Ilustrasi Seorang Ibu yang Sedang Meniup Kepala Sang Anak (AI/Gemini)
INDZONE.ID - Apa itu “Jopa Japu Tai Asu”? Frasa ini belakangan kembali ramai diperbincangkan di media sosial dan kerap digunakan sebagai ungkapan spontan bernuansa humor.
Meski terdengar nyeleneh dan terkesan kasar, istilah ini sebenarnya memiliki latar penggunaan yang unik, terutama dalam pengalaman masa kecil dan budaya lisan masyarakat Jawa.
Baca juga: Kolese Xaverius, Kolese Jesuit Pertama di Muntilan Dalam Mendidik Pribumi sejak 1902
Bagi sebagian orang, frasa “jopa japu tai asu” bukanlah hal baru. Kalimat ini kerap diucapkan orang tua saat anaknya merasa kesakitan, misalnya ketika terjatuh atau terbentur.
Biasanya, orang tua akan mengusap bagian tubuh yang sakit sambil mengucapkan kalimat tersebut, lalu meyakinkan si anak bahwa rasa sakitnya akan hilang.
Dalam versi lain yang beredar, kalimat lengkapnya berbunyi kurang lebih,
“Jopa-japu nambani silit asu. Waras yo karepmu, ora yo karepmu.”
Secara bebas, maknanya dapat diartikan sebagai ungkapan bercanda yang kurang lebih berarti, menyembuhkan atau tidak, itu terserah.
Baca juga: Engku Mohamma Sjafei, Pelopor Pendidikan Pribumi dari Sumatera Barat yang Luput dari Spotlight
Tidak ada unsur medis atau logika penyembuhan di dalamnya. Namun, bagi anak kecil yang percaya pada sugesti orang tua, kalimat tersebut sering kali terasa “ampuh”.
Fenomena ini sebenarnya lebih dekat pada upaya menenangkan anak yang menangis, bukan benar-benar mantra penyembuhan.
Mirip seperti orang tua yang pura-pura memarahi meja karena anaknya tersandung, tujuannya adalah mengalihkan perhatian dan memberikan rasa aman.
Sebagian orang yang pernah mendengar atau mengucapkan kalimat ini saat kecil mengaku baru menyadari setelah dewasa bahwa hal tersebut termasuk bentuk sugesti atau bahkan tahayul.
Meski demikian, dalam banyak kasus, penggunaannya lebih bertujuan untuk menghibur daripada benar-benar meyakini kekuatan mistisnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Tumbler/@fri-die, Blogger/@agusmulyadi