INDOZONE.ID - Pada malam 25–26 Maret 1871, wilayah Pakistan Timur diguncang operasi militer besar-besaran yang bertujuan menumpas gerakan separatis masyarakat Bengali. Operasi ini dikenal dengan nama Operasi Searchlight, sebuah serangan cepat yang dilancarkan oleh Angkatan Darat Pakistan. Sasaran utamanya meliputi aktivis mahasiswa, kalangan cendekiawan, serta wilayah-wilayah strategis di Pakistan Timur.
Pemerintah Pakistan kala itu menyatakan Operasi Searchlight dilakukan untuk memulihkan “ketertiban” akibat meningkatnya ketegangan politik dengan masyarakat Bengali. Namun, dalam praktiknya, operasi ini justru memicu pembunuhan massal, penahanan sewenang-wenang, serta kekerasan seksual berskala besar.
Baca juga: Operasi Doolittle Raid: Saat AS Nekat Terbangkan Pesawat Pengebom dari Kapal Induk
Serangan dimulai dengan penargetan universitas, kantor Partai Awami League, penjara, dan kawasan permukiman yang dicurigai mendukung gerakan kemerdekaan. Dhaka (Dacca) menjadi pusat utama operasi. Akses komunikasi seperti radio diputus, kampus-kampus dikepung, dan banyak tokoh masyarakat ditangkap, bahkan dieksekusi dalam waktu singkat.
Jumlah korban hingga kini masih menjadi perdebatan. Pemerintah Bangladesh menyebut angka korban mencapai jutaan jiwa. Sementara itu, sejumlah sejarawan memperkirakan korban berada di kisaran ratusan ribu hingga lebih dari satu juta orang. Meski terdapat perbedaan angka, para peneliti sepakat bahwa terjadi pembunuhan sistematis terhadap warga sipil, penargetan kelompok minoritas, serta kekerasan seksual yang meluas. Karena itu, banyak pihak mendorong agar peristiwa ini diakui sebagai kejahatan kemanusiaan, bahkan genosida.
Kesaksian korban dan laporan investigasi jurnalistik mengungkap keberadaan kamp-kamp penahanan serta praktik pemerkosaan massal terhadap perempuan Bengali. Dalam berbagai laporan, kekerasan seksual disebut digunakan sebagai “senjata perang”, meninggalkan trauma mendalam yang dampaknya masih dirasakan hingga kini.
Respons komunitas internasional pada awalnya terbatas pada pernyataan keprihatinan. Namun, seiring meningkatnya eskalasi konflik, kecaman pun menguat. Jutaan warga Pakistan Timur melarikan diri ke India, memicu krisis kemanusiaan dan tekanan politik regional. Kondisi ini kemudian berujung pada pecahnya perang India–Pakistan pada Desember 1971. India keluar sebagai pemenang, membuka jalan bagi berdirinya negara Bangladesh pada 16 Desember 1971.
Pasca-perang, berbagai penyelidikan dilakukan untuk mengungkap rangkaian peristiwa dan pihak-pihak yang bertanggung jawab. Salah satu dokumen penting adalah laporan Hamoodur Rahman Commission, yang mengungkap sejumlah fakta terkait Operasi Searchlight, meskipun sebagian besar isinya tidak pernah dipublikasikan secara penuh.
Baca juga: Operasi Ceylon: Ketika Armada Jepang Menghantam Pertahanan Terakhir Inggris di Asia
Hingga kini, Operasi Searchlight dikenang sebagai salah satu tragedi kemanusiaan paling kelam di Asia Selatan. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kekerasan negara terhadap warganya sendiri dapat berkembang menjadi bencana kemanusiaan dan konflik internasional. Upaya pengakuan, pendokumentasian sejarah, serta pencarian keadilan bagi para korban terus dilakukan, bersamaan dengan diskusi mengenai rekonsiliasi, penyembuhan trauma, dan pengakuan atas dugaan genosida.
Operasi Searchlight bukan sekadar operasi militer, melainkan peristiwa yang mengubah peta politik Asia Selatan dan meninggalkan luka kemanusiaan yang mendalam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Guardian, Britannica