Selasa, 30 DESEMBER 2025 • 09:58 WIB

Menyingkap Rahasia Tahun Baru Bangsa Mesir: Dari Sungai Nil hingga Ritual Dewa

Author

Ilustrasi orang Mesir merayakan tahun baru. (AI)

INDOZONE.ID - Kini, malam pergantian tahun kerap dirayakan dengan kemeriahan pesta, gemerlap kembang api, dan hitung mundur menjelang tengah malam. Namun jauh sebelum tradisi modern itu muncul, masyarakat Mesir kuno telah mengenal cara unik dalam menyambut tahun baru. 

Perayaan tersebut dikenal sebagai Wepet Renpet, yang berarti “awal” atau “pembukaan tahun”. Lebih dari sekadar penanda pergantian kalender, Wepet Renpet dipandang sebagai peristiwa suci yang melambangkan pembaruan dan keseimbangan kembali antara manusia, alam semesta, dan para dewa.

Perayaan tahun baru di sana dimeriahkan dengan pesta pora, saling memberi kado, hingga ritual membawa patung-patung dewa keluar agar tersentuh cahaya matahari. Menariknya, tanggal perayaannya selalu berubah-ubah karena kalender Mesir kuno hanya menetapkan 365 hari tanpa tambahan tahun kabisat. 

Baca juga: Kisah "Silent Night", Lagu Natal Klasik yang Tercipta di Tengah Ketidakpastian

Mengutip dari Live Science, peneliti Juan Antonio Belmonte menyebutkan bahwa fenomena ini membuat Wepet Renpet seolah-olah 'berkelana' melintasi musim seiring berjalannya waktu.

Saat sistem kalender ini mulai digunakan sekitar 4.800 tahun silam, Wepet Renpet jatuh tepat pada titik balik matahari musim panas di penghujung Juni. Periode ini bertepatan dengan fenomena paling krusial bagi peradaban Mesir, yakni meluapnya Sungai Nil yang membawa kesuburan bagi lahan mereka. 

Namun, akibat pergeseran waktu, pada permulaan masa Kerajaan Tengah (sekitar 2030–1640 SM), momen tahun baru ini justru bergeser hingga mendekati titik balik matahari musim dingin di bulan Desember.

Menariknya, orang Mesir kuno bahkan tidak selalu merayakan satu Tahun Baru dalam setahun. Dalam periode tertentu, mereka merayakan lebih dari satu Wepet Renpet.

Di Kuil Khnum, Esna, ditemukan kalender era Romawi yang mencatat tiga jenis perayaan Tahun Baru sekaligus: pembukaan tahun kalender, hari jadi Kaisar Romawi, serta munculnya kembali bintang Sirius. 

Menurut Leo Depuydt dari Universitas Brown, terbitnya Sirius sangat krusial karena merupakan penanda alami banjir Sungai Nil dan awal siklus kehidupan Mesir.

Situs-situs ikonik seperti Piramida Giza menjadi saksi bisu kemeriahan Tahun Baru Mesir. Berbagai prasasti di kuil-kuil Giza dan Saqqara mengukuhkan Wepet Renpet sebagai festival yang sangat diagungkan. 

Ritualnya tidak hanya berfokus pada pemujaan dewa, tetapi juga menjadi momen penghormatan bagi mereka yang telah tiada, sebuah perwujudan nyata dari konsep Mesir kuno mengenai keterikatan antara kehidupan, kematian, dan siklus pembaruan.

"Patung-patung tersebut dibawa keluar ke tempat terbuka. Misalnya ke atap kuil, agar dapat diregenerasi melalui sinar matahari,” tulis arkeolog Simon Connor.

Kelahiran kembali disimbolkan melalui pembaruan patung-patung dewa di kuil. Namun jangan salah, orang Mesir kuno juga tahu cara berpesta; bukti-bukti sejarah di dinding makam menggambarkan perjamuan besar yang dihadiri kerabat dan keluarga. 

Salah satu tradisi yang tak boleh dilewatkan adalah saling memberi hadiah. Hadiah yang paling populer saat itu adalah "Labu Tahun Baru", yakni botol kecil mengkilap dari bahan faience yang memiliki bentuk unik menyerupai lensa.

"Labu-labu ini untuk cairan dan memiliki kapasitas yang agak kecil, mungkin lebih cocok untuk minyak wangi daripada minuman," kata John Baines, profesor emeritus Egiptologi di Universitas Oxford.

Baca juga: Restorasi Meiji: Pengubah Wajah Jepang yang Terisolasi Menjadi Imperialis dalam 30 Tahun

Di permukaan botol-botol tersebut, sering ditemukan prasasti ucapan selamat. Metropolitan Museum of Art menyimpan salah satunya: sebuah guci milik pendeta Amenhotep dari masa 2.600 tahun lalu yang berisi doa 'Tahun Baru Bahagia' kepada dewa Montu dan Amun-Re. 

Wadah kecil ini kemungkinan besar berfungsi sebagai penyimpan parfum, minyak, atau air Sungai Nil yang melambangkan keberkahan.

Hadiah ini merepresentasikan penyatuan antara elemen keharuman, nilai kesucian, dan sumber kehidupan utama mereka. 

Bangsa Mesir kuno memandang Tahun Baru melampaui perubahan angka semata; bagi mereka, ini adalah momen penyelarasan kosmis yang menyatukan unsur alam semesta, kekuatan ketuhanan, dan eksistensi manusia ke dalam satu lingkaran pembaruan yang utuh.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Live Science

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU