapat ikut merayakannya.

Di Batavia, tradisi tahun baru lama tetap terjaga: orang-orang Arab sibuk meminjamkan uang kepada pribumi untuk keperluan perayaan. Hari itu, seisi kota dipenuhi penduduk yang mengenakan baju baru. 

Begitu anggunnya penampilan warga pribumi saat itu, hingga seorang jurnalis Belanda menyamakan mereka dengan burung merak yang sedang menunjukkan keindahan bulunya.

Setelah rangkaian ibadah selesai, tradisi silaturahmi segera berlangsung di sepanjang jalan pemukiman. Masyarakat saling bertukar salam dengan ucapan 'Slamatan baroe', yang secara filosofis dimaknai sebagai kembalinya seseorang pada kesucian (fitrah). 

Menariknya, kebiasaan tidak beralas kaki masih sangat kental terasa; sebagian warga lebih nyaman menjinjing alas kaki mereka daripada memakainya. 

Ketidaknyamanan ini juga terlihat pada anak-anak yang tampak kesulitan beradaptasi dengan sepatu yang diwajibkan kepada mereka.

Kebanyakan muslim Batavia memanfaatkan Inlands Nieuwjaar dengan ziarah ke sebuah makam suci di Loear Batang. Seorang penyebar agama Islam berpengaruh di Batavia, Said Hoesin bin Ali bin Abu Bakar Al-Aydrus jadi destinasi.

Baca juga: Biar Beruntung di 2026, Cek 7 Takhayul Tahun Baru dari Berbagai Belahan Dunia

Dalam arsip kolonial, Habib Hoesin tercatat sebagai ulama asal Yaman yang memiliki pengaruh besar dan sangat dihormati, bahkan oleh kalangan Belanda. 

Ketika VOC sempat menahannya dengan tuduhan mengganggu ketertiban, para tahanan pribumi justru mengangkatnya sebagai imam salat di penjara. 

Situasi itu menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi VOC, hingga akhirnya mereka memilih membebaskan sosok yang begitu dimuliakan oleh masyarakat pribumi tersebut.

Tahun Baru Masehi dahulu dikenal dengan pesta perayaan orang-orang Eropa yang umumnya diadakan di pusat kota Batavia, sedangkan pesta tahun baru pribumi lebih dikenal orang Belanda pada momen Lebaran.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: National Geographic

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU