Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 14 DESEMBER 2025 • 15:30 WIB

Tionghoa Muslim di Indonesia : Sejarah dan Identitas

Tionghoa Muslim di Indonesia : Sejarah dan IdentitasSejarah Muslim Tionghoa di Indonesia. (Sumber: Islamadina.org)

INDOZONE.ID - Sejarah Muslim Tionghoa di Indonesia menyimpan kisah yang panjang dan kompleks. Fakta ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa identitas Tionghoa dan Islam tidak dapat berjalan beriringan. Meski bagi sebagian masyarakat Asia Tenggara konsep tersebut terdengar asing, catatan sejarah justru menunjukkan hal sebaliknya. Keberadaan komunitas Muslim Tionghoa di Nusantara bahkan telah tercatat jauh sebelum kedatangan Laksamana Zheng He (Cheng Ho) pada abad ke-15.

Peneliti asal Malaysia, Rosey Wang Ma, yang menaruh perhatian pada studi Muslim Tionghoa, menyebutkan bahwa saat ini terdapat sekitar 60.000 Muslim Tionghoa di Indonesia. Sebagian besar dari mereka merupakan mualaf atau pemeluk Islam yang berpindah keyakinan. Ma tengah mengerjakan proyek penelitian untuk mendokumentasikan kisah-kisah para mualaf tersebut, termasuk alasan perpindahan agama serta dampaknya terhadap kehidupan pribadi, keluarga, dan relasi sosial mereka.

Baca juga: Kalahkan Indonesia, India Bakal Jadi Negara dengan Penduduk Muslim Terbanyak di Dunia

Akar Sejarah yang Panjang

Jejak Muslim Tionghoa memiliki kedalaman historis di Indonesia. Ma Huan, penerjemah Muslim Tionghoa yang mendampingi Zheng He, mencatat bahwa saat rombongan pelayaran melewati Jawa Timur, wilayah tersebut dihuni oleh penduduk lokal non-Muslim, warga asing Muslim, serta orang-orang Tionghoa sebagian di antaranya telah memeluk Islam. Bahkan, Kronik Banten menyebutkan bahwa pendiri Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa, berasal dari kalangan Tionghoa.

Pada masa penjajahan Belanda, gelombang perpindahan agama di kalangan Tionghoa meningkat signifikan, terutama setelah peristiwa pembantaian orang Tionghoa di Batavia pada 1740. Peneliti asal Prancis, Claudine Salmon, mencatat bahwa pemerintah kolonial Belanda berupaya membatasi orang Tionghoa untuk memeluk Islam. Langkah ini diambil karena perpindahan agama dianggap dapat mengurangi jumlah penduduk yang dikenai pajak serta mempermudah asimilasi dengan masyarakat lokal. Kebijakan segregasi tersebut turut melanggengkan anggapan bahwa identitas Tionghoa dan Muslim sulit disatukan.

Meski menghadapi berbagai pembatasan, proses perpindahan agama tetap berlangsung. Hingga akhir abad ke-19, istilah “peranakan” kerap digunakan untuk menyebut Muslim Tionghoa sebelum akhirnya mereka membaur dengan masyarakat luas.

Jejak di Situs Keagamaan

Sejarah Muslim Tionghoa juga tercermin dalam keberadaan situs-situs keagamaan. Masjid Pacinan di Banten dan Masjid Kebon Jeruk di Jakarta telah melayani komunitas Peranakan sejak abad ke-18. Sementara itu, Masjid Cheng Ho di Surabaya yang diresmikan pada 2003 menjadi tonggak penting sebagai masjid pertama di Indonesia yang menggunakan nama tokoh Muslim Tionghoa.

Masjid ini mengadopsi desain yang terinspirasi dari Masjid Niu Jie di Beijing dan sarat makna simbolis. Puncak pagoda berbentuk segi delapan melambangkan angka keberuntungan dalam budaya Tionghoa, sementara lima lantainya merepresentasikan lima rukun Islam.

Harmoni dan Tantangan Masa Kini

Masyarakat Tionghoa telah lama berbaur dengan penduduk lokal di Indonesia. Mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur bahkan pernah menyebut dirinya sebagai keturunan Tan Kim Han, duta besar Muslim Tionghoa dari Dinasti Ming untuk Majapahit. Praktik kerukunan antarumat beragama juga tampak di sejumlah lokasi, seperti kramat di tempat ibadah Tionghoa, termasuk Hok Cheng Bio di Palembang dan Gedung Batu di Semarang.

Saat ini, organisasi seperti PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) dan Yayasan Haji Karim Oei berperan aktif dalam mendampingi komunitas Muslim Tionghoa. Yayasan Haji Karim Oei yang berdiri sejak 1988 tercatat telah membantu sekitar 2.000 mualaf di Indonesia, dengan sekitar 90 persen di antaranya berasal dari kalangan Tionghoa.

Baca juga: Sejarah Masuknya Islam ke China dan Peran Tokoh Muslim di Dinasti Ming

Meski demikian, tantangan masih dihadapi para mualaf Tionghoa. Perpindahan keyakinan kerap memicu ketegangan dalam keluarga, seperti yang dialami Merry Effendi dari Palembang. Di sisi lain, mereka juga tak jarang menghadapi kecurigaan dari masyarakat sekitar maupun dari komunitas Tionghoa non-Muslim. Ada anggapan bahwa perpindahan agama dilakukan karena alasan politik, ekonomi, atau keamanan, bukan atas dasar keyakinan spiritual.

Bahkan, anak-anak dari keluarga mualaf Tionghoa terkadang mengalami perundungan di sekolah berbasis Islam karena penampilan fisik yang dianggap berbeda.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, upaya penyatuan identitas terus dilakukan. Salah satunya melalui Pesantren Mutiara Hati Beriman di Salatiga yang dibangun oleh Iskandar Abdurrahman dengan desain menyerupai pagoda. Inisiatif ini menjadi simbol usaha memadukan identitas Tionghoa dan Islam tanpa menghilangkan salah satunya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Academia.edu

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Tionghoa Muslim di Indonesia : Sejarah dan Identitas

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!