Kamis, 20 NOVEMBER 2025 • 22:00 WIB

Kurultai: Pemilu Ala Mongol yang Menentukan Nasib Kekaisaran

Author

Ilustrasi Prosesi Kurultai (Sumber: Netflix)

INDOZONE.ID - Pada season 2 serial Marco Polo (2014), penonton diperlihatkan konflik besar antara Kublai Khan dan sepupunya, Kaidu, yang menjadi salah satu inti cerita. Konflik ini tidak muncul begitu saja, melainkan berasal dari perbedaan prinsip, ambisi politik, dan perebutan legitimasi kekuasaan dalam Kekaisaran Mongol pasca wafatnya Genghis Khan.

Kaidu menilai bahwa Kublai telah menyimpang dari tradisi leluhur Mongol. Menurutnya, Kublai terlalu dekat dengan bangsa dan budaya asing terutama budaya Tiongkok, serta lebih banyak tinggal di wilayah selatan kekaisaran. Baginya, hal ini menunjukkan bahwa Kublai telah meninggalkan identitas asli bangsa Mongol yang nomaden dan keras.

Selain itu, Kaidu juga mempertanyakan keabsahan kekhanan Kublai. Ia menuding bahwa kurultai yang menetapkan Kublai sebagai Khan Agung diadakan di wilayah China Utara, yang secara strategis membuat para pendukung Ariq Boke (kakak Kublai dan pesaing utama) tidak bisa hadir. Kaidu menilai langkah itu dilakukan untuk mencurangi proses pemilihan Khan demi merebut kekuasaan dari saudara sendiri.

Baca juga: Genghis Khan Pemimpin Mongol, Sang Penakluk yang Brutal

Ketegangan semakin meningkat hingga akhirnya Kaidu menantang Kublai untuk mengadakan kurultai baru, sebagai ajang penentuan siapa yang lebih layak menjadi Khan Agung Mongol. Kedua pihak pun mempersiapkan dukungan politik dari berbagai klan asli Mongol.

Apa Itu Kurultai?

Kurultai adalah sidang pemilihan pemimpin tertinggi pada masa Kekaisaran Mongol. Dalam tradisi Mongol, hanya para kepala suku asli (noyan) yang memiliki hak suara dalam kurultai. Fungsi utamanya adalah memilih Khan Agung, pemimpin tertinggi seluruh kekaisaran.

Beberapa poin penting tentang kurultai:

1. Peserta yang Berhak Memilih

Yang dapat memberikan suara hanyalah para kepala suku Mongol asli, termasuk para komandan, bangsawan, dan pemimpin klan keturunan Genghis Khan.

2. Syarat Calon Khan

Hanya mereka yang memiliki garis keturunan langsung dari Genghis Khan yang dapat dicalonkan. Dalam cerita, baik Kublai maupun Kaidu merupakan cucu-cicit Genghis melalui garis keluarga yang berbeda, sehingga keduanya berhak maju sebagai kandidat.

3. Kurultai Diadakan Saat Terjadi Klaim Ganda

Jika ada dua keturunan yang sama-sama mengklaim tahta, kurultai menjadi ajang penentu final. Karena itulah Kaidu menantang Kublai untuk kurultai baru agar status kepemimpinan bisa diputuskan secara sah.

4. Acara Pra-Kurultai

Sebelum hari pemilihan, kedua kandidat biasanya akan:

  • Mengadakan jamuan besar
  • Menggelar pesta dan hiburan
  • Berburu bersama para kepala suku

Semua ini bertujuan mencari dukungan politik dan menunjukkan kapasitas mereka sebagai calon pemimpin.

Baca juga: Mengungkap Sejarah Invasi Bangsa Mongol di Nusantara

5. Rangkaian Acara pada Hari Kurultai

Pada hari pemilihan:

  • Acara dimulai dengan hiburan seperti gulat atau pertunjukan adat
  • Dua kandidat memberikan pidato yang menegaskan hubungan mereka dengan garis keturunan Genghis Khan
  • Para kepala suku memberikan suara secara tegas

6. Konsekuensi Bagi Pihak yang Kalah

Dalam tradisi Mongol, kandidat yang kalah dianggap telah berani menantang Khan Agung. Karena itu, pemenang berhak menjatuhkan hukuman berat termasuk eksekusi terhadap lawan dan pendukungnya.

Konflik antara Kublai Khan dan Kaidu dalam Marco Polo mencerminkan salah satu masa paling penuh intrik dalam sejarah Mongol. Pertarungan politik mereka bukan sekadar persaingan pribadi, tetapi perebutan legitimasi atas warisan Genghis Khan yang sangat dihormati seluruh bangsa Mongol.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Worldhistory.org

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU