INDOZONE.ID - Pada akhir abad ke-19, wajah Kota Surabaya mengalami perubahan drastis. Kota yang sebelumnya berbasis agraris menjelma pusat industri dan perdagangan yang berkembang pesat.
Faktor utama di balik perubahan ini adalah pertumbuhan sektor industri, yang didorong oleh kebijakan kolonial Belanda.
Pemerintah kolonial membuka peluang investasi swasta dan membangun infrastruktur modern guna mendukung ekspansi ekonomi.
Awal perkembangan industri di Surabaya berkaitan erat dengan kebijakan Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang diberlakukan sejak 1830.
Selain meningkatkan hasil pertanian untuk kebutuhan ekspor, kebijakan ini turut mendorong pertumbuhan industri pengolahan, terutama industri gula.
Wilayah sekitar Surabaya, seperti Sidoarjo dan Pasuruan, berkembang menjadi pusat perkebunan tebu, sementara di dalam kota mulai berdiri pabrik-pabrik gula.
Pada 1830-an, beberapa pabrik gula besar mulai beroperasi di kawasan Ketabang, Jagir, Karah, dan Darmo.
Baca juga: 5 Weton yang Punya Aura Gaib Kuat, Konon Membawa Energi Mistis
Selain industri gula, berbagai sektor manufaktur lainnya mulai berkembang, termasuk industri perkapalan, pengecoran logam, produksi peralatan rumah tangga, serta pabrik makanan dan minuman.
Kehadiran pabrik-pabrik ini membuka lapangan pekerjaan baru, menarik tenaga kerja dari berbagai daerah, dan memicu pertumbuhan industri pendukung, seperti bengkel perbaikan mesin uap, jasa transportasi, dan pergudangan.
Modernisasi transportasi juga memainkan peran penting dalam mempercepat perkembangan industri.
Pembangunan jalur kereta api pada 1878 dan pengoperasian trem uap pada 1889 meningkatkan efisiensi distribusi barang, memperluas pasar bagi industri lokal, serta mendukung arus ekspor dan impor melalui Pelabuhan Tanjung Perak.
Baca juga: 5 Arti Mimpi di Rumah Sakit Menurut Primbon Jawa, Benarkah Tanda Gaib?
Kemajuan ekonomi industri turut membawa dampak pada struktur sosial dan demografi Surabaya. Para pengusaha Eropa dan Tionghoa mendominasi sektor perdagangan dan manufaktur, sementara penduduk pribumi sebagian besar bekerja sebagai buruh pabrik dan tenaga jasa.
Munculnya kelas pekerja industri mengubah pola ekonomi masyarakat dari berbasis agraris menjadi lebih urban dan industrial.
Dengan pesatnya pertumbuhan sektor industri, Surabaya berhasil menegaskan posisinya sebagai pusat industri terbesar di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19.
Transformasi ini menjadi dasar bagi perkembangan ekonomi kota yang terus berlanjut hingga abad berikutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mozaik Humaniora