Selasa, 11 NOVEMBER 2025 • 18:30 WIB

Oranje Nassau: Jejak Industri Tambang Batu Bara di Kalimantan Selatan Abad ke-19

Author

Lokasi Tambang Batu Bara Oranje Nassau (lingkaran warna merah) dalam wilayah Kesultanan Banjarmasin tahun 1860 (Sumber:Nasional Republik Indonesia 1965)

INDOZONE.ID - Aktivitas pertambangan batu bara di Indonesia telah dimulai sejak masa kolonial Hindia Belanda. Kegiatan ini merupakan bagian dari eksplorasi bahan mineral yang gencar dilakukan pada abad ke-19. Batu bara mulai dipandang bernilai strategis sejak masa Revolusi Industri di Eropa, karena menjadi sumber energi utama yang mendorong kemajuan berbagai sektor industri, mulai dari tekstil hingga pembuatan logam.

Salah satu situs bersejarah yang menandai awal perkembangan industri batu bara di tanah air adalah Tambang Batu Bara Oranje Nassau, yang berlokasi di Desa Pengaron, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Tambang ini tercatat sebagai tambang batu bara tertua di Indonesia, dan merupakan milik pemerintah kolonial Hindia Belanda. Menariknya, tambang tersebut didirikan di atas tanah yang sebelumnya merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Banjarmasin.

Baca juga: Penemuan Berlian Langka 50,25 Karat di Botswana: Tambang Karowe Kembali Jadi Rekor Dunia!

Tambang Oranje Nassau diresmikan pada 28 September 1849 oleh Gubernur Jenderal Jan Jacob Rochussen. Peresmian ini menandai dimulainya era eksploitasi sumber daya batu bara di Nusantara secara besar-besaran. Nama "Oranje Nassau" sendiri diambil dari nama keluarga kerajaan Belanda, yang kala itu menjadi simbol kekuasaan dan kejayaan kolonial.

Kalimantan Selatan pada masa itu masih berada di bawah kekuasaan Sultan Adam Al-Watsiq Billah, penguasa Kesultanan Banjarmasin. Pemerintah Hindia Belanda memperoleh izin resmi dari sang Sultan untuk melakukan penggalian batu bara di beberapa wilayah, di antaranya tambang Oranje Nassau di Pengaron (1849), tambang Julia Hermina di Banyu Irang, serta tambang Kalangan pada tahun 1853.

Menariknya, wilayah tambang tersebut dulunya merupakan tanah lungguh, yaitu tanah milik kerajaan yang diberikan kepada pejabat tinggi seperti mangkubumi (patih) sebagai pengganti gaji. Karena tanah tersebut kemudian diambil alih oleh pemerintah Belanda untuk kegiatan pertambangan, pihak kerajaan menerima kompensasi sebesar 140 gulden untuk setiap ton batu bara yang dihasilkan. Jumlah ini menunjukkan nilai ekonomi batu bara yang sangat tinggi pada masa itu.

Pada perkembangannya, hasil tambang batu bara dari Kalimantan Selatan memiliki peran penting dalam mendukung kemajuan teknologi transportasi di Hindia Belanda. Batu bara digunakan sebagai bahan bakar lokomotif kereta api oleh perusahaan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), serta kapal uap (kapal api) milik perusahaan pelayaran N.V. Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) yang mulai beroperasi pada tahun 1891. Besar kemungkinan, sebagian besar batu bara yang digunakan oleh armada-armada tersebut berasal dari tambang-tambang di Kalimantan.

Baca juga: Menelisik Sejarah Tambang Batubara Oranje Nassau, Sejarah hingga Perkembangan Teknologinya!

Selain menjadi tonggak sejarah industri batu bara di Indonesia, keberadaan tambang Oranje Nassau juga mencerminkan bagaimana kolonialisme dan eksploitasi sumber daya alam berlangsung di masa lalu. Di balik nilai ekonominya, tambang ini menyimpan kisah tentang perubahan sosial dan politik di Kalimantan Selatan, mulai dari pergeseran kepemilikan tanah kerajaan hingga awal mula industrialisasi di Nusantara.

Kini, bekas tambang Oranje Nassau masih menjadi situs bersejarah yang menyimpan jejak penting masa lalu. Sejumlah bagian bekas terowongan dan struktur tambang masih dapat ditemukan di kawasan Pengaron, menjadi saksi bisu dari babak awal perjalanan panjang industri batu bara di Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Academia.edu, Brin.go.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU