6 Dasawarsa G30SPKI: Kisah Sukitman dan Pohon Pisang, 2 Hal yang Menjadi Awal Titik Terang Keberadaan Jasad Para Jenderal
INDOZONE.ID - 17 Agustus 1965, Indonesia merayakan hari kemerdekaannya yang ke-20 tahun. Hanya saja, tak lama setelahnya terjadi sebuah tragedi yang benar-benar mengerikan, dan tentunya tidak akan pernah terlupakan oleh rakyat Indonesia sampai kapan pun. Ya benar, tragedi yang dimaksud yaitu Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) yang terjadi pada malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965.
Tragedi ini menewaskan enam jenderal Angkatan Darat, yaitu Jenderal Ahmad Yani, Jenderal Raden Suprapto, Jenderal Mas Tirtodarmo (MT) Haryono, Jenderal Siswondo (S) Parman, Jenderal Donald Izacus (DI) Panjaitan, Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, serta satu ajudan dari Jenderal Abdul Harris Nasution, yaitu Letnan Pierre Tendean. Jenderal Nasution sendiri selamat dari penculikan setelah beliau berhasil kabur dari rumah dengan memanjat tembok. Dalam insiden itu, beliau hanya mengalami luka dan patah kaki akibat melompati tembok yang tinggi.
Baca juga: Mengenang G30S/PKI: Fakta Autopsi yang Ungkap Derita 7 Pahlawan Revolusi
Keenam jasad jenderal dan satu perwira muda korban penculikan malam jahanam tersebut ditemukan di daerah Lubang Buaya dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Nah, berbicara tentang penemuan jasad para jenderal di Lubang Buaya, tentu kita tidak dapat memandang sebelah mata jasa seorang polisi bernama Soekitman, karena berkat beliau-lah keberadaan jasad para jenderal akhirnya diketahui.
Soekitman, yang lahir pada 30 Maret 1943 di Palabuhanratu, Sukabumi, saat itu sedang menjalankan piket malam pada 30 September 1965. Di malam itu, beliau bertugas menjaga markas polisi dan Wisma AURI di Jalan Iskandarsyah, Jakarta. Bersama rekannya, Sutarso, Pak Soekitman berjaga hingga dini hari 1 Oktober 1965. Nah, pada dini hari itulah Pak Soekitman dikejutkan dengan suara rentetan tembakan yang sumbernya tidak diketahui dari mana.
Usut punya usut, suara tembakan tersebut ternyata bersumber dari lokasi yang tak jauh dari tempat ia berjaga. Setelah itu, Soekitman pun berniat mengecek sumber suara tersebut, sementara Soetarso tetap berjaga di pos, sesuai permintaannya. Dengan menggunakan sepeda, ia memberanikan diri menuju sumber suara, yang akhirnya diketahui berasal dari rumah Jenderal DI Panjaitan di Jalan Sultan Hasanuddin.
Soekitman terkejut karena melihat banyak pasukan khusus berbadan tegap di rumah Jenderal Panjaitan. Belum selesai dari keterkejutannya, ia dibentak oleh salah satu pasukan tersebut.
“Turun! Buang senjata sekarang!” bentak orang itu setelah mengetahui Soekitman adalah seorang polisi.
Setelah digeledah habis-habisan, Soekitman dilempar ke dalam sebuah truk dengan kaki dan tangan terikat serta mata tertutup, hanya menyisakan hidung yang tetap terbuka.
Setelah sampai di Lubang Buaya, Soekitman semakin panik karena mendengar percakapan dalam bahasa Jawa yang jika diartikan berarti, “(Ahmad) Yani sudah dibunuh!” Tak berselang lama, ada tentara yang mendatangi Soekitman dan menyeretnya ke sebuah tenda. Saat Soekitman mencari celah untuk kabur, ia melihat beberapa mayat bergelimpangan dan terduduk di kursi dengan darah yang sangat banyak. Pada momen inilah ia juga menyadari bahwa pasukan yang menyulik para jenderal adalah Pasukan Cakrabirawa.
Ketika matahari mulai terbit, dari jarak sekitar 10 meter, Soekitman melihat para tentara penculik berada di sebuah lubang sumur. Ia melihat mereka memasukkan beberapa jasad ke dalam lubang sempit itu. Setelah seluruh jasad masuk, para tentara mengambil tumpukan sampah untuk menutupi bau mayat, dan terakhir menancapkan sebuah pohon pisang agar semakin mengaburkan lokasi penyiksaan sadis tersebut.
Baca juga: Sejarah G30S/PKI 1965: Fakta, Latar Belakang, dan Akhir Kekuasaan PKI di Indonesia
Soekitman dan Pohon Pisang
Singkat cerita, setelah sempat dibawa berkeliling oleh Pasukan Cakrabirawa, Soekitman tertidur hingga sore hari di kolong truk. Mengejutkannya, ketika ia terbangun, para pasukan pembunuh jenderal sudah tidak ada sama sekali, sehingga ia sendirian. Saat ia berniat kabur, Soekitman bertemu para tentara yang sedang mencari anggota mereka yang terlibat dalam gerakan PKI. Setelah bertemu dengan tentara tersebut, Soekitman diberi tanda pita putih seperti yang dikenakan para tentara, menandakan bahwa ia bukan anggota PKI.
Lalu pada hari Minggu, Soekitman diajak berkeliling ke lokasi pembantaian. Lokasi pembantaian akhirnya ditemukan setelah Soekitman menyadari adanya pohon pisang yang tampak aneh dan mengatakannya kepada para penyidik. Penggalian pun dilakukan, dan setelah seluruh jasad berhasil dikeluarkan dari Lubang Buaya serta dilakukan autopsi, pemakaman keenam jenderal dan satu perwira muda dilakukan pada 5 Oktober 1965, bertepatan dengan Hari ABRI.
Berkat jasanya, Soekitman dinaikkan pangkatnya oleh Presiden Soeharto. Pada 13 Agustus 2007, di usia 64 tahun, Soekitman mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Bhakti Yuda, Depok, akibat stroke.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube/@KamarJERI_Official