Rabu, 12 NOVEMBER 2025 • 17:15 WIB

Eksperimen Monster yang Mengguncang Dunia Psikologi: Cerita Kelam di Balik "The Monster Study"

Author

Ilustrasi Eksperimen "The Monster Study" (Sumber: Youtube/Nessie Judge)

INDOZONE.ID - Bayangkan jadi anak kecil di panti asuhan. Tiba-tiba datang sekelompok peneliti yang bilang mau “bantu” kamu supaya bisa bicara lebih lancar. Tapi yang tidak kamu tahu, mereka sebenarnya sedang mencoba sesuatu yang bakal mengubah hidupmu selamanya. Itulah yang terjadi dalam salah satu eksperimen paling kontroversial sepanjang sejarah psikologi yaitu The Monster Study.

Awal Cerita: Dari Penasaran Jadi Eksperimen yang Mengerikan

Cerita ini berawal pada tahun 1939 di University of Iowa, Amerika Serikat. Ada mahasiswa bernama Wendell Johnson yang sangat penasaran dengan penyebab seseorang menjadi gagap. Sebab, sejak kecil ia pernah mengalami gagap dan ingin tahu kenapa hal itu bisa terjadi.

Saat itu, banyak yang percaya bahwa gagap disebabkan oleh kerusakan pada otak. Namun, Wendell punya pandangan berbeda. Menurutnya, gagap muncul bukan karena otak yang “rusak”, melainkan karena tekanan psikologis terutama dari cara orang tua atau lingkungan menanggapi cara bicara anak.

Baca juga: Eksperimen Hepatitis Willowbrook: Sejarah Kelam Percobaan Medis Tak Manusiawi di Sekolah Disabilitas

Dari situ, ia menemukan teori bernama Diagnosogenic Theory. Teori ini menyatakan bahwa gagap muncul karena anak-anak terlalu sering mendapat kritik atau teguran saat belajar berbicara. Jika anak sering dipuji dan diberi semangat, mereka akan lebih percaya diri dan lancar berbicara. Teorinya terdengar masuk akal, sayangnya, cara Wendell membuktikannya justru mengerikan.

Anak-Anak Panti Asuhan Jadi Kelinci Percobaan

Untuk menjalankan penelitiannya, Wendell dibantu asistennya, Mary Tudor, yang juga mahasiswa psikologi. Mereka memilih 22 anak yatim piatu dari Iowa Soldiers’ Orphan Home sebagai “bahan percobaan”.

Yang membuat miris, pihak panti asuhan tidak diberi tahu bahwa ini sebenarnya adalah eksperimen. Mereka dibohongi dengan dalih anak-anak akan mendapatkan “terapi wicara”. Padahal, anak-anak itu hanya dijadikan objek penelitian tanpa sepengetahuan mereka.

Anak-anak tersebut dibagi menjadi empat kelompok:

  • Kelompok 1A: Anak yang sudah gagap, diberi pujian.
  • Kelompok 1B: Anak yang sudah gagap, tetapi diberi kritikan.
  • Kelompok 2A: Anak yang berbicara normal, namun diberi komentar negatif.
  • Kelompok 2B: Anak yang berbicara normal, diberi dukungan positif.

Selama lima bulan, Mary Tudor bertemu mereka satu per satu selama 45 menit setiap minggu untuk memberikan pujian atau kritik sesuai kelompoknya. Anak-anak di kelompok negatif terus-menerus diberitahu bahwa cara bicara mereka buruk, bisa menjadi gagap, bahkan disuruh diam jika “ngomongnya tidak benar”.

Dampaknya Bikin Nangis: Trauma Seumur Hidup

Hasilnya sungguh memilukan.

Anak-anak yang awalnya berbicara normal berubah total. Mereka jadi takut bicara, grogi, sering menunduk, atau memilih diam.

Salah satu korban, Norma Jean Pew, yang awalnya cerewet dan periang, tiba-tiba menjadi pendiam dan enggan berbicara lagi. Ada juga Hazel Potter, yang dulunya percaya diri, menjadi takut berbicara dan sering menjentikkan jarinya karena cemas setiap kali ingin mengatakan sesuatu.

Beberapa anak lainnya tumbuh dengan trauma berat, tidak berani membaca di depan kelas, dan menganggap diri mereka “aneh” seumur hidup. Eksperimen ini dihentikan setelah lima bulan, tapi lukanya bertahan puluhan tahun.

Penyesalan dan Rahasia yang Terbongkar

Menyadari dampak parah dari eksperimen itu, Wendell Johnson menghentikannya dan menyembunyikan semua hasil penelitiannya. Ia tidak pernah memublikasikan temuannya karena takut mendapat kecaman.

Namun, pada tahun 1960-an, dokumen penelitian tersebut bocor, dan dunia akhirnya tahu tentang kekejaman yang dilakukan atas nama “ilmu pengetahuan”.

Baru pada tahun 2001, media San Jose Mercury News menerbitkan laporan investigasi berjudul Ethics and Orphans: The Monster Study. Dari situ diketahui bahwa beberapa korban masih hidup, meski meninggalkan luka batin yang dalam.

Banyak dari mereka tumbuh menjadi orang yang kurang percaya diri, takut berbicara, bahkan trauma bergaul. Beberapa akhirnya menuntut University of Iowa dan pemerintah negara bagian Iowa atas penderitaan psikologis yang mereka alami. Pemerintah pun sepakat membayar ganti rugi sebesar 925.000 dolar AS atau sekitar Rp 8 miliar untuk para korban.

Baca juga: Kisah Winner Lane dan Loser Lane, Sebuah Eksperimen Nama yang Berakhir Tak Terduga

Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Eksperimen Ini?

Kasus ini mengingatkan kita betapa pentingnya etika dalam penelitian psikologi. Niat baik tidak pernah bisa menjadi pembenaran untuk cara yang salah.

Wendell Johnson mungkin ingin membantu anak-anak gagap, tetapi caranya justru merusak hidup mereka. Dari eksperimen inilah kita belajar bahwa kata-kata memiliki kekuatan luar biasa bisa menyembuhkan, tapi juga bisa melukai sangat dalam.

Jadi, jika kamu pernah merasa kata-kata orang lain menjatuhkan mood atau kepercayaan dirimu, ingatlah: kamu tidak sendiri. Penelitian ini membuktikan bahwa satu kata negatif saja bisa meninggalkan luka yang bertahan lama.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Youtube/Nessie Judge

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU