INDOZONE.ID - Kina adalah tanaman obat yang berasal dari Amerika Selatan, terkenal karena kandungan zat aktifnya bernama quinine. Quinine sangat efektif dalam mengobati malaria, yaitu penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles.
Perkebunan Kina Cinyiruan, Bandung, Jawa Barat/Bandungbergerak.id.jpeg
Pemerintah kolonial Belanda yang membawa tanaman kina dari Amerika Selatan ke Hindia Belanda (Indonesia). Hal ini dilakukan sebagai bagian dari strategi mereka untuk mengatasi wabah malaria yang meluas di wilayah jajahan tropis, termasuk Pulau Jawa.
Pada abad ke-19, kondisi kesehatan masyarakat Jawa memburuk akibat kelaparan, peperangan, dan sistem kerja paksa. Berbagai penyakit seperti kolera, cacar, dan pes merebak. Namun, malaria menjadi ancaman epidemi yang serius karena sifatnya yang mudah menyebar di daerah tropis. Oleh karena itu, pada tahun 1855, Belanda mendirikan Perkebunan Kina Cinyiruan di Jawa Barat sebagai pusat budidaya tanaman kina.
Baca Juga: Dari Perkebunan ke Perubahan: Teh Malabar dan Wajah Baru Pangalengan
Pulau Jawa, khususnya di daerah pegunungan seperti Bandung, menjadi pusat utama produksi kina. Iklimnya yang sejuk dan tanahnya yang subur membuat kina tumbuh dengan baik. Dalam waktu singkat, produksi kina di Jawa menggantikan pasokan dari Amerika Selatan di apotek-apotek Eropa.
Perkebunan Teh dan Kina/Bandungbergerak.id.jpeg
Sebelum ditemukannya vaksin dan antibiotik, quinine dari kulit pohon kina adalah satu-satunya obat yang terbukti efektif melawan malaria. Quinine bekerja dengan menyerang parasit Plasmodium saat berada di dalam sel darah merah, menghambat metabolisme parasit, dan menghentikan proses perbanyakannya.
Baca Juga: Pohon Flamboyan, Peneduh yang Bisa Jadi Obat Malaria
Belanda sangat bergantung pada kina, sehingga membudidayakannya secara besar-besaran. Menariknya, pada awal abad ke-20, Hindia Belanda menjadi produsen kina terbesar di dunia, menyelamatkan ribuan nyawa dari kematian akibat malaria, dan menjadikan Indonesia bagian penting dalam sejarah medis global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Patanjala