Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 07 MEI 2024 • 17:35 WIB

Kisah Incas, Sang Burung Parkit Carolina Terakhir di Muka Bumi

Kisah Incas, Sang Burung Parkit Carolina Terakhir di Muka BumiBurung parkit carolina

INDOZONE.ID - Halo sobat kicau mania, buat kalian yang punya peliharaan burung, tentunya sudah nggak asing sama yang namanya burung parkit.

Burung yang dikenal dengan bulu indahnya ini memiliki sifat dan perilaku unik. Karena masih satu spesies dengan burung beo, parkit juga memiliki kemampuan untuk menirukan suara. Hal tersebut didukung dengan tingkat kecerdasannya yang tinggi.

Parkit juga dikenal sebagai burung yang aktif, mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan memiliki kedekatan emosional yang erat dengan pemiliknya. Dua sifat itulah yang membuat burung parkit kerap dijadikan hewan peliharaan oleh sejumlah orang.

Ngomong-ngomong soal burung parkit, ada sebuah kisah mengenai salah satu spesies burung parkit terakhir di muka Bumi yang punah di tahun 1918. Seperti apa kisahnya? Mari kita bahas bersama.

Baca Juga: Fakta-fakta Pemakaman Ekstrem Orang Tibet, Jenazah Dipotong untuk Disantap Burung Nasar

Kisah Incas, Burung Parkit Carolina Terakhir di Muka Bumi

Kisah Incas, Sang Burung Parkit Carolina Terakhir di Muka BumiIlustrasi burung parkit carolina

Namanya adalah Incas, seekor burung parkit carolina bernama Latin "conuropsis carolinesis". Burung parkit carolina dikenal dengan kepalanya yang berwarna kuning cerah, wajahnya berwarna jingga dan paruh berwarna putih pucat. Karena ciri khas tampilannya ini warga pribumi menyebutnya sebagai "Puzzi La Nee", "Kelinky" atau "Pot Pot Chee".

Incas pertama kali masuk ke Kebun Binatang Cincinnati pada tahun 1885. Pihak kebun binatang membeli Incas bersama 15 ekor burung lainnya seharga $1.200. Tujuannya adalah untuk mengembangbiakkan spesies parkit carolina di dalam penangkaran kebun binatang.

Incas dimasukkan ke dalam kandang bergaya Jepang yang dilengkapi miniatur pagoda. Kandangnya ini dibuat khusus oleh para pengurus kebun binatang pada tahun 1875. Sebagai bagian dari proses kembang biaknya, Incas yang merupakan seekor burung jantan dipasangkan dengan seekor burung parkit carolina betina bernama Lady Jane.

Pasangan Incas dan Lady Jane termasuk sebagai pasangan yang subur. Mereka bisa menghasilkan 2-3 telur per tahun. Tidak hanya subur, pasangan Incas dan Lady Jane juga tetap hidup bersama selama 32 tahun lamanya, sebelum pada musim panas tahun 1917, Lady Jane menghembuskan nafas terakhirnya. Sementara Incas mati pada 21 Februari 1918 karena faktor cuaca di Cincinnati yang saat itu suhunya mencapai -14oC.

Sekarang yang jadi pertanyaannya adalah bagaimana bisa burung parkit carolina punah bersamaan dengan matinya Incas? Kemanakah anak-anak dari Incas dan Lady Jane pergi?

Jawabannya adalah selama ini pihak penjaga kebun binatang selalu mengambil anak-anaknya Incas dan Lady Jane dengan alasan penelitian. Tapi nyatanya, sampai Lady Jane melahirkan anak terakhirnya, tidak ada satupun dari mereka yang berhasil hidup sampai penelitian tersebut berakhir.

Karena anak-anaknya sering diambil oleh pihak penjaga kebun binatang, Lady Jane dikabarkan sempat mengalami depresi. Karena depresi inilah yang diduga menjadi penyebab utama kematiannya.

Saat Incas dan Lady Jane masih hidup, Kebun Binatang London sempat menawari Kebun Binatang Cincinnati untuk membeli mereka seharga $10.000. Namun sayang, tawaran Kebun Binatang London ditolak oleh pihak Kebun Binatang Cincinnati.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kisah Incas, Sang Burung Parkit Carolina Terakhir di Muka Bumi

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!