Sabtu, 08 NOVEMBER 2025 • 17:00 WIB

Sejarah Hari Pahlawan 10 November: Ultimatum Maut dan Harga Sebuah Kemerdekaan di Surabaya

Author

Ilustrasi pertempuran (Freepik)

INDOZONE.ID - Tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Di balik tanggal merah dalam kalender nasional tersebut, tersimpan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Peringatan ini bertujuan untuk mengenang dan menghormati jasa para pahlawan yang telah gugur demi membela kemerdekaan. 

Baca juga: Sejarah Hari Guru: Perjuangan dan Penghormatan kepada Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Awal Mula Pertempuran Surabaya 

Peringatan Hari Pahlawan bermula dari pertempuran heroik di Surabaya pada 1945, yang menjadi simbol perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme.

Peristiwa tersebut dipicu oleh kedatangan tentara Sekutu, yang terdiri dari tentara Inggris dan Belanda (NICA), di Surabaya pada 25 Oktober 1945.

Tujuan awal mereka adalah melucuti senjata Jepang dan mengamankan tawanan perang. 

Baca juga: Ajian Kabut Sakti Gajah Mada: Saat Kabut Jadi Senjata Rahasia Majapahit

Namun, situasi memanas saat NICA yang dipimpin Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sother Mallaby, mendirikan pos pertahanan dan memerintahkan rakyat Indonesia untuk menyerahkan senjata.

Perintah ini langsung ditolak mentah-mentah oleh rakyat Indonesia hingga menyebabkan pertempuran pecah.

Puncaknya adalah ketika Jendral Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945, dan menyulut kemarahan Inggris.  

Baca juga: Sejarah G30S/PKI 1965: Fakta, Latar Belakang, dan Akhir Kekuasaan PKI di Indonesia

Ultimatum dan Perlawanan Rakyat

Sebagai respons, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh yang menggantikan Mallaby mengeluarkan ultimatum pada 10 November 1945.

Ultimatum tersebut menuntut seluruh pemimpin dan rakyat Surabaya menyerahkan senjata dan datang melapor diri untuk menandatangani pernyataan menyerah tanpa syarat.

Para pemimpin perjuangan, termasuk arek-arek Suroboyo, menolak tegas ultimatum tersebut. 

Baca juga: Lapisan Sosial Kerajaan Makassar: Dari Bangsawan Anakarung hingga Rakyat Merdeka

Akibatnya, pada 10 November 1945, Inggris menyerang Kota Surabaya dari darat, laut, dan udara, melakukan gencatan senjata yang berlangsung selama kurang dari tiga minggu.

Pertempuran memakan ribuan pejuang yang gugur, sekitar 20.000 rakyat Surabaya terluka dan tewas. Peristiwa ini menjadikan Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan.

Dalam pertempuran ini, tokoh-tokoh penting seperti Bung Tomo berperan besar mengobarkan semangat perlawanan melalui siaran Radio Pemberontakan. 

Baca juga: Reformasi Gereja Abad 16: Dampak dan Peranan Tokoh-Tokoh Penting Dibaliknya

Tokoh agama seperti KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Wahab Hasbullah juga menggerakkan santri dan warga sipil sebagai milisi perlawanan.

Penetapan Resmi dan Nilai Kepahlawanan

Pemerintah Indonesia resmi menetapkan 10 November untuk mengenang pertempuran heroik tersebut.

Ketetapan tersebut disahkan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959, kemudian ditandatangani oleh Presiden Soekarno. 

Baca juga: Kisah Penculikan Charles Lindberg Jr yang Bikin Heboh hingga FBI dan Presiden Rooselvet Ikut Terlibat

Hari pahlawan lebih dari sekadar sejarah, melainkan momen untuk merefleksikan nilai-nilai dasar bangsa. Cinta tanah air, keberanian, persatuan, dan semangat rela berkorban.

Nilai-nilai tersebut mengajarkan bahwa kemerdekaan adalah hasil perjuangan dan pengorbanan.

Di era modern masa kini, perjuangan pahlawan harus terus dilanjutkan melalui inovasi, kepedulian sosial, dan partisipasi aktif dalam membangun bangsa.  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU