INDOZONE.ID - Batik Indo-Eropa atau yang lebih dikenal dengan Batik Belanda, merupakan batik khas yang dibuat oleh wanita Eropa atau wanita blasteran Indonesia Belanda.
Diperkirakan batik ini mulai muncul pada tahun 1840-an, yang kemudian menjadi sangat populer di tahun 1890-1910.
Latar belakang munculnya batik ini tentu tidak luput dari adanya wanita-wanita Eropa yang tinggal di pesisir utara Jawa, seperti Pekalongan, yang memiliki ketertarikan terhadap batik khas Jawa.
Keunikan dan keindahan yang dimiliki oleh batik Jawa menjadikan mereka untuk membuat batik mereka sendiri, yang sesuai dengan selera dan latar belakang budaya mereka.
Beberapa tokoh yang terkenal sebagai pelopor batik Belanda adalah Carolina Josephina Fanquemont, Catharina Carolina van Oosterom, serta keluarga Metzelaar dan Van Zuylen.
Salah satu tokoh tersebut yang terkenal karena desain batiknya yang khas, adalah Fanquenmont.
Baca Juga: Mengapa Batik Begitu Istimewa Hingga Jadi Warisan Dunia?
Ia mengembangkan motif-motif Eropa pada kain batik dan juga penemuan warna hijau yang tahan luntur dari zat warna nabati, yang kemudian dikenal sebagai "hijau Franquemont".
Awalnya, batik-batik ini hanya digunakan secara eksklusif oleh kalangan Belanda dan Indo-Belanda.
Namun, keunikan dan keindahan yang dimiliki menjadikan masyarakat Tionghoa dan sebagian bangsawan Jawa, ikut tertarik hingga popularitasnya pun semakin meluas.
Motif Batik Belanda sangat kontras dengan batik tradisional Jawa, karena mengambil inspirasi dari budaya Eropa.
Batik ini menampilkan ciri khas berupa motif bunga Eropa (buket) yang indah, figur-figur dari cerita rakyat Eropa, serta binatang-binatang khas Eropa.
Selain itu, Batik Belanda cenderung menggunakan warna-warna yang lebih cerah dan gaya visual Eropa abad ke-19 yang lebih bebas dan naturalistik dalam komposisinya.
Meskipun demikian, teknik pengisian latar belakang (isen-isen) seringkali masih mengadopsi gaya Jawa, seperti penggunaan cecek dan sawut, menunjukkan adanya perpaduan unik antara elemen Eropa dan Jawa dalam satu karya batik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Rojak, M. F. A. (2023). Jaringan Perdagangan Batik