INDOZONE.ID - Di tengah Kota Tokyo, dikelilingi oleh gedung pencakar langit menjulang tinggi dan jalan-jalan yang ramai, terdapat Kuil Yasukuni.
Kuil ini merupakan tempat perlindungan yang tenang yang telah menjadi simbol peringatan dan kontroversi.
Keberadaanya didedikasikan untuk arwah mereka yang telah mati demi Jepang dalam dinas. Kuil ini telah menjadi tonggak patriotisme dan identitas nasional, namun juga telah menjadi sumber perselisihan internasional yang panas.
Asal-usul Yasukuni dapat ditelusuri kembali ke Restorasi Meiji tahun 1868, ketika Jepang memulai periode modernisasi dan ekspansi yang cepat.
Baca juga: Konflik Berkepanjangan Kashmir, Babad India dan Bangladesh Memperebutkan Secuil Surga
Kuil ini didirikan pada tahun 1869 untuk mengenang para prajurit yang gugur dalam Perang Boshin, sebuah konflik yang menggulingkan keshogunan Tokugawa feodal dan usher di era modern pemerintahan kekaisaran.
Seiring meningkatnya ambisi militer Jepang, jumlah tentara yang diabadikan di Yasukuni juga meningkat.
Pada akhir Perang Dunia II, daftar kuil tersebut mencakup lebih dari 2,4 juta nama, termasuk nama-nama penjahat perang yang telah dihukum dan pelaku kekejaman yang dilakukan selama perang.
Salah satu aspek paling kontroversial dari Kuil Yasukuni adalah penempatan roh para penjahat perang kelas pertama dan kedua di dalamnya.
Baca juga: Kiprah NU di Masa Penjajahan: Dari Politik Non-Kooperatif hingga Pendidikan Melawan Belanda
Ini termasuk 14 tokoh utama yang dihukum oleh Sekutu karena kejahatan perang pasca-Perang Dunia II.
Beberapa dari mereka yang menjadi sumber kontroversi di Kuil Yasukuni adalah:
Baca juga: Petisi Sutardjo: Harapan yang Ditolak, Namun Menginspirasi Gerakan Nasional
Baca juga: Mengenal Tiga Prinsip Rakyat: Warisan Sun Yat-sen yang Membentuk Tiongkok Modern
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Spokesman.com