Sabtu, 28 JUNI 2025 • 10:07 WIB

Di Balik Tangisan Rasulullah SAW di Perang Uhud: Luka Mendalam karena Kematian Sang Paman

Author

Hamzah bin Abdul Muthalib (dailysabah)

INDOZONE.ID - Di antara jejak perjuangan awal umat Islam, Perang Uhud menjadi salah satu peristiwa yang paling memilukan.

Tak hanya karena kekalahan di medan tempur, tetapi karena di sanalah gugur salah satu sosok yang sangat dicintai Rasulullah saw. yaitu pamannya yang bernama Hamzah bin Abdul Muthalib.

Hamzah dikenal sebagai Singa Allah, sosok pemberani yang tak gentar menghadapi musuh-musuh Islam.

Tapi pada hari itu, ia terjatuh bukan karena kelemahan, melainkan karena pengkhianatan dan kebencian yang mendalam dari lawan.

Ketika jasadnya ditemukan, tubuhnya tidak lagi utuh. Dadanya terbuka, tubuhnya disayat, dan bagian dalamnya telah dirusak oleh tangan-tangan penuh dendam.

Rasulullah saw. berdiri di samping tubuh itu. Air mata jatuh tak bisa dibendung. Duka menyelimuti wajah beliau yang biasanya tegar. Tak ada kata yang bisa menggambarkan kehilangan sebesar itu.

Baca juga: Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW: Jejak Awal Sang Pembawa Kebenaran

Bagi beliau, Hamzah adalah lebih dari sekadar kerabat; ia adalah pelindung, sahabat, dan orang yang selalu berdiri di barisan terdepan saat dakwah mendapat perlawanan.

Tahun-tahun berlalu, namun bayang-bayang Hamzah tetap hadir di bayang-bayang Rasulullah saw.

Rasulullah saw. kerap datang ke makam para syuhada Uhud, dan di sanalah beliau sering menangis, mendoakan, serta mengenang sosok yang telah tiada.

Tangis itu bukan kelemahan, melainkan bentuk cinta yang tak pernah padam, meski waktu terus berjalan.

Suatu hari, Wahsyi bin Harb, orang yang melempar tombak ke tubuh Hamzah,datang mengikrarkan keislaman. Rasulullah saw. tidak menolak.

Sebagai utusan Allah yang penuh rahmat, beliau menerima taubat siapa pun yang datang dengan niat bersih.

Baca juga: Kisah Nabi Khidir, Guru dan Teman Nabi Musa AS yang Diyakini Masih Hidup Sampai Hari Ini

Tapi kejujuran tetap disampaikan, beliau berkata “Aku terima keislamanmu, tapi jangan terlalu sering hadir di hadapanku. Setiap melihatmu, aku teringat Hamzah.”

Kalimat itu tak dilontarkan dengan amarah. Tak ada dendam. Hanya luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Itulah sisi manusiawi seorang Nabi, mampu memaafkan dengan tulus, tapi juga tak menutupi perasaan duka yang begitu dalam.

Kematian Hamzah bin Abdul Muthalib telah menjadi bagian dari sejarah yang menyayat.

Dari peristiwa itu, tergambar keagungan akhlak dan kelembutan hati Rasulullah saw. yang mampu menerima orang yang membunuh orang tercinta, namun tetap jujur pada rasa sakit yang ditinggalkan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dailysabah.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU