Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 12 APRIL 2026 • 15:50 WIB

Kalender Jawa: Sejarah, Asal-Usul, dan Cara Membacanya Lengkap

Kalender Jawa: Sejarah, Asal-Usul, dan Cara Membacanya LengkapIlustrasi. Kalender Jawa, khususnya yang digunakan saat ini, diciptakan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kesultanan Mataram pada tahun 1633 Masehi (1555 Saka). (Nano Banana)

INDOZONE.ID - Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa perayaan penting di masyarakat Jawa, seperti menentukan tanggal pernikahan, mendirikan rumah, hingga selamatan kehamilan, selalu mengacu pada sistem penanggalan yang berbeda dari kalender yang menempel di dinding rumah kita? Di balik deretan angka pada kalender Masehi, terdapat sebuah sistem penanggalan kuno yang menyimpan perhitungan matematis, astronomis, dan spiritual yang sangat presisi. Sistem tersebut adalah Kalender Jawa.

Bukan sekadar penunjuk waktu, Kalender Jawa adalah mahakarya peradaban Nusantara yang memadukan berbagai unsur kebudayaan besar. Artikel ini akan membedah secara komprehensif mengenai Kalender Jawa, mulai dari sejarah penciptaannya, asal-usul, struktur penanggalan, hingga fungsinya yang masih sangat relevan dalam kehidupan masyarakat modern di era digital saat ini.

Baca juga: Selain Masehi, Ini 5 Kalender yang Juga Digunakan Masyarakat Indonesia

Apa Itu Kalender Jawa?

Kalender Jawa adalah sistem penanggalan tradisional yang digunakan oleh Kesultanan Mataram dan berbagai kerajaan pecahannya, serta masih digunakan oleh masyarakat suku Jawa hingga saat ini. Kalender ini memiliki keunikan tersendiri karena merupakan perpaduan harmonis antara penanggalan Islam (Hijriah), penanggalan Hindu-Buddha (Saka), dan penanggalan lokal Jawa asli.

Perbedaan utama Kalender Jawa dengan kalender Masehi (Gregorian) terletak pada dasar perhitungannya. Kalender Masehi didasarkan pada pergerakan bumi mengelilingi matahari (solar/syamsiah), sementara Kalender Jawa mengadopsi sistem pergerakan bulan mengelilingi bumi (lunar/kamariah), persis seperti kalender Hijriah. Namun, sistem penomoran tahunnya tidak mengikuti Hijriah, melainkan meneruskan sistem penomoran tahun Saka.

Siapakah pencipta Kalender Jawa? Sistem penanggalan ini diciptakan dan diresmikan oleh raja terbesar Kesultanan Mataram Islam, yakni Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Kalender Jawa Berasal dari Mana?

Latar belakang sejarah penanggalan Jawa bermula dari kebutuhan politik, kultural, dan keagamaan di tanah Jawa pada abad ke-17. Sebelum Kalender Jawa lahir, masyarakat Jawa khususnya di pedalaman menggunakan Kalender Saka yang berasal dari India. Kalender Saka didasarkan pada pergerakan matahari dan telah digunakan sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha.

Ketika pengaruh Islam masuk dan menyebar luas, masyarakat pesisir dan kaum santri mulai menggunakan kalender Hijriah (berbasis bulan). Dualisme penanggalan ini memicu kebingungan, terutama dalam menentukan hari-hari besar dan upacara adat atau kenegaraan.

Melihat hal ini, Sultan Agung Hanyakrakusuma mengambil inisiatif brilian. Untuk menyatukan rakyatnya yang terbagi antara penganut tradisi Kejawen (pengguna Saka) dan santri Islam (pengguna Hijriah), beliau melebur kedua sistem tersebut. Penggabungan ini diresmikan pada hari Jumat Legi, bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1043 Hijriah atau 8 Juli 1633 Masehi.

Dalam proses akulturasi ini, Sultan Agung mengubah dasar perhitungan kalender dari matahari menjadi bulan (mengikuti Hijriah). Namun, untuk menghormati leluhur dan menjaga kesinambungan sejarah, angka tahunnya tidak diubah menjadi 1043, melainkan meneruskan angka tahun Saka yang saat itu menunjukkan tahun 1555 Saka.

Sejarawan M.C. Ricklefs dalam bukunya A History of Modern Indonesia since c.1200 menyebutkan bahwa reformasi penanggalan oleh Sultan Agung ini merupakan salah satu bentuk sintesis budaya yang paling cerdas dalam sejarah Nusantara, memperkuat legitimasi Mataram sebagai kerajaan Islam tanpa membuang akar budaya lokal.

Baca juga: Cara Menghitung Neptu Tertinggi di Kalender Jawa April 2026 dan Terendah Beserta Maknanya

Kalender Jawa Sekarang Tahun Berapa?

Memasuki tahun 2026 Masehi, banyak yang penasaran Kalender Jawa sudah berada di tahun berapa. Mengingat Kalender Jawa menggunakan siklus perputaran bulan seperti Hijriah, rumus sederhana untuk mengetahui tahun Jawa adalah dengan menambahkan angka tahun Hijriah dengan 512. Angka 512 didapat dari selisih tahun awal penetapan (1555 Jawa dikurangi 1043 Hijriah = 512).

Pada tahun 2026 Masehi, penanggalan Islam berada pada rentang tahun 1447 hingga 1448 Hijriah. Jika dijumlahkan dengan 512, maka sepanjang tahun 2026 Masehi, penanggalan Jawa berada pada rentang tahun 1959 dan masuk ke tahun 1960 Jawa (Tahun Jimawal).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kalender Jawa: Sejarah, Asal-Usul, dan Cara Membacanya Lengkap

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!