Ilustrasi Bani Hasyim, kabilah bangsa Arab sekaligus keluarga besar Nabi Muhammad SAW
INDOZONE.ID - Nabi Muhammad SAW merupakan nabi besar umat Islam yang diutus di kota Makkah untuk memperbaiki moral bangsa Arab yang kala itu sedang rusak.
Muhammad memiliki keluarga besar yang bernama Bani Hasyim, di mana banyak dari mereka membantu perjuangan Nabi Muhammad SAW.
Bani Hasyim merupakan keturunan langsung dari Hasyim bin Abdul Manaf, yang merupakan kakek buyut dari Nabi Muhammad SAW.
Adapun silsilah dari Bani Hasyim bersambung hingga Nabi Ismail AS, yang merupakan putra dari Nabi Ibrahim AS.
Baca Juga: 3 Tradisi Unik Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia, Salah Satunya Nyiram Gong!
Nama Bani Hasyim berasal dari nama pendirinya, yaitu Hasyim yang bermakna penghancur. Diberi nama demikian, karena Hasyim sering menjamu tamu dengan roti yang dihancurkan dengan kaldu.
Bani Hasyim merupakan salah satu dari kabilah yang berpengaruh di Kota Makkah, dikarenakan mereka memiliki keahlian dalam menjalankan diplomasi.
Melalui peran Bani Hasyim, Kota Makkah dapat menjalin diplomasi dengan Kekaisaran Romawi, Persia dan Yaman, dengan menawarkan akses perdagangan dengan imbalan jaminan keamanan dari mereka.
Hal ini menjadikan Kota Makkah sebagai pusat perdagangan di dunia Arab pada saat itu, di mana tugas Bani Hasyim adalah menjamu mereka dan memberikan air zamzam kepada siapapun yang berkunjung di kota Makkah.
Selain itu, Bani Hasyim sering menjadi mediator dalam perselisihan antar kabilah di Kota Makkah, di mana keahlian tersebut menurun kepada Nabi Muhammad SAW.
Ketika Nabi Muhammad SAW mulai menyebarkan dakwah Islam di Kota Makkah, banyak dari orang-orang Bani Hasyim yang mendukung dan membela beliau meskipun masih banyak dari mereka yang belum memeluk Islam, seperti Abu Thalib.
Baca Juga: Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW: Jejak Awal Sang Pembawa Kebenaran
Berbeda dengan orang-orang Bani Hasyim lainnya, Abu Lahab merupakan satu-satunya orang Bani Hasyim yang memusuhi Nabi Muhammad SAW. Ia bahkan rela mengkhianati keluarga besarnya sendiri demi menjegal perjuangan Nabi.
Adapun puncaknya, terjadi pada masa pemboikotan massal yang menyebabkan status politik mereka berkurang secara drastis, yang kemudian berakhir dengan dihapusnya kebijakan tersebut tiga tahun kemudian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Al-Islam.org