Rabu, 19 NOVEMBER 2025 • 19:46 WIB

Kisah Ratu Suhita: Wanita Berbaju Ungu yang Mengguncang Tahta Majapahit

Author

Ilustrasi dan patung Ratu Suhita (Wikipedia)

INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu membayangkan hidup di zaman ketika takhta cuma boleh dipegang laki-laki, lalu tiba-tiba muncul seorang wanita muda yang langsung bikin sejarah jungkir balik? 

Itulah kisah Suhita, gadis bangsawan yang sejak kecil sudah “ditandai” takdir buat jadi beda.

Lahir sebagai putri Raja Wikrama Wardhana dan Kusuma Wardhani, Suhita tumbuh di tengah kemewahan istana, tapi tetap ngerasain kerasnya tekanan politik.

Majapahit baru aja selesai melewati Perang Paregreg, perang saudara yang bikin kondisi kerajaan hancur-hancuran. Desa terbakar, sawah kosong, dan hubungan keluarga bangsawan retak parah.

Di situ, Suhita kecil belajar. Bukan cuma dari guru atau kitab, tapi dari bisikan lorong-lorong istana, cerita para pedagang, sampai tatapan waspada prajurit.

Semua itu membentuk nalarnya jadi lebih tajam dari kebanyakan bangsawan seusianya.

Yuk simak kisah Ratu Suhita dilansir dari YouTube @Tos Nusantara selengkapnya!

Baca juga: Kisah Mistis Pesugihan Kawin Ratu Mustika: Dari Ambisi, Cinta, hingga Petaka

Pertarungan Menuju Takhta

Waktu Raja Wikrama Wardhana mulai menua, isu suksesi makin panas. Banyak bangsawan merasa kalau perempuan nggak pantas memimpin Majapahit.

Tapi Kusuma Wardhani, sang ibu, diam-diam sudah menyiapkan Suhita dengan ilmu politik, diplomasi, dan strategi militer.

Setelah sang raja wafat, istana langsung kayak arena rebutan kursi kosong. Ada yang dorong pangeran, ada yang bisik-bisik minta ratu saja.

Namun akhirnya, Suhita dipilih. Nah pagi hari penobatannya, perempuan muda berbaju ungu itu berjalan keluar pendopo dengan tatapan yang bikin ratusan rakyat langsung hening.

Itulah momen ketika nama “Ratu Kencana Wungu” lahir.

Menyatukan Majapahit yang Retak

Naik takhta di saat kerajaan lagi rapuh bukan hal gampang. Banyak bangsawan dari kubu-kubu yang dulunya perang masih menyimpan dendam. Tapi langkah pertama Suhita bikin semua orang berhenti meremehkannya.

Ia mengumpulkan para bangsawan dari dua kubu. Ia dengarkan keluhan, debat, bahkan sindiran tajam.

Di hadapan bangsawan yang pernah kehilangan rumah akibat perang, dia bilang dengan suara tenang:

“Aku tidak bisa menghapus masa lalu. Tapi aku bisa memastikan masa depan kita tidak bernasib sama.”

Kalimat itu jadi titik balik. Perlahan tapi pasti, ia menempatkan beberapa bangsawan “lawan” ke posisi penting.

Sebuah keputusan yang kontroversial, tapi berhasil merajut kembali keseluruhan Majapahit yang sempat terpecah.

Menghidupkan Lagi Laut dan Lumbung Majapahit

Buat Suhita, kekuatan kerajaan bukan cuma soal politik, tapi soal perut rakyatnya. Maka ia mulai menghidupkan kembali jalur perdagangan laut yang terganggu perompak.

Ia memerintahkan patroli, ngasih insentif untuk pelapor perompakan, sampai memastikan armada Majapahit kembali ditakuti di laut.

Baca juga: Ajian Sabdo Pandito Ratu: Ilmu Sakti dari Ucapan yang Jadi Kenyataan

Ilustrasi Ratu Suhita. (Foto: Freepik @Freepik)

Di darat, ia membangun ulang saluran irigasi, ngerjain proyek lumbung padi, dan memastikan desa-desa yang dulu hancur mulai bangkit lagi.

Pasar kembali ramai, kapal dagang mulai datang, dan roda ekonomi pelan-pelan muter lagi. Majapahit mulai terasa bernapas.

Intrik Istana dan Ancaman yang Mengintai

Tapi ya namanya juga kerajaan besar, kemenangan kecil selalu mengundang iri. Beberapa bangsawan mulai ngumpet-ngumpet ngobrolin rencana buat menjatuhkan sang ratu.

Ada yang nyindir bahwa sukses ekonomi itu cuma kebetulan, ada yang bilang Majapahit lebih stabil kalau dipimpin laki-laki.

Suatu malam, utusan setia membawa kabar kalau ada yang mau menggagalkan pertemuan diplomatik penting.

Tanpa basa-basi, keesokan pagi Suhita memimpin langsung rombongan diplomasi itu. Langkah berani yang bikin hormat kawan sekaligus takut lawan.

Pertemuan itu sukses besar. Positioning-nya sebagai pemimpin makin kokoh.

Senja Kehidupan Sang Ratu

Setelah bertahun-tahun memimpin dan menanggung beban politik yang luar biasa, tubuh Suhita mulai melemah.

Tahun 1447, suasana istana mendadak berubah. Bisik-bisik tentang suksesi mulai terdengar.

Suhita memanggil adik tirinya, Kertawijaya, untuk pembicaraan panjang yang tidak pernah diceritakan siapapun.

Beberapa bulan kemudian, kabar itu akhirnya tiba, Ratu Kencana Wungu mangkat.

Tidak ada perang. Tidak ada kekacauan. Ia pergi meninggalkan Majapahit dalam keadaan stabil, tegak, dan dihormati.

Rakyat dari berbagai penjuru datang membawa bunga dan dupa. Mereka tahu, tidak akan ada lagi perempuan yang naik takhta setelah ini. Nah benar saja, Suhita menjadi ratu perempuan terakhir Majapahit.

Baca juga: 5 Kisah Mistis Gunung Rinjani: Misteri Istana Dewi Anjani hingga Sang Ratu Jin

Ilustrasi Ratu Suhita. (Foto: Freepik @Freepik)

Di malam-malam sunyi, ketika angin melewati halaman istana Trowulan, nama Suhita masih dibisikkan orang yaitu ratu yang memimpin di tengah badai, yang menyatukan negeri yang hampir pecah, dan yang membuktikan bahwa kepemimpinan tidak mengenal gender.

Dari perjalanan hidup Ratu Kencana Wungu, kita belajar bahwa keberanian dan kebijaksanaan seorang pemimpin tidak ditentukan oleh siapa dia lahir sebagai apa, tapi bagaimana ia berdiri ketika dunia meragukannya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU