INDOZONE.ID - Pada Era Tiongkok kuno standar keindahan menuntut pengorbanan brutal hingga menyebabkan cacat fisik permanen.
Inilah praktik foot binding (Chanzu), sebuah ritual keji yang mengubah tulang kaki jutaan gadis menjadi bentuk mengerikan demi mencapai sepasang kaki "Teratai Emas" berukuran maksimal 10 cm.
Ironisnya, martabat seorang bangsawan ditentukan oleh tingkat kehancuran kakinya.
Awal mula obsesi terhadap kaki mungil yang hampir tidak berfungsi ini diyakini berasal dari Dinasti Tang Selatan pada abad ke-10.
Konon seorang selir bernama Yao Niang memukau Kaisar Li Yu dengan tarian anggun menggunakan kaki yang diikat, yang menciptakan ilusi bunga teratai di setiap langkah.
Baca juga: India Bukan Sekadar Taj Mahal: Ini Tiga Fondasi Utamanya
Sejak saat itu, memiliki kaki kecil (Jin Lian) menjadi simbol status sosial yang tak terbantahkan.
Kaki yang terikat lumpuh membatasi pergerakan, menjadikannya bukti kekayaan luar biasa.
Sebab wanita tersebut tidak perlu bekerja di ladang, melainkan hidup dilayani. Kaki ideal (10 cm) dihormati sebagai Teratai Emas.
Proses untuk mencapai status kemewahan tersebut yakni dengan melewati penyiksaan yang dimulai sejak gadis berusia 3 hingga 6 tahun.
Kaki mereka direndam air herbal, lalu empat jari kaki (kecuali ibu jari) dipatahkan dan ditekuk kuat hingga menempel ke telapak.
Baca juga: Meiji Revolution: Perjalanan Jepang Menjadi Raksasa Asia
Tulang punggung kaki juga dipaksa melengkung. Ikatan perban diulang secara terus-menerus, dan tulang yang mulai menyatu akan dipatahkan lagi, dalam proses yang berlangsung 2 hingga 3 tahun.
Risiko infeksi, nanah, dan gangrene selalu mengintai. Ini mengakibatkan kematian pada sekitar 10 persen gadis, dan ikatan itu harus dipertahankan seumur hidup.
Menjelang akhir abad ke-19, didorong oleh semangat Nasionalisme, kritik keras bermunculan terhadap tradisi tersebut.
Para intelektual mempertanyakan, bagaimana mungkin Tiongkok bisa menjadi negara yang kuat jika separuh populasinya dilumpuhkan oleh tradisi ini?
Tokoh feminis awal, Qiu Jin, berani melakukan perlawanan fisik dengan melepaskan ikatan kakinya sendiri.
Puncaknya, Pemerintah Republik Tiongkok secara resmi melarang praktik foot binding pada tahun 1912, mencegah kelanjutan tradisi kuno tersebut.
Baca juga: The Long March, Perjalanan Epik yang Mengubah Sejarah dan Bangkitnya Mao Zedong
Pada akhirnya, yang benar-benar mematikan tradisi ini adalah faktor ekonomi.
Urbanisasi dan kebutuhan akan tenaga kerja wanita yang sehat dan lincah di pabrik tekstil mengubah pandangan masyarakat.
Kaki terikat, yang dulunya simbol status, mendadak menjadi beban yang tidak produktif bagi keluarga dan negara.
Praktik terakhir dari tradisi ini tercatat pada tahun 1957, menandai berakhirnya penderitaan yang telah berlangsung selama satu milenium.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube @xiaoxiangvillage