Topi bambu dipakai tentara kolonial.
INDOZONE.ID - Tahukah kalian, bahwa dalam catatan sejarah, Tentara Kolonial Hindia Belanda (KNIL) pernah menggunakan perlengkapan perang yang dibuat di Tangerang?
Lalu bagaimana asal muasal serta perkembangan topi bambu yang dibuat Tanggerang ini dapat digunakan oleh KNIL?
Sejarah penerapan topi “Bamboohoed” atau Topi Bambu ini bermula dari penggunaan topi shako, yakni sebuah helm yang terbuat dari gabus mengalami beberapa laporan kekurangan selama kampanye militer di Aceh.
Baca Juga: Legenda Roche Braziliano, Perompak Bengis dari Belanda yang Menghilang Secara Misterius
Kekurangan topi shako diantaranya adalah kurang efektif dikarenakan leher tidak cukup terlindung dari sinar Matahari.
Bagian depan topi shako terkadang memberikan kendala saat membidik, serta logam pada helm bersinar begitu terang di bawah sinar matahari sehingga musuh dapat melihatnya dan berat helm yang terlalu berat.
Hal ini membuat terjadinya peralihan dari topi shako ke topi bambu terjadi, hal ini disebabkan karena topi bambu cukup praktis di tengah panas terik di daerah tropis.
Meskipun pada awalnya tidak diterima begitu saja, karena adanya persyaratan bahwa prajurit harus menunjukkan penampilan militer.
Pada akhirnya topi ini diperkenalkan dengan beberapa kali perbaikan dan perubahan yang dilakukan diantara tahun 1905 hingga 1915.
“Bamboohoed” atau Topi bambu ini secara umum dibuat di Tangerang, dan dalam penggunaannya oleh KNIL mulai diadopsi pada tahun 1905, namun secara resmi diterapkan pada tahun 1910 berdasarkan Keputusan Pemerintah dari Batavia-Buiten tentang penggantian topi helm dengan topi bambu.
Secara spesifik topi ini awalnya diproduksi dengan keadaan berwarna cokelat, lalu berubah hijau setelah tahun 1930-an.
Spesifikasi topi secara ciri-ciri adalah memiliki bermahkota dalam, bertepi lebar, dan terbuat dari serat tenun dari bambu, dengan pinggirannya memiliki trim kulit berwarna cokelat, dan kancing tekan untuk menahan kedua sisi terlipat pada mahkota.
Yang terakhir memiliki dua lubang ventilasi, dan tali kulit berwarna cokelat serta tali dagu yang melengkung, dan di bawah pinggirannya terdapat tali pengikat tiga warna yakni kokarde dari kulit dengan warna nasional Belanda biru, putih, dan merah di tengah, posisinya dapat diletakan sisi kiri atau kanan.
Dalam penggunaannya di lapangan, topi bambu ini nyatanya memiliki beberapa kekurangan. Diantaranya topi ini cukup lemah dan tidak dapat mempertahankan bentuknya.
Selain itu potongan jalinan bambu yang sangat tipis tidak cukup menahan cat dan lembab, berakibat timbulnya jamur dan juga berbau pada topi
Seringkali harus dibersihkan dengan air dan sabun jika sudah kotor, berminyak atau berdebu pada jalinan bambu, meskipun dengan berbagai kekurangannya.
Topi ini tetap digunakan oleh KNIL dengan varian warna cokelat, bahkan topi ini tetap digunakan hingga pasca dibubarkannya KNIL secara keseluruhan pada tahun 1942.
Banyak tawanan tentara KNIL tetap menggunakan topi bambu walaupun dengan kekurangan yang dimiliki oleh topi bambu ini.
Baca Juga: Fakta Pernikahan Terlarang di Hindia Belanda: Wanita Pribumi Bisa Kehilangan Haknya Bahkan Disebut Tidak Bermoral
Topi bambu hijau milik KNIL menjadi sangat langka karena keadaan perang, selain itu pasca perang topi KNIL tidak lagi dibuat, diimpor atau dipakai di tentara KNIL dan tergantikan oleh perlengkapan baru berdasarkan perlengkapan Inggris dan Amerika.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: De Bamboehoed Van Het K.N.I.L